🍳🍳
Aku bangkit entah untuk ke berapa kalinya.
Berjalan dengan hati-hati melewati kerikil yang menghalangi jalanku.
Entah mengapa, aku bisa melihatmu menungguku di ujung jalan sana.
Karina Valenssia
🍳🍳
"KAK Sung, bantuin Karin dong!!"teriak Karin panik.
Sungut yang sedari tadi menguping di belakang pintu kamar Karin tersentak. Ia sama sekali tak mendengar percakapan apapun antara Karin dan Ana. Tiba-tiba saja Karin berteriak.
Ia pun segera masuk ke kamar itu.
"Apanek? Apanek?"teriak Sungut ikut panik ketika sampai di dalam. Ana mengernyit. Beberapa detik kemudian ia tersadar kata Apanek adalah kebalikan dari kenapa. Dasar Sungut.
"Kak Sung sini!!! Keran airnya rusak kayanya!"teriak Karin dari dalam kamar mandi.
"Iya, Kak. Dari tadi keluar terus airnya."timpal Ana.
Sungut pun segera melihat keadaan air di kamar mandi. Dan ternyata benar. Kamar mandi sudah tergenang air. Bahkan Karin sudah hampir basah karena menahan keluarnya air.
"Eh, Karin minggir sana. Biar gue aja." Karin pun menyingkir dari depan keran yang sudah patah.
"Kak Sung itu hpnya mending bawa keluar dari pada kena air. Hp-nya Kak Sung kan nggak anti air."ucap Karin.
"Oiya,"Sungut pun memberikan ponselnya pada Ana. "Ana nitip, ya?"
Ana pun mengangguk sambil tersenyum. Ana tersenyum senang. Ia tahu pasword yang Sungut gunakan karena ia pernah mengatakannya pada Ana.
AnaCantik. Yes, kebuka! Batin Ana girang.
"Karin.. ini mah kerannya patah! Kok bisa sih?"protes Sungut.
"Kayanya gak patah deh kak, coba dipasang lagi."usul Karin sambil memberikan keran yang sengaja ia patahkan dengan susah payah.
Ana langsung mengirim pesan pada Tanduk. Dengan berpura-pura lupa letak sekolahan Alan. Untungnya, Tanduk selalu online. Jadi, tak perlu menunggu lama membalasnya.
Setelah mendapat alamatnya, ia langsung mengirimkannya ke Karin. Setelah itu, ia menghapus pesannya agar tidak ketahuan.
"Ini gak bisa, Rin. Mending telpon tukang aja."
"Nggak bisa, ya?"tanya Karin sambil melirik Ana. Ana pun mengangguk sambil menunjukan jempolnya. Karin tersenyum senang.
"Nggak bisa lah!"
"Yaudah, Karin telpon, ya?"
"Buruan, airnya keburu banyak nih."
"Iya-iya!" Karin segera menelepon tukang air langganan mereka.
🍳🍳
Karin membayar angkut dengan uang dua ribu kemudian ia langsung turun tepat di depan SMA Cendekia. Sekolah Alan. Karin menatap awan yang terlihat sedih. Sepertinya hujan akan turun. Ia harus cepat.
Banyak murid yang berbondong-bondong keluar dari gedung itu. Gerbang yang besar terlihat sangat kecil ketika dilewati banyak manusia.
Apa akan sulit menemukan Alan jika begini? Entahlah. Ia pun berjalan menepi di samping gerbang itu. Beberapa murid menatapnya aneh. Mungkin karena seragamnya yang berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARIN✔
Teen Fiction[TEENFICTION] 15+ 🅔🅝🅓 { 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙝 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙣𝙜𝙖𝙝-𝙨𝙚𝙩𝙚𝙣𝙜𝙖𝙝. 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙤𝙗𝙡𝙤𝙠, 𝙮𝙖𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙤𝙗𝙡𝙤𝙠𝙞𝙣 𝙖𝙟𝙖} Dari pertanyaan rutin yang Karin, si bocah lontarkan...
