1.0

1.3K 263 98
                                    

 🌸

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

 🌸

🌸

  🌸 

   🌸 

JIHOON membuka matanya yang terasa berat, ia memandang sekitarnya dan menemukan Daniel yang sedang sibuk dengan sebuah laptop di depannya. Suhu tubuh Jihoon terasa panas, ia tidak tahu penyebab dari naiknya suhu tubuhnya karena apa, yang jelas ia terbangun karena keringat yang mengalir di balik pakaian yang digunakannya, Daniel akhirnya menyadari Jihoon yang sudah sadarkan diri.

"Bagaimana keadaanmu? Sudah jauh lebih baik?" tanya Jihoon.

"Panas...," jawab Jihoon dengan suara serak.

Daniel langsung menyingkap selimut yang digunakan Jihoon dan mengambil handuk dingin yang telah dipersiapkan oleh Irene sejak dua jam lalu, ia mengatakan kalau Jihoon mungkin akan terbangun karena suhu tubuhnya yang naik. Sebelum pergi, Minhyun sudah mengatakan kalau Jihoon memang mengalami masa pre-heat, namun Jihoon yang mengalami stress berat membuat kelenjar feromon milik Jihoon mengalami masalah dan membuatnya tidak bisa menghasilkan feromon, namun tetap mengalami demam karena heat.

Daniel membantu Jihoon mengelap keringatnya dan tanpa sadar Daniel melihat bekas gigitan di tengkuk Jihoon, seolah membuatnya sadar kalau Jihoon bukan lagi seorang Omega yang bisa didekatinya sesuka hati seperti dulu, Jihoon telah menjadi milik Alpha lain dan tidak akan pernah bisa di dekatinya lagi.

"Terima kasih," ucap Jihoon pelan.

"Bagaimana kalau kau makan terlebih dahulu? Irene-noona sudah menyiapkan sarapan untukmu."

"Maaf merepotkan."

Daniel hanya tersenyum ke arah Jihoon, ia lalu berjalan keluar dari kamar. Memasukkan makanan yang telah Irene siapkan ke dalam microwave saat menunggu makanan di panaskan, pikiran Daniel dibawa terbang jauh, seolah menyadarkannya pada sosok yang ditinggalkannya seorang diri selama dua hari ini. Pria yang membawa banyak hal saat ia datang ke kehidupan Daniel, namun aroma pria itulah yang paling ingin Daniel rasakan saat ini.

"Ah aku harus menelfonnya," gumam Daniel pelan.

Ia lalu mengambil ponsel yang di letakkannya di kantong celana jeans yang dikenakannya dan menghubungi telefon rumah miliknya di Jeju. Hampir sepuluh detik berlalu dan panggilan darinya tidak kunjung dijawab oleh siapapun, setelah terputus―Daniel kembali menghubungi nomor yang sama dan masih tidak ada respon. Perasaan Daniel mulai tidak enak. 

Ting!

Suara dari microwave yang sudah selesai melakukan tugasnya membuat Daniel membatalkan niatannya untuk kembali menghubungi Seongwu. Ia mengeluarkan makanan yang telah dipanaskannya, memindahkannya ke piring baru agar Jihoon tidak terbakar karena panas dari piring yang dimasukkannya ke dalam microwave tersebut. Jihoon sudah duduk bersandar di kepala ranjang, memandang kosong jendela tinggi yang ada di dalam kamar. 

3| Stay Beautiful [√]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang