🍳🍳
Dairy, hari ini aku seneng, Kak Kevin ganteng soalnya. Hehe. Itu aja ya? Aku ga tau mau nulis apa hihi.
Karina Valenssia
🍳🍳
Kevin menaikan salah satu alisnya ketika Karin menyingkirkan beberapa pion miliknya sekaligus.
"Nah Karin menang kan?"
"Tuh, gue bilang juga apa." Sungut yang duduk di kepala sofa nampak jengah melihat permainan Karin. Mereka ada di rumah Sungut setelah latihan band. Namun, hanya beberapa yang ikut ke rumah Sungut, seperti Dylan dan Tanduk. Yang lain punya urusan katanya.
"Karin," Dylan yang ada di sebelahnya berbisik. Karin tersenyum lalu tos ria bersama Dylan. Mereka sekongkol.
"Mana bisa gitu," tutur Kevin bingung. "Benteng gak boleh jalan ke sana kemari nggak aturan gitu."
Karin menatap Kevin tajam. "Boleh! Kata siapa nggak boleh?"
Tanduk tertawa, "Pinter. Pojokin terus Rin!" Dukungnya.
"Boleh sih boleh, tapi namanya bukan main catur." Jelas Kevin.
"Lha terus kita main apaan dong kalau bukan catur? Ini catur Kak Kevin. Kak Kevin ngeyel ih!"
Kevin cengo. Yang ngeyel sebenernya siapa? Yang salah siapa? Yang disalahin siapa? Kevin tak habis pikir dengan jalan pikiran Karin. Memang ia pikir catur itu boneka-bonekaan apa, bisa lari sana sini.
"Kalau catur ya kamu mainnya sesuai aturan dong. Kan gak boleh gitu," Kevin mengembalikan benteng milik Karin ke tempatnya semula. Lalu membenarkan pion-pion yang Karin tubruk secara acak.
"Kok gak boleh sih? Kan yang main Karin! Ya terserah Karin dong!"
Tanduk menahan tawanya melihat wajah Kevin nampak kalah. Ia tak pernah melihat Kevin mengalah selama ini. Bahkan, dengan teman-teman terdekatnya sekalipun. Tapi, apa ini? Kevin mengalah hanya karena main catur dengan Karin.
"Yaudah deh iya, aku kalah." Ucap Kevin akhirnya. Karin berteriak senang.
"Yuhuu!! Karin menang!!"
Sungut menggeleng tak mengerti. "Menang apanya? Main aja gak bisa." Ledeknya.
"Bisa. Nyatanya Karin menang."
"Itu Kevin yang ngalah." Balas Sungut lagi. Karin mengerutkan kening.
"Baiklah, kita akan bertanya pada tuan Kevin. Ehem.." Karin cek sound seperti pembawa berita di televisi membuat Kevin menahan senyum. "Menurut kejadian beberapa menit yang lalu, jawablah dengan kebohongan. Apakah anda mengalah?"
"Emang ada pembawa berita kek gitu?" Sinis Dylan.
"Diam, kau ferguso!" Karin melemparkan satu pion hingga mengenai dahi Dylan.
"Eh anjir! Sakit tauk!"
"Lebay!" Tanduk ikut-ikutan melempar pion, jadilah mereka lempar-lemparan pion.
"Ayo jawab!" Tuntut Karin.
"Iya-iya. Menurut kejadian beberapa menit lalu, dengan kebohongan.. saya tidak mengalah." Jawab Kevin akhirnya.
"Apaan sih? Karin curang!" Seru Sungut tak terima.
"Syirik aja! Kak Kevin aja diem." Karin melemparkan bantal kecil di sebelahnya pada Sungut. Namun, Sungut berhasil menghindar.
"Apa? Nggak kena!"
Karin pun berdiri. Ia melemparkan bantal-bantal kecil di sekitarnya dengan brutal pada Sungut. Mereka berlarian seperti Dylan dan Tanduk yang saling melempar. Berteriak ke sana- ke mari membuat ruangan itu penuh dengan kegaduhan. Kecuali Kevin yang sudah mager untuk meladeni mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARIN✔
Novela Juvenil[TEENFICTION] 15+ 🅔🅝🅓 { 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙝 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙣𝙜𝙖𝙝-𝙨𝙚𝙩𝙚𝙣𝙜𝙖𝙝. 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙤𝙗𝙡𝙤𝙠, 𝙮𝙖𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙤𝙗𝙡𝙤𝙠𝙞𝙣 𝙖𝙟𝙖} Dari pertanyaan rutin yang Karin, si bocah lontarkan...
