💜Happy Reading💜
"Tolong, izinkan aku untuk menjadi terang dalam gelapmu."
~Putra Angganiar Pratama~
___
SETIBANYA di rumah sakit. Rani segera memasuki kamar Ayahnya. Angga tidak ikut masuk karna sedang ada urusan sebentar. Entah apa, Rani juga tidak tahu.
"Biar Rani aja yang jagain Ayah, Bun! Bunda bisa istirahat di rumah sekarang." Rani tersenyum mengelus pelan bahu Bunda yang tertidur lelap di atas sofa dalam ruangan dimana Ayahnya dirawat. Kerabat lain sudah pulang ketika Rani datang untuk beristirahat dan akan kembali menjenguk siang nanti.
"Rani, kamu udah makan, Nak?" Bunda bertanya sambil mengucek-ngucek matanya.
Rani mengangguk. Meski ia belum makan pagi ini, ia tidak sampai hati membuat Bundanya jadi kepikiran. Tadi ketika Ima membuatkan sarapan untuknya di rumah, jangankan memakannya, menyentuh sedikit saja Rani tidak. Ia tidak bisa makan sebelum melihat keadaan Ayahnya. Toh, Rani bisa mencari makanan sendiri nanti.
"Yaudah, Bunda pulang dulu."
Bunda akhirnya berdiri, sekali lagi memastikan keadaan suaminya yang masih tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit.
"Nanti kalo ada apa-apa telfon Bunda, Ran." Bunda berseru sebelum akhirnya mengucapkan salam dan menghilang dibalik pintu.
Setelah kepergian Bunda. Rani segera meletakkan tas selempangnya di atas sofa. Lalu beranjak mendekati ranjang Ayahnya. Ia melihat selang infus yang menempel ditangan kanan sang Ayah. Berdoa dalam hati semoga Ayahnya baik-baik saja.
Dalam hitungan detik, doa Rani itu sudah terkabulkan. Ayahnya tersadar dan segera memperhatikan sekitar sambil mengernyit bingung. Rani langsung mengambil kursi dan duduk di samping kanan Ayahnya.
"Ayah," Rani berseru pelan, tersenyum melihat Ayahnya sudah sadar.
"Ini di mana?" Ayah bertanya dengan suara parau.
"Di rumah sakit. Ayah jangan banyak gerak dulu! biar Rani panggil Dokter ya?" Rani hendak berdiri namun Ayahnya menahan dengan memegang pergelangan tangan Rani.
"Ayah nggak papa. Nggak perlu panggil Dokter." Ayah tersenyum menyakinkan membuat Rani akhirnya urung dan kembali duduk di kursinya.
"Maafin Ayah, Ran. Ayah udah bikin kalian semua repot." Tiba-tiba Ayah berseru lagi dengan pelan.
Rani menggelengkan kepalanya.
"Ayah nggak salah apa-apa, jadi Rani pikir Ayah nggak perlu minta maaf."
"Ayah selalu bikin kamu sedih." Ayah mengelus wajah Rani dengan pelan. Rani menggelengkan kepalanya lagi dan tersenyum.
"Ayah selalu bikin Rani bangga, bukan sedih." Ralat Rani.
"Kamu, putri Ayah yang paling Ayah sayang." Ayahnya mengucapkan kalimat itu dengan putus-putus. Meski begitu, tapi tetap membuat Rani tersenyum bahagia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reason
Romansa"Tak ada alasan yang lebih indah untuk bersama kecuali karena Allah swt." ~Putri maharani~ ___ "Aku tahu, kamu nggak suka kan dijodohin seperti ini?" ucapnya lagi dengan nada sinis."Omong-omong, aku juga." Tambahnya sambil menyesap kopi ditangannya...
