Praaaakkkk!
Suara piring pecah dari ambang pintu. Refleks semua mata menuding ke arah pintu. Tampak Chan Hee sedang berdiri kaget hingga piring berisi buah-buahan potong yang dipegangnya jatuh ke lantai dan isinya berhamburan.
"Kau bicara apa baru saja?" bentak Abeoji kepada Yong Hwa marah tak terkira.
Yong Hwa menelan ludah, ia tak menyangka dengan reaksi adik tirinya mendengar penuturannya itu. Tapi kepalang tanggung. Faktanya memang seperti itu.
"Kenapa hal benar itu harus ditutupi? Memang sebaiknya dia tahu apa yang sebenarnya terjadi." balas Yong Hwa.
"JUNG YONG HWA...!!!" teriak Abeoji sambil berdiri dari kursinya.
Sementara Chan Hee berlari keluar.
"Sayang..." ibunya akan menyusul tapi prakk... Abeoji sekarang melempar gelas begitu kesal.
Langkah istri Abeoji tertahan. "Cukup, Yeobo! Jangan dilanjutkan bertengkar dengan putramu. Ini hari ulang tahunmu..." teriaknya berbalik kepada suaminya khawatir mereka semakin anarkis.
"Aku selama ini sudah bersabar menghadapi sikapmu. Tapi kau semakin kurang ajar!" raung Abeoji.
"Aku selalu belajar dari apa yang Abeoji contohkan. Jadi Abeoji jangan berharap banyak padaku." Yong Hwa membalas tak kalah sengit.
Shin Hye gemetar berada diantara ayah dan anak yang sedang bertengkar itu.
"Tapi aku tidak menikahi seorang pembunuh, aku tidak menikahi mantan narapidana sepertimu." Abeoji tiba-tiba menunjuk Shin Hye.
"Tidak ada bedanya diantara mereka, Abeoji. Karena walau istri Abeoji bukan pembunuh dan mantan narapidana, tapi tingkah lakunya sama seperti pembunuh. Ibukulah yang telah dia bunuh oleh perselingkuhannya denganmu." Yong Hwa semakin keras.
"Anak kurang ajar..." Abeoji menyambar tempat air minum kaca untuk ia lempar kepada Yong Hwa tapi segera ditahan oleh istrinya.
"Andwe! Andwe, Oppa!" jeritnya.
Shin Hye semakin menggigil menyaksikan hal itu.Dan sebelum hal lebih anarkis terjadi ia segera berlari keluar. Pertengkaran itu sangat menakutinya. Terlebih ayah mertuanya menyinggung dengan teramat murka statusnya. Benderanglah sudah segalanya sekarang. Mengapa Yong Hwa hanya datang sendiri kala menikahinya? Karena ayahnya tidak merestuinya. Sebab dirinya adalah mantan narapidana. Shin Hye keluar melewati pintu gerbang. Rumah itu sendiri berhalaman luas, cukup jauh jarak dari rumah ke pintu gerbang. Keluar dari gerbang pun adalah jalanan komplek yang sepi. Butuh beberapa menit untuk mencapai jalan raya. Pada bangku di bawah pohon beberapa kelokan dari rumah, Shin Hye melihat sosok pemuda yang tengah duduk sendiri. Semakin dekat terlihat remaja itu seperti tengah menangis. Dia adalah Chan Hee. Shin Hye menghampirinya.
Anak itu pasti terpukul mendengar penuturan Yong Hwa yang kasar, makanya sampai menangis. Ibunya tidak bisa menenangkannya sebab harus melerai ayah dan anak yang bertengkar.
"Chan Hee-ya... Kau disini rupanya. Boleh Noona ikut duduk?" Shin Hye menghampirinya.
Matanya yang penuh air itu menatapnya. Lalu terlihat tangannya menyeka. Shin Hye meletakan pantat di sampingnya.
"Atas nama Hyung, Noona ingin meminta maaf. Hyung tidak sungguh-sungguh mengatakan itu." ucapnya tidak tega melihatnya menangis. Apalagi sedari awal anak ini begitu takut oleh Yong Hwa.
"Kenapa Noona keluar sendiri? Kemana Hyung?" Chan Hee tidak percaya hyung-nya tidak sungguh-sungguh dengan tuduhannya.
"Hyung masih di rumah."
"Lalu kenapa Noona pergi sendiri meninggalkan Hyung?" ia bertanya seraya mengusap matanya lagi. "Apa Hyung juga menyakiti Noona?" terkanya curiga.
"Justru Noona yang menyakiti Hyung." pintas Shin Hye membuat anak itu menolehnya.
"Ye, Noona yang lebih banyak mengecewakannya selama ini. Makanya Hyung sering marah terhadap Noona."
Chan Hee terdiam seperti mencerna jawaban Shin Hye, sebelum kemudian bertanya lagi.
"Apa memang yang Noona lakukan terhadap Hyung?"
"Banyak hal. Dan itu sangat Noona sesali."
"Apa Noona sangat mencintai Hyung?"
"Sama sepertimu sangat mencintai Hyung-mu, Chan Hee-ya. Makanya begitu sedih dan terluka ketika dia mengatakan hal yang tidak kita suka. Oleh karena itu Noona selalu tidak menganggap apa yang dikatakannya bila itu kasar dan menyakitkan, walau Noona pun selalu saja menangis. Rupanya karena Noona tidak ingin mengecewakannya."
Chan Hee tampak terdiam. Sulit mencerna kata-kata bersayap Shin Hye.
