Chapter 17: Masa Lalu Hikari (2)

12 3 0
                                    

"Ma-Masa lalumu? Boleh sih," ujar Zero.

"Zero ...," ucap Hikari. "Kau ... bukan berasal dari dunia ini, bukan?"

Seketika, keterkejutan menghampiri Zero. Kedua matanya membelalak lebar. Mulutnya ternganga. "Ba-Bagaimana bisa kau tahu?"

"Pancaran energi kehidupanmu," ujar Hikari. "Aku menerawang pancaran energi kehidupanmu lewat Eagle's Eye, dan mendapati bahwa pancaran energimu sama dengan milikku."

"Jadi, kau juga berasal dari ...." Ucapan Zero terputus. Keterkejutan tergambar semakin jelas di wajahnya.

"Ya," sahut Hikari. "Aku juga berasal dari bumi, tepatnya dari Tokyo, Jepang. Hikari adalah nama asliku. Aku hanya mengganti nama belakangnya saja. Nama asliku adalah Hikari Sakuramoto."

"Jadi begitu ...," ujar Zero. "Kalau aku berasal dari London, Inggris. Perkenalkan. Namaku adalah Zero Nightwoods. Di London, profesiku adalah petualang dan pecinta alam. Jadi, kau juga dikirim ke dunia ini dari Jepang?"

"Ya," ujar Hikari. "Atau mungkin lebih tepatnya, direinkarnasi."

"Direinkarnasi?" ujar Zero. "Jadi kau sebenarnya sudah mati?"

"Ya ...."

Hikari kembali menundukkan kepalanya. Wajahnya kembali memancarkan kesedihan yang mendalam. Suasana sendu mulai menghampiri kedua pemuda-pemudi tersebut.





(Bisa diputar backsound di atas ☝🏻☝🏻☝🏻☝🏻☝🏻☝🏻)












"Dulu, aku merupakan putri dari seorang direktur perusahaan yang ternama. Aku menjalani masa kecilku dengan sangat bahagia. Meskipun ibuku telah lebih dulu meninggal saat melahirkanku, aku memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat baik hati dan selalu melindungiku. Sebuah keluarga yang amat sempurna."

"Namun, ketika aku berumur 15 tahun, ayahku ditembak mati oleh saingan bisnisnya. Kakakku yang pada saat itu berusia 20 tahun dan masih kuliah di jurusan manajemen bisnis pun terpaksa mengambil alih perusahaan. Meski ayah telah tiada, keluarga kami tetap menjalani hidup dengan mampu dan baik. Sampai suatu hari, kakakku ditipu oleh rekan bisnisnya yang membawa lari uang perusahaan. Akhirnya, kami jatuh miskin dan terlunta-lunta.

"Aku mulai putus asa, tapi kakakku menyemangatiku. Kakakku tidak menyerah. Ia mendirikan sebuah toko kecil dan terus berjuang. Kakakku berkata: 'Jangan khawatir, Hikari. Aku pasti akan selalu melindungimu. Aku akan berjuang. Karena itu, kau juga harus berjuang, ya?'"

"Semangatku mulai bangkit kembali. Aku juga berjuang dengan bekerja sambilan di mana-mana. Waktu terus berlalu, dan lima tahun kemudian toko kakakku menjadi semakin besar, dan nama toko kami menjadi semakin terkenal. Toko kami memiliki cabang di mana-mana. Bahkan, tiga tahun kemudian, kakakku berhasil mendirikan perusahaan startup sebagai ganti perusahaan kami yang bangkrut. Aku membantu usaha kakakku, dan di sanalah aku berkenalan dengan putra dari salah seorang rekan bisnis kakak. Kami berdua semakin dekat, dan akhirnya kami menyadari bahwa kami saling mencintai. Dia melamarku, dan tak lama kemudian kami bertunangan."

"Aku mulai berpikir bahwa masa kelam hidupku telah usai dan harapan baru telah muncul. Namun, semua itu sirna hanya dalam waktu seminggu. Satu minggu setelah aku dilamar, segerombolan perampok mendatangi rumah kami pada tengah malam. Aku yang terbangun karena mendengar suara aneh sempat menjadi sasaran mereka, tapi kakakku melindungiku. Kakakku mencoba melawan mereka dan menyuruhku untuk lari. Akhirnya, kakakku tewas terkena tembakan mereka, dan tak lama kemudian peluru pun menembus kepalaku. Aku gagal melarikan diri. Para perampok itu menggeledah rumah kami, tapi akhirnya menyerah karena tidak menemukan apa-apa. Tentu saja, karena kami telah menyembunyikan harta dan perhiasan di tempat yang hanya diketahui oleh kami berdua. Kemudian, dengan bermaksud melenyapkan jejak-jejak kedatangan mereka, perampok-perampok itu membakar habis rumah kami. Untuk kedua kalinya, semua harta kami lenyap."

Hikari semakin menundukkan kepalanya. Wajah cantiknya mulai tersembunyi oleh bayangan. Ia tersenyum miris. Sorot mata keemasannya mulai memudar dan menjadi semakin kelam. Zero yang melihat itu hanya mampu menatap wanita tersebut dengan iba.

