23. Aku disini

343 20 6
                                    

***

SANSKAR mengobati tangannya yang sedikit memar akibat perkelahian tadi. Cowok itu menoleh ketika mendengar suara tangisan yang kecil namun tetap masih jelas terdengar. Ia tersenyum lebar, tangannya merangkul pundak Swara sambil menariknya mendekat ke dekapannya. Sanskar masih bisa merasakan Swara menggigil, tubuhnya dingin, baru kali ini ceweknya itu sangat terlihat ketakutan.

"Kenapa kamu bisa di warung itu?" Tanya Sanskar sambil memainkan rambut Swara gemas.

Swara masih terdiam, enggan untuk mengingat lagi kejadian beberapa menit yang lalu ketika dirinya memutuskan untuk membeli nasi goreng. Awalnya ia biasa saja, tidak takut walaupun banyak pria yang tidak beres disana, Swara duduk sendiri sambil memainkan ponsel. Beberapa menit menunggu akhirnya nasi gorengnya sudah siap dibungkus, ia bangkit berjalan menuju ke arah pedagang nasi goreng itu untuk membayar.

Alangkah terkejut nya bukan main, tangannya tiba-tiba ditarik oleh pria yang ada di belakang tubuhnya. Otomatis Swara terjatuh ke kursi, —bersandar maksudnya— kemudian para pria itu tertawa menggoda.

Tangan Swara yang awalnya dingin semakin dingin ketika tangan Sanskar menggenggam jari jemarinya. Entah kenapa dirinya merasa aman bila berada di dekat Sanskar, terasa terlindungi dan tidak akan disakiti. Swara akhirnya sedikit tenang, menutup mata sambil menyenderkan kepalanya ke pundak Sanskar.

"Jangan takut, aku selalu ada disini. Buat kamu," ucap Sanskar. "Kamu laper, Ra?" Lanjut nya.

Swara dengan ragu mengangguk, padahal pikirannya sudah berjalan kemana-mana saat itu. Bisa-bisanya, Sanskar masih bersikap baik ketika dirinya sudah memperlakukan cowok itu dengan tidak baik siang tadi.

"Nasi goreng nya gak jadi dibeli, gue takut soalnya." Jawab Swara masih bergetar.

Sanskar tertawa kecil, sementara tangannya masih terus menggenggam erat tangan Swara yang kecil. "Mereka bilang apa sama kamu?" Tanya Sanskar mencoba memancing Swara agar sedih, supaya dirinya bisa menjadi satu-satunya orang yang dapat menenangkan kesedihannya. Terlihat Swara kembali panik, tubuhnya bergetar, "gak usah, gak papa kalo gak mau cerita." Ucapnya tersenyum lebar sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Mereka bilang gue lonte."

"Mereka bilang, gue sengaja kesana cuman mau nyamperin mereka doang. Buat dijadiin mainan, padahal gue kesana cuman buat beli nasi. Soalnya dirumah gak ada makanan, gue laper."

"Kamu tahu gak, kenapa mereka bilang gitu sama kamu?"

Swara menggeleng. "Emang kenapa?"

Sanskar tersenyum lebar, kali ini seperti sebuah senyuman terakhir yang ia berikan untuk Swara. Sanskar menghadap jalanan lagi sambil menyandarkan kepala Swara di pundaknya. Hangat. Hanya itu yang dirasakan Swara.

"Penampilan kamu,"

"Emang kenapa sama penampilan gue?"

"Kamu terlihat seperti cewek yang gak bener, Swara."

"Gak! Emang nafsu merekanya aja yang kelewatan batas. Lihat cewek biasa aja mereka langsung nafsu gimana sih?!"

"Jelas. Itu karena sudah ciri khas laki-laki. Tapi disini yang dikatakan bersalah juga si cewek, yang gak bisa jaga penampilan. Salah cowok juga, yang gak bisa mengendalikan nafsu-nya."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 10, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Mine! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang