Part 14✅

2.2K 122 8
                                        

Selesai mereka makan, mereka pergi menonton film horor. Kiara yang memilihnya. Ia duduk berdua bersama Erlan.

Disana, Kiara diam saja. Tatapannya lurus kedepan. Tangannya digenggam erat oleh Erlan seakan Erlan tidak ingin kehilangan Kiara. Lagi.

2 jam kemudian, film itu berakhir. Mereka mampir ke sebuah rumah makan untuk makan malam. Disana, Kiara lebih banyak fokus dengan handphone.

"Ra? " panggil Kinan pelan.

"Hmm.." tatapannya masih pada handphone nya.

"Ra.. " panggilnya lagi.

"Iya?"

Masih seperti tadi. Semuanya kini melirik ke arah Kiara. Erlan juga heran kenapa Kiara tidak seperti biasanya. Ia merasa Kiara bukan Kiara yang sebenarnya.

"Kiara, " panggil Kinan tegas. Sangat tegas.

"Bentar. Nanggung.." jawab Kiara.

Erlan yang peka menurunkan handphone Kiara dari tangan gadis itu.

"Kenapa sih?!" tanya Kiara sedikit kesal.

"Handphone handphone Handphone. Handphone terus. Dulu, lo bilang ke kita kalau lo paling nggak suka saat kita kumpul ada yang sibuk sama handphone nya, " ucap Kinan kesal.

Yang lain hanya memperhatikan Kinan bicara karena yang lain pun merasa begitu.

"Hh.. Ya terus?" jawab Kinan cenderung malas.

Kinan mengernyit. Ada apa ini?

"Serius, Ki?! Lo nggak ngerti maksud gue?!" ucap Kiara sedikit menyentak.

Kiara hanya menggedikkan bahunya cuek.

Bianca ingin sekali rasanya untuk marah. Tapi dia tahu, marahnya tidak akan berpengaruh apapun terhadap Kiara. Begitu juga dengan Andin dan Cathrin.

Kaum adam? Mereka hanya cengo.

"Ra! Lo tuh kenapa sih?! Lo makan apa di Inggris sampe lo jadi kayak gini?! Kita semua kangen ke lo! Kita semua pengen quality time sama lo! Tapi kenapa lo kayak gini?! Kita hargai kebiasaan lo! "

"Gue nggak minta kalian hargain," ucapnya ketus.

"Ki.. " panggil Erlan pelan berusaha menenangkan Kiara.

"Apa?! Gue nggak pernah minta kalian hargain gue! Gue juga nggak minta kalian tetep sama gue! Gue cuma pengen kalian tulus! Ya! GUE EGOIS! KALIAN TAU ITU!" ucapnya marah.

Namun, Erlan merasa ada yang beda dari Kiara. Begitu juga Sam. Dia merasa Kiara yang sekarang bukanlah Kiara yang dulu ia kenal.

Sam memperhatikan Kiara lekat-lekat.

Kinan kini diam. Ia terlalu marah untuk menanggapi Kiara.

"Ki.. Kemana lo yang dulu? Gue kangen lo.. Pulang ya, Ki.. " ucap Sam sembari menatap Kiara lekat. Seakan dengan begitu, Kiara akan 'pulang'.

Kiara tersenyum. Tapi, senyumnya itu cenderung mengerikan.

"Minta gue buat pulang ke Cathrin." 

Semuanya menoleh ke arah Cathrin yang sejak tadi biasa saja.

Cathrin terkejut sekali.

Ada apa dengan Cathrin.

"Minta Cathrin tanggung jawab, " lanjutnya.

Lalu Kiara buat berdiri, tangannya menggamit tangan Gilang.

"Ayo.." ajaknya.

Gilang berdiri, namun sebelah tangannya ditahan oleh Andin.

"Sorry.. Kita cukup sampe disini," ucap Gilang singkat namun bisa membuat Andin menangis.

Semuanya yang ada disana kaget bukan main.

Dari mulai sikap Kiara yang berbeda, Kiara yang meminta agar Cathrin 'memulangkannya',  lalu disusul dengan putusnya Gilang dan Andin secara tiba tiba.

Ada apa ini?

Namun, disitu Cathrin hanya biasa saja. Tidak menunjukkan ekspresi kaget sedikitpun.

Erlan dan Sam pergi untuk mengikuti kemana perginya Kiara dan Gilang.

"SEBENERNYA ADA APA SIH?! LO APAIN KIARA SAMPE KIARA KAYAK GITU?! JAWAB!!" bentak Bianca kepada Cathrin.

Ya, Bianca sudah marah besar kepada Cathrin.

Cathrin hanya nenyunggingkan senyum evil nya.

"Kenapa? Lo mau apain gue kalo gue ngapa-ngapain Kiara? Lo mau jauhin gue? Nggak mempan. Gue udah nggak mempan sama itu semua. Toh, gue juga nggak ngapa-ngapain Kiara. "

Bianca diam disana. Begitu juga dengan yang lain. Mereka semua diam bukan karena tidak bisa berbuat apa-apa. Melainkan mereka sudah terlalu berprasangka buruk dan akhirnya marah besar terhadap Cathrin.

"Kinara. Dia Kinara. Bukan Kiara," ucap Kinan pelan. Namun, sepertinya Kinan sangat menghayatinya.

"Gue juga mikir gitu, " ucap Andin sembari menghapus air matanya.

"Siapa Kinara?!" tanya Rio panik. Seakan ia tak percaya bahwa itu bukanlah Kiara.

"Lo mau jelasin ke kita dan kita bakal tetep maafin lo dan turutin apa yang lo mau selama itu nggak bahaya buat persahabatan kita. Atau gue yang cerita dan lo mungkin akan kehilangan kita semua? " tawar Kinan.

Ya, Kinan sudah melihat semua ini sejak 3 bulan lalu di dalam salah satu meditasinya. Ia tak menyangka kejadiannya akan semengejutkan dan semengerikan ini. Ia tidak pernah menduganya.

Cathrin diam. Ia sedang berfikir mungkin.

"Gue bakal cerita. Tapi sekarang, ikut gue. "

Mereka semua setuju. Mereka akan ikut dengan Cathrin demi sebuah penjelasan. Belum sempat mereka berdiri, handphone Cathrin berbunyi.

Tante Lucy calling

"Siapa?" tanya Gibran.

Cathrin terlihat takut. Tapi, Cathrin adalah orang yang pandai mengendalikan wajah.

"Mamanya Kiara. "

"Angkat." perintah Kinan.

'Cathrin?! Kenapa Kiara pulang?! Papanya tau Kiara pulang! Katanya kamu udah pastiin dia di Inggris. Tante udah rela ngeluarin duit banyak buat kamu dan Kiara! Tante nggak mau tau! Pokoknya kamu harus bikin Kiara pergi dari jangkauan Papanya!'

Semuanya diam. Seakan sudah diberi penjelasan oleh telfon itu.

"Maaf tante. Cathrin nggak mau lagi nyingkirin Kiara. Cathrin sayang Kiara. Soal uang yang tante keluarin buat Cathrin, Cathrin janji bakalan ganti. "

'Ini bukan soal uang, Cathrin. Ini soal semua rencana saya. Dengan kembalinya Kiara, semua rencana saya pasti gagal. Dan jika semua itu gagal, maka semua kelakuanmu akan terbongkar. '

"Maaf tante. Tapi saya sudah mengakui kesalahan saya kepada semua sahabat saya dengan ini. "

Dengan begitu, Cathrin mematikan sambungan telepon tersebut. Cathrin menatap semua temannya.

"Gue nggak percaya lo ngelakuin ini." ucap Bianca sambil geleng-geleng.

"Tega lo. " ucap Andin dengan tatapan tajamnya.

Cathrin menunduk.

"Gue tau ini percuma. Tapi gue bener-bener minta maaf."

"Lo harus minta maaf ke Kiara, Rin.. " ucap Rio lembut.

"Bukan cuma Cathrin. Gue juga salah. Gue bantuin tante Lucy," ucap Gibran sembari merangkul Cathrin.

"Kalian ----? "

Gibran mengangguk.

"Ayo kita ke suatu tempat. Kita bener bener harus jelasin ini ke semuanya dan minta maaf, " ajak Cathrin.

Rapuh [COMPLETE] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang