INDAH. Seperti itulah gadis kecil berjilbab merah muda itu melihat bunga-bunga mawar yang bermekaran di taman kota. Mata lebarnya tampak berbinar tatkala sepasang kupu-kupu hinggap di atas kelopak mawar yang merah. Dengan gerakan mengendap-endap ia berusaha menangkap seekor kupu-kupu yang berwarna kuning, tetapi gagal karena hewan bersayap itu lebih dulu terbang.
Bibir mungil gadis itu mengerucut dan matanya yang tadi berbinar mulai berkaca-kaca. Dengan cepat ia berlari menuju wanita dewasa berhijab yang tengah duduk santai di atas tikar di depan kolam.
"Bunda ..." rengeknya seraya memeluk sang bunda.
"Ada apa, Sayang? Cantiknya bunda kenapa nangis?" Wanita itu segera meraih putri kecilnya ke dalam pangkuannya dan mengusap bulir air mata yang berlinangan.
"Lala mau nangkap kupu-kupu ... tapi kupu-kupunya malah terbang."
"Kenapa kupu-kupunya ditangkap, nanti dia tidak bisa terbang lagi, dong."
"Bisalah, Bun, kan nanti Lala lepasin lagi kupu-kupunya."
Dengan lembut bunda merapikan helaian rambut Lala yang mencuat keluar dari hijabnya, lalu berkata, "Lala tahu tidak kalau sayap kupu-kupu sangat tipis. Bahkan sebutir debu atau setetes air saja dapat membuatnya kesulitan terbang, apalagi jika sayapnya dipegang oleh jemari Lala yang embul ini." Bunda meremas kedua tangan Lala dengan sedikit menggelitik hingga membuat gadis itu tertawa kegelian.
"Kupu-kupu adalah salah satu ciptaan Tuhan yang memang sangat indah. Namun menikmati keindahan itu tidak harus dengan membuatnya berada dalam genggaman kita. Cukup dengan memandangnya dan membuatnya tetap terbebas adalah perbuatan yang jauh lebih mulia," kata bunda mengakhiri penjelasannya.
Lala menganggukkan kepalanya dengan lucu, lalu mencium pipi bundanya. "Terima kasih, Bunda. Karena Bunda, Lala tidak jadi menyakiti kupu-kupu cantik itu."
"Indah, ya?" ungkap Raya dengan kedua matanya yang masih lekat memperhatikan tayangan di televisi. Seorang ibu dengan anak gadisnya yang berpelukan di antara bunga-bunga bermekaran dan kupu-kupu yang berterbangan.
Arya yang tadinya sibuk dengan koran paginya ikut menatap ke arah fokus Raya. "Di belakang rumah kita kan banyak mawar dan melati yang semuanya indah, Sayang."
"Ihhh!" Raya memukul pelan sebelah tangan Arya yang sejak tadi melingkari pinggangnya. "Bukan bunganya, Ayah, tapi keharmonisan si anak dan bundanya," katanya sedikit kesal.
Mata Arya mendadak berbinar mendengar panggilan yang disebutkan Raya padanya. "Coba katakan sekali lagi, Sayang."
"Apa?"
"Ayah. Katakan sekali lagi."
Raya tertawa kecil mendengar permintaan Arya, tetapi tetap mengiyakannya dan kembali memanggil Arya dengan sebutan itu. Hal itu membuat hati Arya membuncah oleh perasaan bahagia. Dipeluknya erat tubuh istrinya dan dielus perutnya yang membuncit dengan sayang.
Kehamilan Raya sudah memasuki bulan keempat dan pergerakan bayinya sudah mulai terasa. Pada saat-saat seperti ini Arya semakin enggan meninggalkan istrinya dan ingin selalu menemani agar dapat memantau perkembangan kehamilan Raya. Ini adalah kali pertama baginya dan Arya ingin menjadi suami yang selalu siap siaga. Waktu kelahiran memang masih lama, tetapi wanita hamil selalu tidak terduga, kan? Ada saja yang mendadak diinginkan dan Arya ingin selalu bisa memenuhinya.
"Cara wanita itu menjelaskan tentang kondisi si kupu-kupu kepada anaknya sangat bijak, sehingga anaknya tidak merasa berkecil hati. Aku ingin menjadi ibu yang seperti itu bagi anak-anak kita nanti," ucap Raya dalam pelukan Arya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodohku Bukan Penggantimu
RomanceRaya tahu seseorang sedang mengawasi mereka, bahkan ketika Aryanka Dylan berlutut di hadapannya, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jasnya. Arya membuka kotak beludru berwarna merah itu dan mengulurkannya pada Raya. "Radista Anggitya...
