Aku tidak tahu aku berada dimana. Semuanya putih. Sejak tadi yang kulakukan hanyalah berjalan. Aku tidak tahu aku berada dimana.
Lia... kemari!
Suara siapakah itu? Suara yang dalam dan berat. Aku merasa aku pernah mendengarnya. Tanpa sadar kakiku sudah melangkah mengikuti suara itu. Sampai aku melihat asal suara itu.
Seorang pria tersenyum dengan wajah sendu.. Di sampingan terdapat pintu panjang berwarna hitam. Matanya memandangiku penuh harap. Rambut coklatnya bergerak-gerak karena angin. Baru kusadari, pria itu melayang.
"Siapa kau?" tanyaku perlahan yang membuat senyumnya menghilang.
Pria itu menatap sesuatu di bawah sambil tersenyum. Pria itu mengendikkan bahunya. "Aku adalah penyebab kelamnya keseharianmu."
Entah mengapa hati kecilku mengetahui kalau perkataannya hanyalah kebohongan. Pria berwajah sendu dengan tatapan lembut itu, tidak mungkin akan melakukan kejahatan.
Tiba-tiba aku mengingat kalung pemberian pria itu. Aku melepaskan kalung itu dan menunjukkan kalung itu di hadapannya. "Artinya i love you, kan?"
Pria itu kini menatap kalung itu dengan senyuman manis. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya. Aku tercengang. Kalung yang sama persis denganku. Hanya saja kalungku terbuat dari perak sedangkan miliknya terbuat dari emas.
"Sudah mengerti, kan?" pria itu kembali menaruhnya di kantung jaketnya, sedangkan aku kembali memakai kalungku. "Bagi mereka aku adalah emas dan kau adalah perak. Karena silauku kau menjadi terlupakan. Aku mengira kepergianku membuatmu bisa memamerkan silaumu. Ternyata semuanya malah memburuk."
Pria itu memutar kenop pintu kemudian masuk ke dalamnya. Aku menggeleng. Aku harus mencari tahu siapa dia. Aku berlari sekuat tenaga. Jarak yang dekat terasa menjauh. Sebelum pintu itu tertutup aku harus kesana. Sedikit lagi!
Teng! Teng! Teng! Mataku membulat. Ketika suara bel berbunyi, pintu itu mulai menghilang. Aku menggeleng. Kupercepat langkahku. TENG!!! Pintu menghilang. Tepat saat tanganku sudah menyentuh kenop pintu.
Aku terjatuh dengan wajah mencium tanah. Air mataku mengalir deras. Aku merasa telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagiku.
Aku mencoba untuk duduk. Kuseka air mata yang tadi mengalir. Tapi ketika tanganku menyentuh wajahku, air mataku sudah berubah menjadi es. Badanku juga terasa membeku. Saat aku melihat sekeliling, yang kulihat hanyalah salju.
Hehehe... Hehehe...
Aku terkejut saat melihat seseorang berdiri di depanku. Dia memiliki rambut seperti landak. Matanya sipit dan kulitnya putih. Dia menyeringai. Dia memakai jubah hitam panjang yang menutupi tubuhnya. Mataku membulat seakan tak percaya. Ni... Nie-
"Bukan!"
Aku menoleh ke kanan. Ada seorang anak lelaki sedang duduk di sebuah batu. Umurnya kira-kira sama denganku. Dia memiliki rambut pirang yang berantakan. Kulitnya yang putih cenderung pucat. Dia mengarahkan senyumannya yang merendahkan saat iris mata biru kami bertemu.
Sama seperti seseorang yang ada di depanku, dia juga memakai jubah hitam. Hanya saja jubahnya lebih terbuka. Dia memegang sebuah tongkat kayu di tangannya.
"Siapa kamu?" tanyaku hati-hati.
Dia tidak menjawab. Hanya gemeretak giginya yang terdengar. Dia berdiri, mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi tepat saat tangan-tangan hitam mulai bermunculan dari bawah. Tangan-tangan itu sepertinya ingin menangkapku. Sekilas sebelum tangan-tangan itu menutupi tubuhku, aku dapat mendengar gumaman yang di ucapkan seseorang yang ada di depanku.
Gelap. Semuanya gelap. Aku tidak bisa kemana-mana. Rasanya seperti ada yang menahan pergerakanku. Aku dapat mendengar banyak suara di luar. Tapi aku tidak bisa melihat apa-apa.
"Lia...,"
Ada suara lagi. Orang yang kukenal. Secercah sinar tiba-tiba muncul di hadapanku. Sinar itu menerang hingga akhirnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Seorang anak lelaki.
"Niel?"
Niel mengangguk. Dia memegang daguku dan mendaratkan bibirnya tepat di bibirku. Aku kaget. Tapi saat aku ingin melepaskan ciuman tiba-tiba ini Niel segera memelukku. Aku berusaha keras melepaskan tubuhku. Tapi semakin keras usahaku, semakin liar dia melumat bibirku.
Sekelebat cahaya tiba-tiba mengenai Niel. Tubuhnya segera kembali menjadi cercahan cahaya kemudian menghilang. Kegelapan ini semakin lama semakin menghilang. Aku baru sadar aku tidak memijak tanah ketika kegelapan ini benar-benar menghilang. Dan ya, aku terjatuh!
Aku pasrah. Aku bahkan belum mengingat secuil ingatanku dan aku sudah akan mati. Saat aku sudah siap untuk mati, aku merasakan ada tangan yang menangkapku.
Seorang gadis mungil berambut hitam ikal dengan mata berwarna abu-abu sedang menatapku. Saat aku melihat ke bawah, baru kusadari. Kami sedang terbang. Terbang? Bagaimana gadis ini bisa terbang?
Perlahan kami mendarat. Dia tidak bicara sama sekali. Dia cantik sekali. Kulitnya putih seperti porselen. Bibir dan pipinya berwarna merah alami. Tatapan matanya kosong, tapi tajam. Baru kali ini aku melihat gadis yang lebih cantik dari Wisye.
Dia menurunkan dengan lembut. Aku lega saat kakiku dapat kembali memijak tanah. Tapi lututku lemas. Aku jatuh terduduk. Tak tau apa yang akan menimpaku berikutnya membuatku ketakutan. Apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu?
"Pelcuma." aku menatap gadis yang akhirnya bersuara ini. Gadis yang seperti boneka."meski kau belusaha untuk mengingatnya, tidak akan ada ingatan yang telbuka."
"Mengapa bisa begitu?"
Gadis itu hendak membuka mulutnya tapi terhenti ketika seorang anak lelaki tiba-tiba memeluknya. Anak yang sama yang duduk di batu.
"Moaaaa!!! Istriku tercinta! Akhirnya kita bertemu setelah sekian lama!"
Istri? Gadis semungil ini adalah istri orang jelek ini?! Anak lelaki itu memangku gadis kecil sambil memeluknya. Sesekali dia mengelus dan mencium puncak kepala gadis itu. Mereka sibuk berdua. Melupakan aku yang hanya bisa menatap mereka iri.
Seharusnya aku tidak berada disini...
"Ngga. Memang seharusnya kau berada disini."
"Aku punya banyak pertanyaan."
"Dan aku tidak punya dan tidak bisa menjawab semua pertanyaanmu."
Entah sejak kapan, baru kusadari anak lelaki ini berubah. Iris birunya berubah menjadi merah, rambut pirangnya berganti warna menjadi hitam, sayap hitam mencuat keluar dari punggunya, badannya juga semakin membesar. Kini gadis itu tampak seperti boneka asli di pangkuannya.
Dia menyeringai. Tampaklah taring di antara deretan giginya. Kini sosoknya tampak lebih dewasa dan tampan daripada yang tadi. Dan entah mengapa gadis itu terlihat sangat nyaman berada di pangkuannya.
