Saksiku Padamu 2

23 3 0
                                        

Mereka mengayunkan tongkat. Bukan pedang. Hanya anak lelaki usil dan anak perempuan bermata merah mengkilat itu yang memainkan pedang. Kami berada di tengah hutan, bergembira dengan kelahiran bayi perempuan mungil bermata biru yang indah. Akhirnya ada yang memiliki mata biru selain diriku! Tapi Nenek bilang, mata kami berbeda. Mataku seperti rembulan dan matanya seperti kristal. Bingung sebenarnya. Tapi aku mengangguk saja.
Kakek selalu mengajarkan kami berbagai macam mantera. Karena Kakek dulunya seorang ahli sihir kerajaan dan Nenek adalah penyihir. Mereka memutuskan untuk pensiun dan pindah ke rumah sederhana di tengah hutan. Rumah kami.
"Nenek mau mengambil buah berry di hutan. Siapa yang mau ikut?"
Anak perempuan itu segera menjatuhkan pedangnya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Mata merahnya berkilat-kilat karena rasa senang. Dia menarik seorang anak lelaki bersambut merah dengan mata senja yang berada tidak jauh darinya.
"Kibibi ikut! Ibra juga ikut katanya!" Teriak anak perempuan itu dengan penuh semangat.
Anak lelaki itu berusaha memberontak. "Memangnya siapa yang mau pergi dengan gadis jelek seperti dirimu! Lepaskan aku!" Tapi semakin dia memberontak, semakin keras pelukan gadis itu. Hingga akhirnya dia hanya bisa menyerah.
Anak perempuan berambut hitam panjang mengangkat tangannya malu-malu. Dia bersembunyi di belakang anak lelaki bersambut hitam panjang dengan pakaian yang mirip seperti dirinya. Mereka berdua selalu pergi bersama. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Makanya, jika anak perempuan itu mengangkat tangannya, anak lelaki itu juga akan mengangkat tangannya.
Nenek menggangguk. Nenek memberikan bayi yang baru lahir itu pada Kakek. Setelah mereka pamit pada bayi manis itu, barulah mereka pergi untuk mencari berry manis.
"Aku ingin berry itu dibuat pie!" Seruku sambil berloncatan.
"Lia tolong ambilkan buku Kakek di ruang belajar."
Aku mengangguk dan segera berlari. Ruang belajar adalah tempat yang sangat aku suka. Tempat itu berada di bawah tanah, besar dan lebih mirip seperti perpustakaan. Dengan nuansa emas dan coklat. Ada lampu kristal besar yang seakan tergantung di tengah ruangan. Tapi lampu kristal yang megah tidak benar-benar tergantung. Ada sihir khusus yang menahan lampu itu agar tetap berada disitu. Ruang belajar ini juga bisa menjadi tempat bermain, kami bersepuluh. Karena ruangan ini luas dan Kakek tidak pernah merasa terganggu dengan adanya kami.
Aku melihat kesana kemari. Mencari buku besar berwarna ungu dengan suluran akar yang mengunci buku itu. Aku hendak mengambil buku Kakek sebelum buku dengan sampul kulit berwarna coklat itu memanggil diriku. Itu adalah bukuku, buku takdir. Masa depan, masa lalu, dan masa kini setiap makhluk tertulis di buku itu.
Aku menaruh buku Kakek dengan lembut dan berjalan menuju buku takdirku yang berada di tengah ruangan. Aku dan kesembilan saudaraku merupakan utusan tuhan. Makhluk tuhan yang terpilih dikarenakan sebuah takdir yang akan datang. Setidaknya begitulah yang Nenek bilang.
Aku membalik bukuku. Sudah kubilang bukan, buku itu menulis takdir semua makhluk? Ya, semuanya kecuali diriku. Takdirku tidak ada disana. Mereka berpendapat karena akulah Sang Takdir makanya takdirku tidak ada disana. Memang aku adalah Takdir. Aku bertugas membuat pintu takdir. Pintu yang nantinya mereka pilih itu memiliki ending yang berbeda di setiap pintu. Menuntun setiap makhluk yang sedang gelisah menuju pintu yang benar, adalah tugasku. Tapi sering sekali mereka memilih pintu yang salah. Padahal aku sudah membantu untuk memilihnya dengan sugesti. Tapi itu terserah mereka. Tugasku hanya menuntun.
Satu-persatu tulisan mulai terlihat di buku itu. Buku itu terbiasa menulis sendiri. Bagi buku itu, buku itu yang membaca cerita kita, bukan kita yang membaca buku. Aku membaca setiap kata yang tertulis sampai di kata terakhir.

