Cinta adalah jebakan. Karena kita melihatnya sebagai cahaya, bukan bayangan.
.
.
.
Kaki panjang itu melangkah tenang memasuki kedimannya, kesunyian menyapa meski salah seorang pelayan yang kebetulan melintas menyambutnya. Senyum pada bibir hatinya nyaris mengembang pun lenyap detik berikutnya begitu sosok wanita dewasa yang begitu cantik terduduk pada sofa ruang tengah, seperti tengah menunggu kepulangan seseorang.
"Umma..."
Eunhye mengulas senyum kecil sebelum bangkit dari duduknya untuk menghampiri satu-satunya putra kebanggaan Jung itu. Putra yang meciptakan neraka sekaligus surga bagi kehidupannya, pun pengorbanan yang menyakitkan.
"Aku menunggumu." diperhatikannya penampilan Yunho yang begitu santai tanpa seragam serta ransel di sana "Kupikir kau baru saja pulang sekolah,"
Yunho hanya berguman tanpa minat "Kenapa tidak mengabariku jika kau kembali?"
"Aku hanya ingin memastikan keadaanmu, terlebih Jaejoong baru saja kembali dari Chungnam belum lama ini." Eunhye mengisyaratkan Yunho untuk mengikutinya.
Kini keduanya terduduk pada balik pantry dengan gelas pada masing-masing tangan. Yunho hanya menatap cairan kecoklatan di dalam gelas, sepertinya Eunhye lupa jika dirinya tidak pernah menyukai makanan berbau manis... atau mungkin Eunhye memang tidak pernah mengingatnya?
Lagipula pertanyaan Eunhye sudah lebih dari cukup untuk membuat suasana hatinya kembali turun.
"Aku tidak terkejut lagi mendengarnya," Yunho menaruh kembali gelasnya seraya melihat wanita cantik itu. Terkadang rasa iri menghampiri begitu Jaejoong lebih banyak mendapat perhatian Eunhye, lebih tepatnya Jaejoong menerima seluruh perhatian Eunhye.
"Bagaimana sekolahmu?"
"Tidak ada yang spesial," suara Yunho terdengar bagai gumanan. Begitu menyadari jenis hubungan ibu dan anak mereka yang begitu kaku, seperti tingkah antar dua orang klien.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini, namun aku mendapat kabar jika peringkatmu sangat stabil. Aku harap kau akan terus mempertahankannya."
"Ne," Yunho hanya mengangguk saja. Meski banyak hal yang ingin dia katakan pada wanita itu, "Bisakah aku beristirahat?"
"Oh, tentu. Kau pasti lelah. Mungkin... kau telah mendengar kompetisi yang akan Jaejoong lakukan, bukan? Apakah kau ingin melihatnya bersamaku?"
Yunho membisu sesaat, kompetisi itu selang sehari dengan pertandingan basketnya. Apakah Yunho dapat berpindah negara dalam satu waktu?
"Tidak tahu, aku akan memastikannya lagi."
"Aku akan membantumu untuk menyesuaikan kegiatanmu. Lagipula kau tidak mungkin melewatkan penampilan Jaejoong, bukan?"
Lalu aku harus melewatkan pertandingan besarku sendiri?! Batin Yunho menjerit, sebelum berbalik begitu saja tanpa berniat menimpali.
Eunhye menatap punggung sang putra sebelum menggenggam gelas kopinya terluka. Sulit sekali menempatkan diri sebagai ibu yang baik bagi Yunho, meski perselingkuhan itu telah berlalu belasan tahun namun luka yang diterimanya masih sangat membekas.
"Yunho-ah,"
Yunho tentu saja menghentikan langkahnya, sedikit berharap akan panggilan Eunhye.
"Selamat malam. Maaf jika Ilwoo tidak menyambutmu usai kembali, namun aku pastikan jika besok pagi kalian akan sarapan bersama dengan Yunhee juga... hanya saja aku tidak bisa menemani oleh pertemuan yang harus kuhadiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Blossom
FanfictionDalam sebuah drama, kisah seorang pria kaya raya yang mencintai wanita miskin dan lugu hingga rela melakukan apapun untuk mendapatkan sang wanita. Namun pada kenyataannya tidaklah seperti itu. Sang pria kaya raya bisa saja mencintai seorang wanita...