"Aku, Roberto Stephene. Raja para demon."
Dia mengatakan hal itu dengan sangat santai. Seolah gelar raja hanya mainan untuknya. Aku melirik gadis kecil yang tengah bersantai di pangkuannya.
"Konno Moa. Olang-olang memanggilku Clockwolk Plincess! Istli Totto!" ucapnya dengan penuh kebanggaan.
Mungkin maksud gadis ini Clockwork Princess. Aku menggaruk kepalaku. Gadis yang bahkan tak bisa mengucapkan huruf "r" dengan benar bagaimana bisa menjadi istri seorang raja demon?
Aku baru saja lengah beberapa detik dan sekarang gadis mungil itu sudah terbang dengan cahaya yang menyelimutinya. Tiba-tiba di sekelilingku muncul kartu-kartu aneh.
"Pilih salah satu!"
"Hah?" mataku membulat saat mendengar perubahan suara gadis itu. Ada tiga suara yang keluar dari mulut gadis itu. Suara anak lelaki baru puber, suara nenek-nenek, dan suara aneh seperti suara monster-monster yang ada di televisi.
"Sekarang!"
Benar-benar tidak ada lagi suara imut dari gadis itu. Yang ada hanya suara aneh yang membuat siapapun yang mendengarnya ketakutan. Aku segera memilih secara acak. Dia melirik kartu yang kupilih. Setelah itu sebuah buku muncul di hadapannya.
"Atas nama tuhan yang menciptakan, aku, sang kehidupan. Kembalikanlah waktu seperti sedia kala!"
Apa ini? Aku belum bertanya satu hal pun!
Lingkaran misterius muncul tepat di bawahku. Aku hendak berlari, tapi sebuah dinding tembus pandang menghalangiku. Kartu-kartu tadi mengeluarkan rantai yang melilitku. Meski aku berusaha untuk melepaskannya aku tetap tidak bisa.
"Ini curang! Bahkan aku belum tau kenapa ingatanku menghilang!"
Air mata mengalir membasahi pipiku. Tidak adil! Aku hanya ingin mengetahui tentang ingatanku. Siapa aku. Itu saja. Mengapa dunia tidak mengizinkan? Apakah memang dunia ini membenciku?
Tangan kecil yang dingin menyentuh pipiku. Saat aku membuka mataku kudapati gadis kecil berhada di hadapanku. Air matanya juga mengalir. Membuatku kaget.
"Moa buta tahu!" ah! Suara imutnya telah kembali. "Tapi bukan belalti Moa tidak bisa melihat ail matamu. Jangan menangis. Tidak ada yang suka."
Aku mengangguk. Aku menyadari sosokku semakin memudar. Tapi dingin tangan mungilnya masih dapat kurasakan.
"Moa...,"
Moa tampak sedikit kaget saat kupanggil namanya. Kemudian dia mengangguk berkali-kali. Aku tersenyum. Aku tidak tau siapa aku. Aku tidak tau siapa orang-orang ini. Tapi apakah benang takdir kami saling berkaitan?
Aku melirik kebelakang Moa. Anak lelaki itu telah kembali ke sosoknya yang semula. Sosok yang lebih misterius dan menyebalkan. Bibirnya bergerak. Tampaknya dia mengucapkan sesuatu.
"..."
Aku mengangguk. Hal yang terakhir kuingat adalah senyuman manis milik Moa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Edenshii [COMPLETED]
FantasyNielson Devadatt Dua tahun aku menunggumu, dua tahun aku mencarimu, dua tahun aku merindukanmu. Dua tahun pula waktu yang cukup untuk kau melupakanku. Jessica Emilia Aku tidak keberatan terluka. Karena kamu akan selalu mengobatinya. Roberto Stephene...
![Edenshii [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/183856078-64-k182621.jpg)