ABAIKAN JIKA ADA TYPO😪 SEPERTI BIASA INI PANJANG. AWAS NGANTUK BACANYA HEHEHE:D
“Mau rasa apa?” Sanskar bertanya kepada Swara ketika mereka sudah memborong semua es krim. Bukannya senang, malah Swara menjadi tidak nafsu untuk melahap es krimnya.
Swara tidak menjawab, lebih memilih memanyunkan bibirnya ke depan beberapa senti, tidak lupa juga kedua tangannya yang diletakan di dada. Sanskar berdecak, menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat wajah imut tersebut.
“Lo marah sama gue?” Tanya Sanskar mencoba untuk memancing.
“Menurut mas?!”
“Menurut gue, iya.” Jawab Sanskar. Saat tidak ada ucapan lagi yang diucapkan Swara, dia menghela napas sejenak. “Gue buang eskrimnya,” lanjut Sanskar. Sudah ancang-ancang ingin membanting semua es krim itu ke sembarang tempat.
Mata Swara membulat, dengan cepat dia menahan tangan Sanskar. Dan merebut plastik berisi es krim itu.
“Kasihan tau mau dibuang. Gak berperikeeskriman!” Ucap Swara lalu meninggalkan Sanskar.
“Susah!” Gumam Sanskar mengeluh. Pria itu tidak mau berdiam diri layaknya patung. Tidak mengejar sang kekasih yang pergi seperti didalam sinetron-sinetron televisi.
Swara duduk di kursi taman dengan keras. Wajah kusutnya masih tetap dipasang. Sebenarnya Swara tidak marah karena Sanskar membeli semua es krimnya. Dia hanya tidak mau sisa dari es krim yang tidak termakan akan terbuang.
Gadis itu mengambil es krim rasa melon, membukanya perlahan sembari menonton beberapa anak yang sedang bermain bola di taman.
“Enak banget sih! Suka deh!”
“Es krim ini manis. Aku kan suka es krim ya, otomatis aku manis dong?”
“Emang manis,” gumam seseorang. Swara terkejut kemudian menatap ke arah samping, ada sesosok pria yang kini sedang tersenyum lebar. Swara salah tingkah dia lebih memilih diam. Tidak mempedulikan kehadiran Sanskar.
“Napa sih, Ra?” Tanya Sanskar mengeluh. Dia mengambil es krim rasa cokelat dari dalam plastik.
“Ini hari seneng lho. Gue bisa berdua sama lo. Kenapa lo ngerusak semuanya sih? Lo marah sama gue sebab es krimnya diborong?”
Swara tidak menjawab. Lebih memilih menikmati es krim yang sedang dia makan. Sanskar mencibir, terlihat kesal, pria itu lebih memilih mendiamkan diri saja sembari memainkan ponsel.
Hanya beberapa senti kepala Swara menggeser melihat Sanskar sedang apa dan sedang chattan dengan siapa. Namun pandangannya buyar ketika Sanskar menatapnya.
“Ngapa Ra? Udah marahnya?” Tanya Sanskar. Swara menggeleng.
“Gak. Satu abad lagi,” jawabnya.
Sanskar kembali terdiam. Dia mulai jahil, menekan nomor Karina dengan sengaja. Swara melirik ke arah Sanskar ketika pria itu menempelkan ponselnya ke telinganya.
“Ya sayang?”
Baru saja satu dua kata yang keluar dari mulut Sanskar. Swara langsung dibakar api cemburu. Apa tadi sayang? Siapa? Apakah maksudnya Kavita? Swara membuang paksa es krimnya yang belum habis. Memanyunkan bibirnya sedangkan kedua telinganya siap untuk menguping.
“Oh gue lagi ketemuan sama temen. Kenapa? Mau dijemput? Lo dibandara? Gue kesana ya? Jangan kemana-mana dulu. I love you,” Ucap Sanskar mematikan ponselnya. Dia ingin tertawa keras rasanya ketika Karina tidak terima dia sebut dengan panggilan sayang. Keponakan yang tidak jelas kan?

KAMU SEDANG MEMBACA
Mine!
Teen Fiction#Pengumuman Maaf, ini bukan cerita tentang kesedihan, tentang perjodohan, tentang kekerasan, yang bertema belakang india. Tapi ini cerita tentang remaja, lebih termasuk ke istilah masa putih abu-abu. Bertema belakang indonesia lebih tepatnya jakarta...