"Hyung itu selama ini kesepian. Sejak ibunya meninggal, dia tidak memiliki teman untuk berbagi. Hyung ingin marah tapi tidak tahu harus marah kepada siapa. Itu sebabnya dia membenci orang-orang di sekitarnya yang sesungguhnya dia sayangi. Jangan sakit hati bila Hyung tampak seperti membencimu. Hyung hanya tidak tahu cara mengekspresikan kasih sayangnya padamu, adik satu-satunya. Kelak jika Abeoji dan Eomma sudah tiada, hanya Chan Hee satu-satunya yang akan menjadi tumpuan kasih sayangnya, karena Hyung hanya memiliki Chan Hee sebagai adiknya. Percaya dengan yang Noona katakan ini." urainya menjelaskan kalimat bersayapnya tersebut.Chan Hee terdiam dan berhenti menangis. Sepertinya ia mulai mempercayai apa yang Shin Hye katakan. Mungkin benar Yong Hwa sebenarnya tidak membencinya. Selama ini dirinya memang tidak mengenal kakaknya itu, sebab mereka tidak pernah tinggal bersama. Sehingga sebagai kakak dan adik mereka tidak saling mengenal. Tiba-tiba sinar lampu mobil menyorot tajam ke arah mereka. Keduanya memicingkan mata untuk menangkisnya. Mobil itu bergerak mendekat, lalu berhenti tepat di depan mereka.
"Apa kalian sedang saling menghibur?" sindir Yong Hwa dari belakang kemudi. "Kau kembalilah ke rumah, ibumu cemas!" titahnya kepada Chan Hee dengan suara tegas.
Shin Hye menyentuh pundak pemuda itu. "Akan Noona lihat dari sini, pulanglah!" ujarnya lembut.
Chan Hee berdiri. "Gomasmidha, Noona! Sampai jumpa lagi." bungkuknya kepada Shin Hye, sebelum berlalu ia pun membungkuk terhadap Yong Hwa, baru melangkah pergi. Shin Hye menatapnya, terus menatap. Yong Hwa pun menatap adiknya itu dari spion. Dan setelah Chan Hee mendekati rumah, baru Yong Hwa menatap Shin Hye.
"Kau naik!" printahnya.
"Nde." Shin Hye menjawab kemudian menarik pintu mobil. Duduk di samping Yong Hwa seperti saat datang tadi.Dan dadanya terasa berat, mengingat kata-kata yang dilontarkan ayah mertuanya kala bertengkar dengan Yong Hwa. Terngiang di telinganya ucapan ayah mertuanya yang terasa seperti menyilet.
Tapi aku tidak menikahi seorang pembunuh, aku tidak menikahi mantan narapidana sepertimu.
Selama ini dirinya menyadari hal itu, tapi terasa sangat sakit kala mendengar kata-kata itu dilontarkan orang seterhormat mertuanya. Setidaknya dirinya sangat menghormati mertuanya lebih dari orang tuanya sendiri, meski baru saat itu saja mengenalnya. Tapi memang itulah statusnya di tengah-tengah masyarakat tidak bisa dibantah. Pembunuh dan mantan narapidana. Shin Hye memejamkan mata. Yong Hwa sendiri tidak akan membelanya, sebab tujuan dirinya menikahinya jauh lebih kejam lagi dari sekedar itu. Yakni ingin menyiksanya hingga tak berdaya atas apa yang telah ia lakukan terhadap kekasihnya. Sepanjang perjalanan itu ia hanya memejamkan mata namun tidak tidur, merasakan dadanya yang berdenyut nyeri.
🎃Pagi itu, pagi-pagi sekali Yong Hwa sudah bersiap untuk pergi. Padahal hari itu weekend. Dia sudah bersiap seperti akan pergi ke suatu tempat. Hal ini membuat Shin Hye menjadi lebih sibuk mempersiapkan sarapan. Meski penasaran Shin Hye tentu saja tidak bisa bertanya. Hanya memperhatikan diam-diam apa yang dibawanya. Sebotol anggur mahal yang dia ambil dari lemari anggur koleksinya. Sekitar pukul 9 pagi, saat Shin Hye sedang beres-beres sepeninggal Yong Hwa. Seseorang datang, menekan bel pintu gerbang.
"Nuguseyo?" tanya Shin Hye.
"Nae-ya. Buka pintunya, Shin Hye-ya!"
"Shi Yun Oppa?" Shin Hye kaget. Untuk apa pria itu datang? "Untuk keperluan apa Oppa datang ke rumah ini?"
"Buka cepat pintunya. Tidak mungkin aku jelaskan dari pintu seperti ini."Meski sesungguhnya berat hati Shin Hye tak urung membuka pintu mempersilakan Shi Yun masuk.
"Yong Hwa Oppa sedang pergi, untuk apa Oppa datang?" tatap Shin Hye.
"Karena aku tahu dia sedang pergi maka aku datang kesini."
"Bagaimana jika dia datang saat Oppa masih disini?"
"Aniyo. Dia pasti pergi lama. Hari ini ulang tahun Soo Ji sekaligus hari kematiannya. Yong Hwa pergi ke makam Soo Ji untuk merayakan ulang tahun dan meratapi kepergiannya yang cepat. Dan untuk itu dia tidak akan pergi sebentar." tukasnya tahu pasti.TBC

KAMU SEDANG MEMBACA
DARK LOVE
RomanceApa jadinya jika pernikahan yang dijalani berlandaskan niat untuk membalas dendam...? Mudah diramalkan, pernikahan tidak bahagia. Pernikahan seperti itulah yang dijalani Park Shin Hye dengan Jung Yong Hwa, suami yang dijodohkan kepadanya. Pernikahan...