Isabel terbangun saat merasa ada seseorang yang mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarnya, siapa sih orang gila yang datang kerumah nya dijam 1 pagi seperti ini. Isabel yang tadinya akan terlelap seketika terlonjak kaget mendengar ketukan itu.
"Gue gasalah dengerkan" gumam nya dengan wajah yang sudah menegang
"Hey Isabel sshhh" bisik orang tersebut
"Eh kok kaya ada yang manggil gue ya"
Isabel yang memang seorang penakut langsung menengok ke kanan dan ke kiri
"Isabel, ini gue Rendy" ucap nya lagi
"Jangan bohong lo, ini ga lucu tau" Isabel tidak percaya jika yang memanggil nya itu adalah Rendy. Lagipula untuk apa ia malam-malam begini datang kerumah nya.
"Sini gue dijendela" perintah Rendy
"Itu beneran lo Ren?" Tanya Isabel dengan bangkit dari kasurnya dan mendekat kearah jendela
"Iya ini gue, bukan hantu" jawab nya
Karena dirinya yang penasaran Isabel memberanikan diri mendekati jendela yang tertutup gorden. Dan ternyata memang benar, Rendy memanjat dinding rumah Isabel.
"Anjir lo ngapain kesini?"
"Kangen hehe"
"Lo gila ya. Malem-malem gini nekat dateng kerumah gue cuma mau bilang itu aja"
"Sebenernya sih gue mau ngikut tidur disini, tapi gue tau lo pasti nolak"
Isabel hanya memutar bola matanya jengah dengan sikap Rendy ini dan menyuruh Rendy untuk segera pulang.
**
Liburan sudah tinggal menghitung hari, saat-saat seperti inilah yang sangat ditunggu semua para siswa. Begitu pula dengan keempat gadis yang asik berbincang mengenai liburan mereka. Tapi berbeda dengan Rumi yang sudah tidak sabar untuk pergi ke konser idolanya.
"Ra biasanya lo kemana kalo liburan bareng keluarga?" Tanya Isabel
"Paling juga kerumah nenek gue gabakal jauh dari itu" jawab Laura malas karena terlalu sering berlibur kesana
"Nanti lo disuruh bercerita lagi tentang liburan lo kerumah nenek" Rumi tergelak meledek Laura yang seperti anak sekolah dasar yang pasti akan mendapat tugas bercerita tentang liburan mereka kerumah nenek.
"Oh emang ada tugas kaya gitu?" Tanya Marsha
Belum sempat menjawab Marsha kembali bertanya
"Terus dikumpulin gak?" Tambahnya
"Ah elah cape gue" Isabel yang biasanya berbaik hati untuk menjelaskan maksud percakapan mereka sudah merasa lelah.
"Cape kenapa Bel?"
Kompak ketiganya menatap Marsha dengan wajah malasnya.
Karena hari ini sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar mereka memutuskan untuk pulang lebih siang dari biasanya. Karena mereka pasti memanfaatkan waktu ini untuk berkumpul bersama.
"Nah ini baru bebeb nya gue" ucap Calvin pada Marsha dan berusaha untuk merangkul nya.
"Kalian kemana aja? Kenapa baru keliatan?" Tanya Aldric
"Ada kok dikelas" jawab Laura
"Basecamp yo" ajak Daniel
"Basecamp mulu, kali-kali nongkrong tuh di cafe dong" sahut Rumi
"Yo cafe sebrang dibayarin Rumi" jawab Daniel tak mau kalah
"Apaan. Ko jadi gue sih" sungut Rumi
"Mulai deh" Jerry jengkel dengan kelakuan kedua teman nya tersebut
Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke cafe sebrang atas usulan Daniel dan Rumi.
Calvin yang sedang baik hati menawarkan diri untuk jadi donatur mereka yang kelaparan. Mereka kira Calvin memang berniat membayar semua makanan nyatanya dia hanya membelikan secangkir minuman dengan varian rasa yang sama.
"Anjir nyesel gue percaya sama dia" gerutu Aldric
"Harusnya lo tuh bersyukur Al udah gue beliin minum supaya lo gak haus" jawab Calvin
Mereka yang awalnya begitu antusias saat mendengar kata dibayarin berujung pahit karena tidak sesuai dengan ekspetasi mereka.
Tiba-tiba Daniel bangkit dari kursi. "Yaudah kalian mau pesen apa?" Tanya nya
"Lo yang mau bayar Dan?" Tanya Rumi bersemangat
"Yaa bayar sendiri-sendirilah" jawabnya enteng
Sepertinya hanya mereka yang paling berisik diantara meja-meja lain nya karena berisi kumpulan anak sekolah. Rata-rata yang datang ke cafe itu biasanya sepasang kekasih atau para pegawai kantor yang ingin makan siang ditempat itu.
"Bego banget sih lo" Aldric menertawakan tingkah teman nya
"Makanya Jer jangan modusin cewe mulu lo" Rendy pun ikut tertawa
"Sama aja lo kaya si Calvin" cela Laura
Calvin yang merasa namanya disebut menoleh dan mengedipkan sebelah matanya pada Laura, sedangkan Laura memutar bola matanya malas.
Jerry yang tadinya berniat menghampiri seorang gadis yang duduk sendirian untuk mengajak nya berkenalan seketika sirna saat datang seorang pemuda yang bisa ditebak jika itu adalah kekasih nya. Jerry sudah tinggal satu langkah menuju meja tersebut langsung berbelok arah menuju toilet pria. Seketika semua teman-teman nya yang memperhatikan Jerry langsung tertawa terbahak-bahak.
Disisi lain Isabel sibuk dengan Rendy dan menanyakan perihal kejadian semalam yang membuatnya heran.
Sementara Rumi dan Daniel sibuk memperebutkan secangkir minuman yang masih utuh disebelah cangkir kosong milik Rumi tapi Daniel bersikeras bahwa cangkir itu miliknya.
Sedangkan Marsha menatap semua teman-teman nya dengan senyum yang menghiasi wajahnya, dia tidak menyangka bisa mendapatkan teman seaneh mereka. Walaupun aneh setidak nya Marsha bahagia berteman dengan mereka dan segala kekonyolan nya.
***
Semoga suka ceritanya hehe...
Jangan lupa vommentnyaaa...
KAMU SEDANG MEMBACA
Dreams Come True
FanfictionBagaimana jadinya jika seorang artis seperti Why Don't We jatuh cinta pada seorang fans? Berawal dari rencana mereka untuk mengenal lebih dekat dengan fans hingga menjadi sebuah kisah perjalanan tour yang menyenangkan. "Aneh. Kenapa rasanya gue gama...
