Cinta adalah jebakan. Karena kita melihatnya sebagai cahaya, bukan bayangan.
.
.
.
Manik musang itu menangkap dua orang yang baru saja meninggalkan perpustakaan. Kakinya melangkah lebih cepat meski berusaha mengendalikan diri sebelum salah satunya menyadari keberadannya.
"Yunho-ah, ada apa?"
Senyum itu terulas sebelum mendekati Jaejoong "Aku mencarimu, lagipula jam makan siang akan berakhir."
"Benarkah?" Jaejoong menoleh pada Changmin yang hanya mengangguk, sepertinya dirinya paham jika kedua pemuda itu hendak berbicara tanpanya "Kalalu begitu aku akan langsung kembali, terlebih aku masih memiliki kelas tambahan."
"Hati-hati, hyungie!" Seru Changmin sebelum teralih pada Yunho "Bisakah kita cari tempat lain?"
Yunho mengangguk setuju, memimpin dirinya untuk mendekati gedung lain yang juga merupakan tempat bekumpul mereka, memastikan ketidakhadiran anggota lain sebelum memposisikan diri pada pinggir kolam renang. Disana satu-satunya tempat teraman jika saja hal buruk terjadi, setidaknya air tidak akan membunuh salah satunya.
"Kau mendapatkan sesuatu dari Jaejoong?"
Changmin sudah menduganya, terlebih memancing Yunho tidak mudah. Dirinya memang menginginkan informasi dari Jaejoong tentang kematian ibunya, sama sekali bukan kebohongan. Dimana membuat Yunho mengatakan sejujurnya cukup sulit, kekuasaan yang dimiliki pria itu seperti benteng yang menutup mata dan telinga mereka. Dan Changmin hanya membutuhkan kebenaran, ketika hal ini mengarah pada kecelakaan misterius yang terjadi pada Jaejoong.
"Tidak banyak. Mungkin aku jadi lebih mengenal Huanran, dia terdengar baik dan menjaga Jaejoong-hyung."
Yunho mengangguk "Apakah kau hanya ingin mengetahui kematian ibumu?"
"Bukan kematian ibuku, namun siapa yang membunuh ibuku sebenarnya. Tidakkah kau mengetahui ini, hyung? Aku tidak ingin menuntutmu, namun kau juga tidak perlu menyulitkanku."
Bibir hati itu terkulum sejenak "Changmin-ah, tidak ada seorangpun yang membunuh ibumu. Aku bersumpah akan hal itu."
"Lalu bagaimana bisa kecelakaan itu terjadi pada ibuku?! Apakah dia gila membiarkan dirinya tertabrak pada sebuah pohon?"
"Aku tidak bisa mengatakannya, Changmin-ah..."
"Kenapa, hyung? Karena hal ini ada hubungannya dengan kedua orang tuamu, bukan? Kau melindungi mereka dan-"
"Ini tidak sesederhana yang kau kira, Changmin-ah! Aku hanya tidak ingin kau terluka. Aku tidak ingin kau mengalami apa yang kualami dulu, jadi hentikan ini dan lupakan segalanya, eoh?"
Changmin adalah bocah keras kepala yang sulit diberi pengertian "Kau sama sekali tidak membantuku, hyung. Kau mengecewakan!"
Untuk pertama kalinya Yunho terluka, perasaan ini berbeda dengan apa yang dialaminya kepada Jaejoong. Terlebih Changmin sudah seperti keluarga baginya, dan Changmin memanglah adiknya.
"Kekecewaanmu itu lebih baik, Changmin-ah."
Kalimat itu benar-benar membangkitkan amarah, namun Changmin juga tahu batas dalam menghadapi pemuda itu.
...
"Ada apa dengan mereka?" Yoochun menyenggol bahu Siwon.
"Entah," Siwon mengikuti arah pandang Yoochun, dimana keadaan canggung melingkupi Yunho dan Changmin, meski terihat jelas Yunho tidak jauh berbeda dari biasa namun sikap memusuhi Changmin terlihat kekanakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blossom
FanfictionDalam sebuah drama, kisah seorang pria kaya raya yang mencintai wanita miskin dan lugu hingga rela melakukan apapun untuk mendapatkan sang wanita. Namun pada kenyataannya tidaklah seperti itu. Sang pria kaya raya bisa saja mencintai seorang wanita...