"Kematian"

Lampu kristal itu tiba-tiba terjatuh saat teriakan histeris terdengar. Aku segera menutup bukuku. Itu suara Kakek! Mataku berair. Aku berlari sekuat tenaga meskipun lariku merupakan yang terlamban dibandingkan saudara-saudariku.
Aku telah tiba di pintu luar. Dengan nafas yang belum teratur kuberanikan diri untuk melihat apa yang terjadi. Kakiku gemetaran saat melihat seseorang menatapku dengan kepala Kakek berada di tangannya. Aku tahu mereka. Armor yang mereka pakai, jubah sutra yang melambai-lambai dengan simbol kerajaan ditengahnya, dan pedang perak yang bernoda darah. Aku yakin itu darah Kakek.
"Oek! Oek!"
Aku menoleh ke samping. Adik kecilku masih ada disana. Digendong seorang wanita dengan mahkota besar di kepalanya. Dia menusukkan garpu ke kedua mata adikku. Membuat adikku menjerit dan terus menangis. Aku sendiri berteriak keras. Sudah cukup! Aku tidak menginginkan hal ini.
"Pendosa yang menentang Takdir! Kuucapkan sebuah mantera yang akan mengurungmu. Berlutut di hadapanku sekarang atau mati!"
Langit terbelah. Membuat orang-orang yang berada disana ketakutan. Tapi pria yang memakai armor itu tampak tidak takut sama sekali.
Hutan menjadi gelap. Semua penghuni hutan bersembunyi di balik bayangan. Menutup telinga mereka rapat-rapat saat terdengar suara keras yang membuat gendang telinga siapapun pecah. Suara yang berasal dari lubang retakan di langit.
"Aaaaaa!"
Mereka semua menatapku. Melihat wanita yang menusuk adikku tergeletak dengan pisau menancap tepat di jantungnya. Aku memeluk adikku keras. Mengucapkan mantera yang menyembuhkan matanya. Tapi itu hanya mampu mengobati sedikit. Warna matanya berubah menjadi abu-abu. Dia buta!
Seekor naga mulai keluar dari retakan itu. Naga berwarna putih panjang dengan suara yang sangat keras. Saat mereka sibuk mengacungkan pedangnya, aku berlari. Membawa adikku sejauh mungkin dari mereka. Aku harus menemui Nenek! Kalau Nenek pasti bisa membunuh orang-orang itu.
Baru kusadari saat aku berlari agak jauh dari rumah. Terlalu sunyi. Apakah mereka berhasil mengalahkan nagaku? Tentu saja kemungkinan keberhasilan mereka tinggi mengingat ilmuku yang belum seberapa. Meskipun diantara yang lain aku adalah penyihir terhebat, tapi aku yakin orang-orang itu jauh lebih hebat dan berpengalaman dariku. Jika memang mereka sudah mengalahkan nagaku, aku harus berlari lebih cepat lagi.
Tapi tubuhku berkata lain. Akibat mantera tadi energiku terkuras banyak. Lututku lemas. Tidak kuat lagi berlari. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tapi ternyata hal itu adalah hal yang tepat. Aku bisa melihat Nenek berada tak jauh dariku. Tepat di antara semak-semak tinggi yang membuat Nenek tidak akan bisa melihatku.
"Ne-"
"Terimakasih kau telah memberikan kami kesulitan."
Lidahku kelu. Aku tidak bisa berbicara. Wanita yang kutusuk dengan pisau itu muncul di hadapanku. Darah masih mengalir dari lubang di perutnya. Dia mengambil adikku. Tapi aku tidak bisa melawan. Aku tidak bisa bergerak. Dia memantraiku!
Dengan darah yang ada di tangannya, dia menuliskan simbol di dahiku. Aku mencoba untuk memberontak. Tapi gagal! Aku sangat tahu apa yang akan dilakukannya. Dia akan menghapus ingatanku. Air mataku terus menerus keluar. Tapi suaraku tidak bisa keluar. Dia tampak sangat senang saat melihat aku menderita.
Nenek... maafkan aku. Aku tidak bisa melindungi adik. Aku tidak bisa melindungi yang lain. Bahkan sekarang ingatanku akan dihapus. Aku tidak mau! Aku ingin terus mengingat saat-saat kita bersama. Nenek... jika kita bertemu dan aku tidak mengenalimu lagi, tolong maafkan aku! Saat itu aku adalah anak yang paling durhaka! Dan orang-orang ini yang membuatku seperti itu.
Aku tidak bisa melihat dengan benar. Air mata memenuhi mataku sehingga semua yang kulihat menjadi kabur. Tapi aku mendengar suara yang keluar dari mulut wanita sialan itu. Aku dapat merasakan dia mulai merombak ingatanku saat kepalaku terasa berat. Kulihat lagi bayangan Nenek yang tertawa. Setidaknya sebelum ingatanku hilang, aku masih dapat melihat Nenek tertawa. Itu adalah kebahagiaan terbesarku.
***
Pesta diselenggarakan dengan meriah. Berbagai macam hidangan tersaji di depan matamu. Memintamu untuk segera memakannya. Berbagai macam daging dan kue ada disana. Kalkun besar berdiri di tengah meja bagaikan raja. Dikelilingi lobster bakar, kepiting, daging domba, dan sapi. Semuanya sangat empuk dan air liurmu akan menetes saat aroma hidangan itu memenuhi paru-parumu.
Tidak banyak orang yang berada di sini. Mereka semua merupakan Lady dan gentleman yang sibuk mengagumi pesta. Terutama kue ulang tahun besar yang berdiri di tengah ruangan. Kue tujuh belas lapis dengan krim vanila yang menyembunyikan rasa spektakuler di dalamnya. Kue terlembut yang pernah kau coba. Rasa manisnya akan membuat lidahmu menginginkan lagi dan lagi. Kue yang akan menjadi candumu. Raja tidak pernah membahas siapa koki yang memasak berbagai macam hidangan disini. Tidak ada yang berani berspekulasi jika ingin kepalamu tetap berada di tempat.
Aku berada di pesta itu. Menjadi bintang utama pesta bersama dua orang lainnya. Putera mahkota Noel Le Agrigent dan calon ksatria pelindung Roberto Stephene. Aku sendiri merupakan calon anggota kerajaan. Emilia Dyvette Pyralis Winnight. Dan hari ini adalah pesta ulang tahun kami bertiga sekaligus pengumuman pertunanganku dengan putera mahkota.
Aku berdiri di sudut. Mengasingkan diri. Membaca tulisan yang sudah lama muncul di buku itu. Aku tidak ingin datang ke pesta ini sebetulnya. Tapi Ibuku memaksaku untuk datang jika aku tidak ingin disiksa lagi.
Mereka menatapku dengan tatapan miris. Ada juga yang menatapku dengan amarah. Bukan tanpa sebab. Semuanya berkaitan dengan kematian Kakakku. Beberapa hari yang lalu, saat Kakak memberiku hadiah tanpa sepengetahuan Ibu, Ibu tiba-tiba muncul dan membunuh tunangan Kakak yang saat itu berada di dekat kami. Di depan mata kami. Hal itu membuat Kakak stress dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Tapi cerita itu diubah oleh Ibu. Ibu mengatakan bahwa Karena Kakak tidak memberiku hadiah, akulah yang membunuh tunangan Kakak. Ibu bicara sambil menangis tersedu-sedu. Jika ada penghargaan aktris terbaik, pasti itu jatuh pada Ibuku. Karena dia bisa menangis sambil tersenyum licik.
Tapi Raja menyayangiku. Membersihkan nama baikku seketika. Tapi itu membuat orang-orang beranggapan akulah yang dengan sengaja meminta Raja untuk menghapus berita buruk tentangku. Bagi mereka aku adalah perempuan rendah dan licik. Semua itu berkat Ibuku.
Seseorang berlutut di hadapanku. Menatapku dengan matanya yang penuh dengan bintang. Dia mengulurkan tangannya untuk menghapus air mataku. Orang-orang yang tadi terus menatapku mengalihkan pandangan mereka. Dia tersenyum dengan sangat indah. Senyumnya mengangkat semua beban yang menyesakkan dadaku. Semuanya. Tapi aku langsung teringat akan suatu hal yang memintaku untuk tidak menatap mata itu.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Tanyanya dengan suara lembut.
Aku menggeleng seadanya. Berusaha menahan air mata yang memberontak untuk keluar. Dia berdiri. Mengulurkan tangannya padaku. Aku dapat melihat dengan jelas setelan biru gelap yang menutupi tubuhnya. Cocok dengan warna matanya. Jubah putih panjang yang dipakainya layaknya awan yang sedang bercengkrama dengan langit. Senyumannya yang manis dapat membuat hati siapapun menjadi hangat layaknya sinar matahari. Hanya satu yang kurang. Bulan. Apakah aku dapat bermimpi, menjadi bulan untuk menghiasinya.
"Jika aku tidak memiliki kesalahan, bolehkah aku mengajak My Lady untuk pergi ke halaman belakang?"
Aku kaget dan menatap matanya tajam. "Raja akan memarahimu!"
"Anak muda seperti kita memang butuh diperingatkan, bukan?"
Tidak ada yang bisa mengaturnya. Di berjalan di jalan yang diinginkannya. Tak ada satupun orang yang bisa menginginkannya. Keberaniannya untuk tetap terus berada di jalan yang dipilihnya adalah kelebihan yang dimilikinya. Dia selalu berjalan bersama cahaya. Membuat mataku silau saat melihatnya.
Taman belakang istana selalu indah seperti biasanya. Sepanjang jalan kau dapat melihat semak mawar disisi kanan dan kirimu. Taman ini tidak memiliki pelindung. Hanya pagar yang berasal dari bunga sepatu beraneka warna, dan bunga-bunga kesukaan raja terdahulu. Sebuah meja besar dengan lima kursi yang tertempel dengan tanah terbuat dari marmer dengan ukiran dua burung merpati sebagai simbol kerajaan. Bunga lavender yang berada tak jauh dari kursi memberikan aroma lembut yang menenangkan. Pohon persik berada di samping meja, berperan sebagai payung. Di dahannya yang menjulur sampai ke tas meja makan, terdapat tiga lampion yang sengaja digantung bersinar lembut.
Dia mengenggam erat tanganku. Dia tahu waktu kami bisa berdua seperti tidak banyak lagi. Aku mencoba menahan air mataku dengan cara mengalihkan pandanganku darinya.
"

Edenshii [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang