27

957 180 22
                                    

Jauh dari dugaannya, Yong Hwa pulang dalam keadaan sadar dan tidak diantar taeri. Kala itu Shin Hye sudah berada di atas pembaringan hendak terpejam. Namun Yong Hwa segera masuk kamar lalu tidak keluar lagi. Ia seperti menghindari bertemu dengan Shin Hye. Dan pagi saat akan berangkat kerja, ia tidak bisa tidak bertemu istrinya itu. Meski Yong Hwa tidak mampir ke meja makan untuk sarapan. Ia langsung menuju garasi begitu keluar dari kamar. Shin Hye yang sudah mempersiapkan menu sarapan hanya menatap Yong Hwa yang melintas dari ruang makan. Jadi dia melewatkan sarapan? Batin Shin Hye seraya membereskan kembali meja makan.

Berhari-hari Yong Hwa memang selalu menghindari Shin Hye, dia baru akan pulang setelah Shin Hye tidur dan berangkat saat Shin Hye masih sibuk membuat sarapan. Setiap pagi ia sengaja melewatkan sarapan di rumah serta makan malam. Hingga pagi itu Shin Hye ragu, haruskah tetap membuat makanan? Beberapa hari ini ia selalu membuangnya. Karena sudah bermacam-macam ia buat tapi tidak ada yang menyentuh.
Namun pagi itu Yong Hwa kembali menghampiri meja makan. Padahal tidak ada apa pun yang Shin Hye buat untuk sarapan.
"Omana... Mianhe, aku tidak membuat makanan apa pun, Oppa. Aku tidak tahu Oppa akan sarapan sekarang." Shin Hye belingsatan sendiri.
"Tesseo. Duduklah! Aku ingin bicara." perintah Yong Hwa membuat kening Shin Hye mengernyit.
Tidak marah? Cukup membuat heran, tapi tentu saja perintahnya itu tidak boleh dibantah. Shin Hye menarik kursi makan sambil berbicara pelan.
"Jika mau menunggu, aku bisa membuat sarapan dengan cepat."
"Bukan tentang makanan yang ingin aku bicarakan." nada bicaranya pun terdengar lembut. Berbeda dari biasanya.
Shin Hye menuding lagi wajahnya. Wajah itu pun tidak lagi garang.
"Apa yang ingin Oppa bicarakan?" tanyanya penasaran bercampur aneh. Sebab selama hidup dengannya, inilah kali pertama Yong Hwa mengajaknya berbicara dengan nada pelan.
"Aku hanya ingin memberitahumu, saat ini aku sedang diperiksa oleh pengadilan sehubungan dengan pembunuhan yang kulakukan. Kemarin rapat luar biasa para pemegang saham sudah menurunkan Abeoji dan aku dari posisi kami masing-masing. Sekarang Abeoji bukan lagi presiden direktur, begitu pula aku bukan lagi kepala departemen. Abeoji mungkin masih akan pergi ke kantor, tapi aku setelah ada keputusan pengadilan, pasti masuk penjara. Saat aku dipenjara nanti, kau boleh tetap menempati rumah ini atau pergi dari sini. Silakan diputuskan! Jika kau ingin pergi, persiapkan dari sekarang. Aku ingin memberitahumu itu." tutur Yong Hwa membuat Shin Hye melotot tak percaya.
"Mwoga...? Mau masuk penjara?" tatap Shin Hye.
"Dewan direksi dan para pemegang saham menginginkan aku mempertanggung jawabkan perbuatanku, aku siap untuk itu."
"Apa Oppa tahu kehidupan di dalam penjara itu seperti apa?" tanya Shin Hye menatap lekat.
"Pasti tidak menyenangkan."
"Geuroco. Sama sekali bukan kehidupan yang indah. Tempat itu nerakanya dunia. Tidak ada tempat seburuk dan senista di dalam penjara. Jika tidak ada tuntutan dari keluarga korban, untuk apa Oppa mempertanggung jawabkan kesalahan yang mereka saja sudah memaafkan. Berikan saja ganti rugi kepada perusahaan atas lepasnya anak perusahaan itu. Anggap Oppa membelinya. Jika perlu dengan semua uang yang kau miliki. Tapi jangan pernah berpikir untuk memasuki penjara." tandas Shin Hye sangat tidak setuju dengan keputusan yang akan diambil Yong Hwa.

Sementara Yong Hwa tidak menyangka dengan reaksi Shin Hye yang seemosional itu.
"Apa kau mengkhawatirkan aku?" tatapnya.
"Nde, kehidupan di penjara itu sangat tidak mudah, Oppa. Tidak pernah ada yang menginginkannya sebesar apa pun kejahatan yang orang lakukan. Bukan saja karena kebebasan yang terampas, tapi lebih dari sekedar terkurung. Kehidupan di dalam penjara itu keras dan tanpa belas kasihan. Hanya yang kuat yang dapat bertahan. Hukum yang berlaku pun hukum rimba. Sangat tidak manusiawi." lanjut Shin Hye berapi, tidak menutupi rasa khawatirnya terhadap Yong Hwa.
Sejenak Yong Hwa tidak mampu berkata-kata. Sekali lagi ia merasa sangat malu.
"Sikapku pun selama ini selalu memberikan neraka buatmu." ucapnya pelan.
"Itu belum seberapanya. Di dalam penjara orang-orang 1000 kali lebih tidak berperasaan. Dan semua orang seperti itu karena pada titik tertentu mereka frustasi dengan dirampasnya hak-hak hidup serta tidak kuat menahan besarnya tekanan." tambah Shin Hye lagi.
Kali ini Yong Hwa terdiam. Harusnya sejak awal ia tahu jika wanita yang selama ini ia benci setengah mati dan selalu ia jahati itu, wanita berhati putih. Yang justru tidak ingin melihatnya menderita.
"Sayangnya aku tidak bisa merubah keputusan itu, Shin Hye-ssi. Setiap apa yang kita lakukan mengandung konsekuensi. Termasuk dengan kejahatanku dulu. Namun aku sangat berterima kasih bahwa kau sangat mengkhawatirkanku. Aku akan dengan senang hati menjalani hukumanku nanti. Dengan demikian semoga aku akan menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih rela nantinya." harap Yong Hwa tidak dapat lagi mengubah keputusannya.
Ganti Shin Hye yang terdiam sekarang.

Jika memang Yong Hwa tidak ada di rumah itu, Shin Hye pun memilih meninggalkannya. Ia akan kembali ke rumah orang tuanya. Yong Hwa akhirnya dijatuhi hukuman penjara karena tidak menyangkal pembunuhan yang telah dilakukannya. Meski begitu vonis buatnya tidak berat karena sama sekali tidak ada tuntutan dari keluarga korban. Yong Hwa hanya ingin hatinya merasa tenang bila sudah menebus kesalahan yang telah dilakukannya dengan hukuman setimpal.
Tak urung air matanya menetes kala berpamitan kepada ayahnya untuk menjalani hukuman itu. Air mata itu membayang lagi di kedua bola matanya kala ia pamit kepada Shin Hye.
"Tidak mudah hidup disana, namun juga tidak sangat sulit. Ada kalanya kita harus banyak mengalah tetapi tidak selalu harus begitu. Yang penting Oppa tidak membangkang kepada petugas. Bersikaplah yang bisa menumbuhkan kasih sayang diantara sesama penghuni, Oppa akan tenang jika dikelilingi oleh orang yang mengasihi kita." nasehat Shin Hye, juga dengan air mata yang berurai.
"Nde. Akan aku perhatikan semua nasehatmu."
"Pergilah, Oppa. Dengan hati yang damai. Dan pulanglah dengan menjadi pribadi yang lebih baik."
"Apa kau mau menungguku hingga aku keluar nanti?" tatap Yong Hwa dengan mata membasah.
Shin Hye mengangguk dengan air mata yang deras berjatuhan. Telapak tangan Yong Hwa menyentuh pipinya sebelum akhirnya ia melangkah meninggalkannya.
🎃

2 tahun kemudian

Siang itu Shin Hye tampak sibuk mengulen adonan membantu ayahnya yang juga sedang repot mengulen. Sementara ibunya membakar adonan tadi menjadi roti. Di depan, Chan Hee sangat sibuk pula melayani pembeli yang antri memesan untuk dibawa pergi dan yang makan disitu.
"Noona, bantu aku, tinggalkan dulu itu. Aku kewalahan." pintanya melongokan wajah ke belakang.
"Aigo... baru segitu saja kau bilang kewalahan. Aku setiap menjelang makan siang selalu seperti itu, Chan Hee-ya." omel Shin Hye.
"Cepat! Ibu itu sudah ngomel-ngomel." belalak Chan Hee.
Tidak bisa bertahan, Shin Hye akhirnya meninggalkan pekerjaannya.

Karena itu weekend toko rotinya dibanjiri pembeli. Dan setiap weekend Chan Hee datang kesana untuk sekedar minum kopi dan makan roti hangat yang ia ulen sendiri. Sambil membawa buku. Ia akan membaca seraya menikmati roti. Kadang-kadang juga ia datang dengan mengajak teman-temannya. Membuat tempat kecil itu rame didatangi anak-anak gadis. Setelah menyelesaikan SMA, ayahnya menyuruhnya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Tapi Chan Hee menolak sampai Yong Hwa keluar dari penjara. Ia tidak mau membuat ayahnya kesepian ditinggalkan anak-anaknya. Dan toko roti mungil di dalam gang itu menjadi tempat mainnya.

Setelah selesai dengan para pembeli, Chan Hee membawa cangkir kopi ke dapur. Seraya menghirup kopi ia melihat ayahnya Shin Hye membereskan peralatan.
"Apa sudah selesai, Abeoji?" tanyanya.
"Bahannya habis. Kau mau membuat?"
"Ani."
"Ini roti kacang merah kesukaanmu, Chan Hee-ya. Makanlah mumpung masih hangat." ibunya Shin Hye mengasongkan 1 buah.
"Eoh, kamshahamnidha, Eommoni."
"Dan ini isi ikan tuna. Saat pulang nanti bawa ini untuk Abby dan Eomma-mu." Ibunya Shin Hye menyisihkan beberapa potong.

Sementara itu Shin Hye yang sedang membereskan meja bekas pelanggan, terpaku ditempatnya berdiri melihat seseorang yang baru memasuki tokonya.

TBC

Stop dulu sampe situ.... Ketebak dong siapa org itu? Author tdk mau b'lama2, ff ini ingin segera diselesaikan...

DARK LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang