🍳🍳
Jika memang hati yang bicara maka mata akan menunjukan jalannya.
~Karina Valenssia
🍳🍳
“Mama!!” Panggil Karin dengan wajah yang sedikit khawatir karena melihat kakaknya, Sungut dijewer oleh kedua orang tuanya. Seketika itu, Rina dan Nawas langsung berbalik menghadap seseorang yang telah menyuaraakan panggilan tadi.
“Karin!!” Teriak Rina tak kalah kerasnya. Ia pun langsung berlari memeluk gadis berseragam SMA yang sudah sangat lusuh dan lecek. “Kamu dari mana? Kamu baik-baik aja, kan? Ini lagi baju sampe kotor. Kamu dari mana heh? Pulang jam segini? Kamu tau gak Mama sama Papa itu khawatir. Kamu lari-lari kehutan juga buat apa, heh? Kalau ilang digigit bunglon gimana?” Cerocos Rina membuat Karin terkekeh kecil.
Ketika Karin ingin menjelaskan sesuatu, Rina langsung melotot dan memotong ucapannya. Rina terlihat sangat marah ketika melihat Kevin juga berpenampilan kusut di belakang Karin.
“Oh, jadi kamu yang buat anak saya pulang jam segini? Pake baju kotor lagi? Gak puas kamu nyakitin Karin?” Tuduh Rina pada Kevin yang masih diam menerima semua perkataan Rina.
“Kevin? Kamu yang bawa Karin?” Tanya Nawas dengan tatapan menuduh. Sekali lagi, Kevin hanya diam. Ia tak berniat memperkeruh suasana yang sebenarnya sudah keruh sejak Sungut mengulah.
”Karin, kamu gak papa kan? Ada yang sakit?” Tanya Ana mengalihkan perhatian Karin pada Kevin. Karin mengangguk kecil sambil tersenyum.
“Untung aja lo gak kenapa-kenapa, Rin!” Tanduk menghela nafas.
“Kalian buta? Liat tangan Karin!!” Seru Sungut khawatir.
“Eh, ini nggak papa kok. Beneran! Tadi, Kak Kevin udah obtain Karin,” jawab Karin masih dengan senyumannya.
“Kamu apain anak saya?” Kembali, Nawas menuduh Kevin yang masih diam di ambang pintu.
“Kak Kevin gak apa-apain Karin kok!" Seru Karin sedikit panik.
"Maaf om, saya buat Karin masuk hutan. Saya juga yang buat tangan Karin terluka. Saya juga yang udah buat Karin hujan-hujan." Ucap Kevin tiba-tiba. Sungut dan Tanduk langsung menoleh pada sahabat mereka. Dan kedua makhluk itu tentu saja tahu apa yang terjadi, terutama mengenai Linda.
"Minta maaf gampang, ya?" Kata Nawas tajam. Kevin hanya diam namun matanya tanpa ragu menatap mata Nawas yang sudah melotot sejak tadi.
"Eh, nggak Pa! Kak Kevin yang nganterin Karin pulang malah. Kak Kevin juga.. udah minta maaf ke Karin, kok." Ucap Karin mencoba meredakan amarah kedua orang yang sudah ia anggap orang tuanya.
"Kamu? Maafin dia? Gampang banget maafinnya. Kamu gak inget Karin? Kamu sampai sakit gara-gara Kevin, kan?" Rina mengusap rambut Karin yang kusut dengan lembut. Karin tersenyum kecil.
"Iya, Mama Karin.. Karin tau. Cuma, sekarang udah beda. Yang waktu itu kan gara-gara Linda yang sok drama itu. Kak Kevin juga udah tau sekarang. Jadi, jangan salahin Kak Kevin, ya? Kalau nyari yang salah sebenernya semua orang bisa dianggap salah. Kalau gitu, kapan selesai nyalahin orang. Mama ngerti Karin, kan?" Karin menatap Rina dengan senyuman yang tak memudar. Perlahan kerutan di kening Rina memudar. Begitu pula senyumnya yang mulai mengembang.
"Iya, Mama ngerti Karin. Tapi, Kalau Karin sakit lagi gimana?"
Karin pun mengangguk kecil. Ia pun langsung membisikkan sesuatu pada Rina dengan raut wajah yang senang. Seketika Rina yang heran langsung melototkan matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARIN✔
أدب المراهقين[TEENFICTION] 15+ 🅔🅝🅓 { 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙝 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙣𝙜𝙖𝙝-𝙨𝙚𝙩𝙚𝙣𝙜𝙖𝙝. 𝘾𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙤𝙗𝙡𝙤𝙠, 𝙮𝙖𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙤𝙗𝙡𝙤𝙠𝙞𝙣 𝙖𝙟𝙖} Dari pertanyaan rutin yang Karin, si bocah lontarkan...
