16- Terjebak Rasa

3.9K 461 40
                                        

"Tuhan adalah pendengar terbaik. Tak perlu berteriak meminta, bahkan do'a sunyi dari hati yang tulus akan didengar-Nya."

***

"Arza."

Suara berat Firman menghentikan langkah Arza. Lelaki itu menoleh ke ruang makan, berjalan tak niat menghampiri sang ayah yang tengah sarapan pagi bersama Davka dan Dini.


"Sarapan dulu! Kemarin kamu juga nggak sarapan," lanjut Firman setelah Arza sampai. Pria berjas kantoran itu menghela napas kasar saat mendapat tatapan tak mengenakkan dari putranya. Binar kasih sayang yang dulu selalu ia temukan dalam manik Arza bahkan tak dapat lagi ia reka.

"Aku nggak laper, Pa. Hari ini ada kepentingan, jadi harus berangkat awal." Arza beranjak dari tempat itu, membuat Firman sedikit kesal. Dini mengelus bahu sang suami, mencoba menenangkannya yang tampak mulai emosi.

"Sudahlah, Mas. Mungkin Arza memang buru-buru," ucap Dini.

Kedua suami istri itu terhenyak mendengar gesekan kursi dengan lantai, dihasilkan oleh Davka yang terdiri dari tempatnya.

"Ma, Pa, Davka pamit berangkat dulu," ucap Davka, menyalami Firman dan Dini, kemudian berjalan cepat keluar dari rumah.

"Kak Arza," panggil Davka setelah sampai di pelataran. Arza yang baru saja akan menaiki motor terpaksa berhenti karena mendengar panggilan itu.

Davka berlari menghampiri Arza, memposisikan diri di depan lelaki itu. Tak nyaman, Arza membuang muka, enggan memandang Davka sama sekali.

"Gue pengen ngomong sama lo, Kak."

"Gue nggak ada waktu buat lo." Arza bersiap menaiki motor, tapi gerakannya terhenti saat Davka menahan pergelangan tangannya. Ia sontak menepis tangan Davka, seakan tak sudi jika lelaki itu menyentuhnya.

"Sebentar aja, Kak. Gue cuma pengen bilang, jangan pernah kabur lagi dari rumah! Mama bakal sedih kalau lo begini, Kak. Gue janji, gue nggak akan lama lagi ganggu hidup lo." Davka tersenyum kecil, mengembuskan napas pelan.
"Kalau lo marah, lo bisa pukul gue sepuas yang lo mau kayak waktu itu. Lo bebas melampiaskan marah lo ke gue, gue nggak akan ngelawan. Tapi tolong jangan seperti orang asing di depan mama dan papa! Tetap jadi Kak Arza yang buat mereka bangga, yang buat mereka bahagia. Lo cuma butuh sabar sedikit lagi, Kak. Sedikit lagi sampai gue bener-bener siap untuk pergi."

Davka mundur beberapa langkah, berbalik, berjalan--setengah berlari--menuju mobilnya, meninggalkan Arza yang terpaku di tempat.

Arza mengepalkan tangan yang berada di atas jok motor. Ada rasa aneh yang menyentil hatinya, dan ia tak suka itu. Teringat akan kejadian beberapa waktu lalu, saat ia menghabisi Davka hingga berakhir di rumah sakit. Jujur saat itu pikirannya tengah kalut, penuh sesak akan amarah yang membuncah.

Terlalu takut, bahkan ia tak berani menginjakkan kaki ke rumah setelah kejadian itu. Membayangkan murka sang ayah ketika mengetahui penyebab Davka masuk rumah sakit pernah membuatnya hampir gila.

Namun, tidak. Bukan amarah sang ayah, tapi justru tangis bahagia sang bunda dan belaian wanita itu yang ia dapat saat memutuskan kembali ke rumah. Dan saat itu juga Arza merasa Davka begitu bodoh. Bodoh karena diam saja setelah jelas-jelas ia yang melukainya.

***

"Baik, ayo kumpulkan PR yang ibu beri kemarin!"

Semua anak bergegas mengeluarkan buku catatan masing-masing, mengumpulkan tugas matematika yang Bu Gita beri.

NeglectusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang