Blossom 17

2.4K 277 36
                                        

Cinta adalah jebakan. Karena kita melihatnya sebagai cahaya, bukan bayangan.

.

.

.

Aroma petrikor menyeruak begitu dirinya tiba, rerumputan basah mengotori sepasang sepatunya sekaligus menghambat lajunya. Lintasan yang cukup licin dengan tangga dari tanah yang dipadatnya dilalui. Langkahnya terhenti tepat di balik punggung seorang wanita muda yang termenung di hadapan gundukan tanah yang berhiaskan batu indah yang diukir nama sosok yang disemayamkan.

Buket bunga yang dibawanya mendampingi bunga lain yang telah menghiasi sisi batu, memejamkan mata sejenak pun kembali terbuka. Mendoakan sosok yang telah berpulang adalah hal yang mulia.

"Kupikir dia akan memilih untuk dijadikan abu,"

"Tidak sepantaskan kau mengatakan hal itu di sini."

Ahra hanya mengulas lekuk tipis, "Bukankah seharusnya dia disemayamkan di tanah kelahirannya?"

"Aku bukan seseorang yang melupakan begitu saja orang yang telah membantuku di masa lalu, lagipula tidak ada salahnya tetap memperhatikannya bahkan setelah kematiannya. Ini adalah rasa terima kasihku pada keluarganya yang telah banyak membantuku." Yeji menunduk dalam, "Tidak akan ada yang menjaganya di negaranya sendiri..."

"Kau sebenarnya orang yang baik, Yeji-ssi. Bahkan kau dapat melanjutkan hidup dengan baik tanpa terluka."

Yeji hanya mengangguk lemah, "Kini aku belajar dari kesalahan, lagipula mengejar seorang pangeran tidak akan pernah ada habisnya dan tidak semua pangeran seindah cerita dongeng." Memandangan lekat nama yang akan selalu dikenangnya, "Dan Seo Huanran adalah salah satu buktinya. Tidak ada yang berkata jika kami tidak terluka,"

"Kau beruntung karena tersadar lebih awal dan tidak bertindak terlalu jauh,"

"Tidak juga, usaha orang tuaku bangkrut dan hampir di keluarkan dari sekolah."

Ahra lantas mengenakan kacamatanya sebelum menatap lekat Yeji, "Jaga dirimu dan berjuanglah lebih keras untuk masa depanmu."

"Ne, terima kasih Ahra-eonni."

...

Byuna begitu percaya diri melangkahkan kakinya memasuki gedung yang beroperasi sebagai pusat perusahaan Gaejuk Hotel, menyapa beberapa staff dengan ramah seolah hari ini akan terus berulang dan mereka akan akrab, kemudian menilainya sebagai sosok yang patut diteladani. Bersama dengan Gyura serta seorang asisten pribadi, ketiganya berniat langsung memasuki ruangan yang akan menjadi tempatnya beraktivitas.

Aura kedua wanita itu terlihat berseri-seri, bahkan sesekali saling memuji penampilan dan membiarkan sang asisten memperlakukan keduanya layaknya orang yang harus dijunjung. Hampir mereka memasuki ruangan pun Byuna menampilkan raut tersinggung oleh kekosongan dua meja yang diperuntukan untuk sekretaris, bagaimana mungkin keduanya tidak ada di tempat?

"Baek-ssi, beritahu Jaewok-oppa untuk memecat dua sekretaris ini. Bagaimana mungkin mereka meninggalkan tempat ketika aku datang? Mereka seharusnya menyambut hari pertamaku berkerja!"

"Baik, nyonya."

Gyura menunjukan raut tak senang, "Choi Suyong dan Kim Taeyon. Bagaimana mungkin salah satunya menggunakan marga Kim? Sama sekali tidak pantas!"

"Lebih baik kita segera masuk, tidak perlu membuang-buang tenagamu."

"Benar, aku juga harus memperlajari Gaejuk Hotel sebelum menggantikan umma tahun depan, pokoknya umma tidak boleh terlalu lelah. Aku akan menghubungi salon untuk datang ke rumah malam nanti."

BlossomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang