Rasanya aneh.
Rasanya tidak adil.
Ketika yang lain bisa mendapatkan apa yang dia mau. Mengapa aku tidak?.
Mengapa aku selalu bernasib sial? Mengapa aku harus menangis setiap malam saat semua orang sedang bersenang - senang.
Saat aku mencoba tersenyum dan kembali bersemangat menjalani hari. Tiba - tiba masalah datang lagi.
Siklusnya seperti ini, tersenyum, masalah datang dan depresi lagi. Dan sayangnya, selalu terulang saat aku sudah beranjak mulai bahagia.
Tak ada perubahan, mereka masih tetap tidak membutuhkanku. Kupikir, ini akan terus berlanjut sampai aku tak ada di dunia lagi.
Benar, aku akan terbunuh keterpurukanku sendiri. Tak ada lagi kata optimis. Hanya ada kata pesimis.
Rasanya hancur. Hancur saat kita sudah berharap besar. Lalu di musnahkan begitu saja tanpa alasan.
Bagi mereka aku hanya abu, yang jika di tiup sudah tidak ada lagi.
Lama kelamaan aku sangat lelah. Seperti ingin hidup, tapi tak tau tujuan hidup. Semua sudah hancur. Cita - cita yang kini tak bisa di capai. Harapan yang sama sekali tak akan terwujud. Tenggelam dalam masalah yang tentu tak bisa di selesaikan.
Terima kasih wahai kawan. Kali ini aku tak akan bercerita apapun lagi. Setelah terbunuh keterpurukan, biarkan aku terbunuh oleh harapan.
Dari aku yang sedang berusaha mati.
💡💡💡
Mohon maaf kepada para readers Yudhistira. Beberapa part catatan Yudhistiara akan terus di post karena author sedang tidak bisa menulis. Keadaan author sedang dalam depresi berat. Maaf sekali lagi, jika tidak suka catatan Yudhistiara maka lewati saja. Mohon maklum, Author sedang dalam masa keterpurukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
YUDHISTIRA
Teen FictionIni bukan cerita seorang perempuan perfect yang di paksa menjadi pacar seorang most wanted. Bukan juga cerita bad girl yang bertemu anak rajin yang bakal merubah sikap si bad girl itu. Bukan juga kisah cinta yang rumit milik bad boy sekolah. Ini h...
