Makhluk bernama Enderman itu menatap tajam kepadaku, seolah haus darah. Keadaanku sangat lemah sekarang.
Aku mendecih. "MP milikku hanya tersisa 50, itu takkan cukup untuk menggunakan magic," gumamku dalam hati.
"Air adalah kelemahannya!! Pergilah ke mata air dan menyelamlah!!"
Suara itu kembali terngiang di kepalaku. Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya, tetapi aku sangat berterima kasih kepadanya. Aku segera mengedarkan pandanganku ke sekitar dan aku menemukan sebuah mata air yang berjarak setengah meter dari sini. Aku segera berlari dengan sekuat tenaga menuju mata air itu. Meski sempat terjatuh beberapa kali, akhirnya aku berhasil mencapai mata air tersebut. Aku segera melompat dan menyelam. Makhluk tersebut berusaha menyelam juga, tetapi ia terlihat sangat kesakitan setiap kali tubuhnya menyentuh air. Meskipun begitu, ia terus mencoba menyelam.
"Bodoh," batinku sembari terus menahan napas.
Tampaknya MP ku sudah terisi ulang. Kini MP ku berjumlah 100, cukup untuk mengeluarkan sihir kegelapan. Aku mengarahkan tanganku ke arah Enderman itu, kemudian aku berucap dalam hati.
"Magic: Dark Element: Dark Pierce!!"
Seketika muncul beberapa pecahan batu berwarna hitam yang segera menghujani Enderman tersebut dari belakang. Enderman itu terlambat menyadarinya. Ia tewas seketika dan hanya menyisakan EXP point serta sebuah permata berwarna kehijauan. Aku segera menyimpan permata tersebut di saku dadaku dan melanjutkan perjalananku menuju kota yang tadi kulihat dari atas bukit. Jarakku yang semakin dekat dengan kota menyebabkan tak banyak lagi makhluk-makhluk aneh yang bermunculan.
Tak lama kemudian, aku pun tiba di depan gerbang kota. Kota ini dikelilingi oleh tembok batu dan gerbang kota dijaga oleh dua orang yang bertubuh kekar serta memakai baju zirah dan ketopong kesatria. Masing-masing dari mereka menggenggam sebuah pedang. Penjaga gerbang di kota ini tak hanya mereka, beberapa orang yang juga mengenakan baju zirah dan bersenjatakan busur sedang berdiri di atas tembok kota yang tinggi ini. Aku dapat melihatnya karena mataku yang tajam ini. Para pemanah tersebut menatap lurus ke arah kegelapan malam, seolah menantang kegelapan tersebut. Mereka tampak siap menghadapi makhluk apapun yang akan keluar dari kegelapan itu, demi melindungi kota ini.
"Tunjukkan kartu identitasmu."
Gawat!!
Aku tak memiliki itu. Jika aku tak segera menunjukkannya, mungkin aku akan dianggap sebagai penyusup!!
Tunggu... aku punya ide bagus... semoga ini berhasil...
"Aku belum membuatnya," ujarku.
"Jangan bercanda!! Seharusnya setiap penduduk berumur 17 tahun ke atas sudah memiliki kartu identitas!" ucap penjaga tersebut.
"Aku baru saja datang dari kota kecil yang jauh, dan tempatku berasal tidak memerlukan kartu identitas," sahutku.
Penjaga itu berpikir sesaat. Apakah dia menyadari kalau aku menipunya?
"Baiklah, anggap saja kami percaya padamu."
Re-rencanaku berhasil?!
"Tapi kau harus secepatnya membuat kartu identitas di kantor administrasi, kami akan ikut denganmu sampai kau membuat kartu identitasmu karena bisa saja kau adalah penyusup atau teroris."
Astaga, merepotkan sekali. Seorang dewa dicurigai sebagai teroris di dunia buatannya? Ini sama sekali tidak masuk akal!! Tapi aku menuruti saja perintah mereka, itu lebih baik daripada dicap sebagai penyusup atau teroris.
"Baiklah," ucapku dengan pasrah.
Penjaga itu menoleh ke arah teman-temannya yang berada di atas tembok kota.
"Yuuki!! Yoshiro!! Tolong gantikan aku untuk sementara."
"Baik!!" sahut seorang pria berambut hitam pendek dan seorang wanita berambut merah terang yang dibiarkan memanjang sampai ke punggung.
Kedua pemanah tersebut meletakkan busur mereka dan mengeluarkan pedang mereka, kemudian mereka melompat turun ke bawah dan mendarat dengan sempurna di tanah. Aku kagum dengan ketahanan tubuh mereka. Walaupun mereka melompat dari tembok yang tinggi ini, mereka terlihat tak merasakan sakit sedikitpun.
Aku memasuki kota dan berjalan menuju kantor administrasi dengan didampingi oleh dua orang penjaga gerbang yang berperan sebagai pengawas sekaligus penunjuk jalan.
"Hff... aku merasa seperti tahanan. Tapi apa boleh buat."
to be continued

KAMU SEDANG MEMBACA
RE: Legend (The Past of The Lord)
FantasíaStory ini adalah flashback dari story RE: Herobrine) Sejarah dan masa lalu yang terselubung dalam misteri... Akan segera terungkap... Zero adalah seorang manusia biasa yang secara tak sadar menciptakan sebuah dimensi bernama MineRealm, dimensi yang...