"Aku berpikir bahwa masa kelam hidupku telah usai, tapi ternyata penderitaanku baru saja dimulai. Kupikir harapan abadi telah menghampiriku, tapi ternyata semua yang kumiliki dan kudapatkan dengan susah payah habis tak bersisa hanya dalam waktu seminggu."

Perlahan, air mata menggenangi sorot mata indah milik Hikari, mengalir turun membasahi wajahnya.

"Kemudian, dewa memberiku kesempatan kedua untuk hidup. Aku direinkarnasi dan dikirim ke dunia MineWorld ini. Rupanya, kisah hidupku masih belum berakhir. Harapan kedua menghampiri diriku. Karena itulah, aku tak ingin menyia-nyiakan harapan yang satu ini. Aku berusaha membangun relasi sebanyak-banyaknya, berusaha melindungi semuanya, menjaga semuanya. Karena itulah, aku mengajukan diri untuk menjadi ketua unit pasukan khusus. Aku tak ingin ada yang menderita lagi. Aku tak ingin ada yang tersakiti lagi. Aku tak ingin mereka merasakan perasaan tidak berdaya yang pernah kurasakan dulu. Aku tak ingin semua yang kumiliki habis tak bersisa dalam waktu singkat untuk yang kedua kalinya. Mungkin terkesan agak egois, tapi aku ingin melindungi semuanya."

"Dunia ini adalah hartaku ..., harta karunku yang paling berharga!! Mungkin terkesan sok pahlawan, tapi aku ingin terus berjuang demi melindungi dunia ini, meski mungkin aku belum memahami dunia ini sepenuhnya. Dunia inilah satu-satunya yang kumiliki. Aku ingin menjaga relasi dan kenangan yang tinggal dan memenuhi dunia MineWorld ini, tak peduli apapun yang akan terjadi dan seberapa besarpun resikonya. Apapun yang akan terjadi, aku takkan pernah menyerah!!! Aku akan terus bertarung, meski harus kehilangan nyawaku sekali lagi!! Aku ingin ... melindungi mereka semua!!!"

Zero tersenyum penuh kekaguman sembari menatap ke arah Hikari yang tampak dipenuhi tekad meski wajahnya masih berlinang air mata. "Aku kagum padamu, Hikari," ucapnya.

"Hm?"

"Jika aku mengalami hal yang sama denganmu, mungkin saat ini aku sudah menentang dewa atau menjadi tokoh antagonis demi melampiaskan dendam dan kebencianku. Tapi, kau memilih untuk terus berjuang dan melindungi apa yang kau anggap berharga. Kau benar-benar wanita yang kuat, Hikari."

"Tapi, biarlah masa lalu hanya menjadi masa lalu. Kita boleh mengenang, tapi tidak boleh merasa gusar terhadap kenyataan. Yang harus kita lakukan sekarang adalah terus berjuang dan pantang menyerah." Zero melanjutkan ucapannya sembari mendekat ke Hikari, kemudian menghapus air matanya, membuat wajah perempuan tersebut merah merona. "Jadi, mari kita terus berjuang bersama, ya?"

"B-Bodoh!! Jangan bersikap sok keren!!" Hikari memalingkan wajahnya yang sekarang sudah semerah tomat.

Untuk sementara, kecanggungan mengisi suasana. Kemudian, perut Zero berbunyi tanda lapar, bagai sebuah alarm. Zero menengadahkan wajahnya ke langit biru yang cerah. Tampak matahari telah berada tepat di atas kepala.

"Ah, sudah jam 12. Mungkin kita akan makan siang dulu," ucap Zero, kemudian ia menoleh ke arah Hikari. "Kau ingin makan apa? Bebas. Aku yang traktir."

"Sungguh?!" Mendadak Hikari yang tadinya malu-malu kucing menoleh ke arah Zero dengan sorot mata penuh haru.

Zero tersenyum ramah. "Iya," ujarnya.

"Baiklah, kalau begitu, ramen di kedai biasa, ya!!"

"Baiklah. Kedai Ramen Minamura, kan?"

"He-Hei, apa kau serius mau mentraktirku? Jangan-jangan kau malah akan meninggalkanku sendirian ketika aku sedang makan untuk menghindari tagihan."

"Tidak, kok. Aku tidak akan kabur. Aku janji."

"Horeee!!!"

Suasana sendu telah meninggalkan kedua pemuda-pemudi itu. Kini mereka menyusuri jalanan kota yang ramai dengan wajah riang sembari tertawa. Sementara itu, awan-awan yang tampak bagaikan gumpalan-gumpalan kapas terus melintas di langit, bagai sekumpulan orang yang tengah menonton drama percintaan. Tiga awan yang melintas kebetulan membentuk wajah seorang manusia yang tengah tersenyum bahagia.








Seolah-olah Sang Langit tersenyum senang melihat adegan romantis tersebut.









To be continued





Coming Soon

Chapter 18: Waktunya Ramen





(Author: Gimana? Adegan sedih dan romantisnya bagus, gak? :v)




RE: Legend (The Past of The Lord)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang