"Kerikil tajam menancap pada tumpuan hidupnya menggores luka. Meski kerikil tajam itu ditanggalkan, tetap saja luka yang memang teramat dalam tak mudah disembuhkan."
***
Di hadapan cermin Davka memandang pantulan dirinya. Cukup lama, ia beralih pandang pada tangannya yang penuh luka. Sesal, mungkin itu yang Davka rasakan. Ia benci melakukan hal seperti itu lagi, tapi hasrat dalam dirinya tak pernah bisa ia lawan. Nyatanya ada sedikit kelegaan saat ia berhasil melampiaskan semua rasa yang bergejolak dalam hatinya.
Davka mengambil jaket di lemari untuk dipakai. Lelaki itu meringis kala lengan yang terluka tergesek jaket. Dengan gerakan pelan akhirnya Davka bisa mengenakannya.
Sekali lagi Davka berhadapan dengan cermin, menumpu tangan pada meja di depannya. Ia mengukir senyum kala berhasil menyimpulkan siapa sosok lelaki yang tengah berhadapan dengannya, memasang ekspresi serupa.
"Nyatanya lo emang bukan siapa-siapa, Ka," gumam Davka. Ia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Untung aja lo punya wajah cakep."
Merasa cukup meratapi nasib, lelaki itu keluar dari kamar untuk menemui keluarganya di ruang makan.
***
Dini tersenyum kala melihat Davka akhirnya datang. Wanita paruh baya itu menunjuk kursi kosong di sampingnya dengan dagu, meminta Davka untuk duduk di sana. Davka membalas senyuman dari sang bunda lantas berjalan mendekat.
"Pagi Pa, Ma, Kak," sapa Davka seraya menarik kursi di sebelah Dini. Semua menjawab sapaan Davka, kecuali Arza. Lelaki itu memilih sibuk dengan sarapan dan handphone-nya.
"Pagi. Sini duduk!"
"Akhhh," Davka memekik keras saat Dini memegang dan menarik lengannya ke bawah. Niatnya untuk meminta Davka duduk.
Seketika Dini melepas tangan Davka, "kenapa, Ka?" Tanyanya dengan wajah yang berubah cemas.
"Emm, ng..ngak papa. Nggak papa kok, Ma," berpura baik-baik saja, Davka memaksa senyum. Ia mendudukkan dirinya di kursi, bersikap biasa saja tak ingin keluarganya tahu apa yang tengah ia sembunyikan.
"Nggak papa gimana? Itu tadi kamu teriak."
"Lebay," sindir Arza, muak dengan Davka yang menurutnya selalu mencari perhatian. Davka menatap Arza sedikit tak suka, tapi akhirnya ia tak acuh. Toh Arza memang selalu bersikap seperti itu padanya.
"Nggak papa kok, Ma. Mama lanjut aja sarapannya."
Meski masih sedikit ragu, Dini akhirnya mengiyakan . Davka mengambil sarapannya dan mulai menikmati.
Firman yang tak lepas mengamati tingkah Davka sedikit menduga-duga. Melihat lelaki itu yang terus menggerak-gerakan tangan kirinya dengan raut menahan sakit membuat Firman berasumsi ada yang tidak beres dengan Davka.
"Davka," Davka mengangkat kepalanya mendengar panggilan sang ayah.
"Iya Pa?"
"Ikut papa! Ada yang perlu papa bicarakan sama kamu," Firman bangkit berniat untuk meninggalkan ruang makan, tapi suara Dini menghentikan langkahnya.
"Davka belum selesai sarapan," ucap Dini.
"Sebentar," Firman melanjutkan langkah sementara Davka mengekor di belakang.
***
Davka berada si ruang kerja Firman, berdiri berhadapan dengan sang ayah. Tiba-tiba ia merasa cemas. Ia takut Firman akan melontarkan bermacam pertanyaan padanya, apalagi pasal luka di lengan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Neglectus
Teen Fiction*Colaboration story by: lyndia_sari dan UmiSlmh **** Davka merasa hidupnya terombang-ambing, berjalan tanpa tahu arah tujuan, bahkan seperti sendiri dalam keramaian. Orang bilang Davka aneh, Davka bodoh, Davka tak berguna, Davka gila, dan anggapan-a...
