˚✩彡
Empat hari telah berlalu. Ralat, empat hari yang hanya di penuhi oleh jadwal latihan telah berlalu.
Gue dan Ginting makin sering ngobrol bareng, kebanyakan bercanda sih lebih tepatnya. Nothing too serious. Kadang dia nyebelin, gue jengkel, dia minta maaf, dan gitu-gitu aja karna emang dia latihan terus. Sekarang sudah hari selasa. Hari ini Japan Open 2018 akhirnya akan dimulai.
Seperti biasa, gue bangun jam lima pagi untuk melakukan morning call.
Karena gue sudah super bosan dengan sarapan hotel yang gitu-gitu aja, gue memilih untuk pergi ke family mart dekat hotel.
Jarak dari hotel ke family mart engga jauh. Sampai di family mart, gue mengambil 1 buah onigiri, dan beranjak ke kulkas minuman untuk ngambil soda ramune favorit gue.
"Ga baik, minum soda pagi-pagi"
Suara khas itu muncul dari belakang gue, yang tentu membuat gue menoleh ke arah belakang. And yes, as you all thought, seorang Anthony Ginting berdiri dj belakang gue dengan satu bungkus lays di tangan kanan nya.
"Ngapain, Kyka? " tanya nya.
"Beli sarapan" jawab gue sambil meninggalkan kulkas minuman, dan mengambil satu botol air mineral. "Lo?" tanya gue balik.
"Lagi penat. Pengen makan aja" balasnya.
Gue hanya menganggukan kepala. Pagi ini Ginting terlihat lebih serius. Ya bener sih, sesuai ucapan nya. He looks stressed.
Selesai membayar, gue berniat untuk kembali balik ke hotel. "Udah? " tanya Ginting. Gue menganggukan kepala lagi. "Duduk disitu bentar yuk?"ajak nya.
Gue hanya mengikuti dia dari belakang, dan duduk disamping dia. "Dingin? bentar aja deh" ucapnya sambil membuka plastik lays dan mulai makan.
"L-lo gaboleh makan itu" larang gue. Karena gue tau, dokter gizi bakal memarahinya kalau dia makan makanan bermicin.
"Kyka, sekali-kali ngobrol sama gue sebagai temen dong, jangan kayak temen-temen gue yang lain. seriusin tanding mulu, gue bosen" katanya, sambil sesekali melahap lays yang ada di tangan nya.
Gue jujur kurang mengerti apa yang dia bicarakan. Sebagai temen gimana maksudnya? "Lagi ada masalah lo?" tanya gue, sekalian membuka plastik onigiri gue.
Ginting orangnya agak malu-malu. Beda dengan Jojo yang lebih percaya diri, kadang Ginting hanya menjawab pertanyaan dengan tawaan khasnya, dan jarang membawa sebuah percakapan menjadi serius.
"Banyak. Gue gaenak badan. ditambah hari ini mulai tan-" ucapan Ginting terputus. "Tunggu, lo dingin? " tanya nya. Gue menggelengkan kepala. Padahal its cold as hell and i'm kind of suffering.
Dengan satu gerakan yang tiba-tiba, kepala ginting bersandar di pundak gue. "Gini dulu gapapa?" tanya dia lagi, memastikan apakah gue keberatan dengan aksi nya atau tidak.
As a normal girl, gue tiba-tiba deg-degan bukan mampus. "I-iya gapapa, lanjut tadi mau ngomong apa lo" ucap gue.
Ginting akhirnya membuka suara lagi. Ternyata ia sedang merasa kalau ada terlalu banyak beban di pundaknya untuk tournament kali ini. Ia juga bilang ke gue bahwa di babak ke 2 dirinya akan langsung melawan Jojo, teman satu pelatnasnya, dan ia kurang percaya diri.
Setelah curhat dengan panjang lebar, matahari mulai muncul menandakan kita sudah agak lama duduk di sini. "Balik yuk? " ajaknya. Gue meng-iyakan dan langsung beranjak dari bench.
Sampai di hotel, Kita berdua jalan bersampingan hingga sampai di depan pintu kamar gue.
Saat gue hendak menutup pintu kamar, gue merasa seperti ada yang kurang. Alhasil gue kembali membuka pintu kamar, lalu menengok ke lorong untuk melihat Ginting yang sedang membuka pintu kamar hotelnya.
"Ginting!" panggil gue. dia menengok.
"Goodluck ya, nanti"
ia tersenyum ke arah gue, dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
˚✩彡
KAMU SEDANG MEMBACA
volunteer
FanfictionJapan Open 2018, and everything in between started : aug 2018 , completed : feb 2019 [under maintenance + 2021 after story in progress] cover illustrated by Masashi Shimakawa
