Blossom 3

2.7K 313 39
                                        

Cinta adalah jebakan. Karena kita melihatnya sebagai cahaya, bukan bayangan.

.

.

.

"Tuan besar baru saja tiba, tuan muda."

Mendengar perkataan Seomi benar-benar membuatnya enggan melintas masuk, entah kenapa wajah pria baya yang selama ini disebut sebagai ayahya itu selalu saja mambuatnya muak.

"Dimana dia sekarang?"

"Menunggu anda di ruang tengah, tuan muda."

Masih dalam raut datar, kakinya melangkah pelan. Meski situasi ini selalu saja dilaluinya setiap kali pria Kim itu kembali dari kesenangannya namun tetap saja rasa takut itu kerap kali muncul dalam dirinya. Biar bagaimanapun, dirinya hanya seorang remaja sekolah akhir yang masih bergantung.

Ketika dimata orang lain dirinya terlihat dapat menggenggam dunia. Nyatanya, dunia itu bagai asa yang kian jauh dari hidupnya. Tidak ada dunia yang sanggup menyentuh hatinya, dimana terlingkupi labirin kelam yang selama ini mengakar di sana.

"Jaejoongie,"

Sontak napasnya tercekat dengan wajah pias begitu menangkan senyum khas serupa dirinya menghiasi wajah tampan sang pria, dengan tangan yang tertaut gelisah pun menutupi getar dalam tubuhnya, Jaejoong mendekat "A-appa kembali?"

Pria itu tersenyum lebar sebelum merengkuh putra rupawannya, satu-satunya buah hati yang dimiliki "Kau terlihat semakin indah, Jaejoongie. Seperti ibumu," komentarnya meninggalkan sesak dalam diri Jaejoong.

Tatapan pria itu terlihat begitu antusias, dimana Jaejoong begitu memahami raut penuh arti itu ketika bibirnya memilih tetap bungkam.

"Kau tidak ingin mengatakan apapun kepadaku?" sahut pria itu.

"M-memangnya apa yang ingin appa ketahui dariku? B-bukankah selama ini appa selalu memantau segala hal yang aku lakukan?" balas Jaejoong terbata.

Tawa keras itu memenuhi ruangan yang dipenuhi puluhan guci mahal, serta lukisan karya dunia yang menghiasi tiap dinding "Aku sangat menyukaimu, putraku. Kau memang tidak pernah mengecewakan!" senyumnya kembali melembut "Bagaimana hubunganmu dengan putra Jung itu?"

Bibir Jaejoong ingin sekali tetap bungkam, namun hal itu malah akan membuatnya dalam keadaan sulit dimana pria dihadapannya kini kembali menyakiti fisiknya "K-kami... baik-baik saja, appa."

Dahi pria itu berkerut curiga "Namun kenapa kau terlihat ragu saat menjawabnya, Jaejoongie?"

Hal yang membuat ketakutan Jaejoong berlipat ganda "Kami baik-baik saja, appa. Aku pastikan itu!" jawab Jaejoong cepat menutupi keresahannya.

Ketika jawaban Jaejoong tidak sedikitpun memberikan kepuasan dalam dirinya "Putra Jung itu tidak melakukan sesuatu yang berarti? Pertunangan kalian sudah cukup lama, Jaejoongie. Tidakkah ada perkembangan?"

Jaejoong hanya bisa menunduk dalam, tekanan batin serta desakan sang ayah sama sekali tidak membantunya. Kali ini tidak ada lagi sosok itu yang akan melindunginya, tidak ada lagi belaian menenangkan yang dia terima, serta pembelaan yang dia butuhkan. Jaejoong tertekan, dan hampir kakinya tidak lagi sanggup menompang tubuhnya ketika dua orang pemuda memasuki ruangan.

"Paman Kim~"

Suara Jungkook terdengar memeka, meski hal itu sama sekali tidak dapat membangunkan Jaejoong dari dunia menyakitkan yang tanpa sengaja kembali diciptakannya.

Jungkook menatap pasti pria bermanik musang yang bersamanya sebelum mendekati Kim Jaewok, ayah dari sepupunya "Paman, aku memiliki hal yang hendak dirundingkan denganmu. Sebelumnya pria tua Jeon itu baru saja mengirimkan sebuah berkas untuk kupelajari."

BlossomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang