Saksiku Padamu

13 3 0
                                        

Seakan tak ada yang terjadi. Kami semua terbangun pada pagi hari setelah perubahan iklim dan sihir yang membuat semua orang menangis. Semuanya kembali. Tidak ada lagi salju dan monster yang berkeliaran kesana kemari. Semuanya seakan tak pernah terjadi sebelumnya. Hanya satu yang berbeda. Kami sekarang harus memilih, membunuh atau dibunuh.
Aku hanya menatap Roberto yang kelihatan biasa saja. Tidak ada pancaran rasa kasihan dari air mukanya. Tentu saja. Dia itu adalah kematian. Baginya ini adalah hal yang menyenangkan. Dia tidak perlu bersusah payah mengambil nyawa seseorang. Karena nyawa itulah yang akan menghampirinya.
Aku memandang diriku sejenak. Menatap seorang pria kusut dengan wajah tegang yang sama sekali tidak tertarik dengan hal ini. Tapi jika pria itu tidak melakukannya, dia tidak akan bisa menyelamatkan gadis yang dicintainya.
Aku memegang leherku. Roberto pernah bilang aku akan mati dibunuh. Apakah ini adalah awal dari perjalanan untuk mengantarkanku ke alam kematian. Hatiku menjadi sakit rasanya. Padahal yang kuinginkan hanyalah menghabiskan masa SMA seperti kebanyakan orang. Berkencan, memperdalam rasa percaya, kemudian datang hari dimana aku akan melamarnya. Mungkin agak sulit mendapatkan restu, tapi aku yakin pada akhirnya kami akan direstui. Lalu kami akan menikah. Membeli rumah kecil sederhana di pemukiman yang ramah, bekerja, dan mempunyai anak. Aku menginginkan tiga anak. Dua laki-laki dan satu perempuan. Akan lebih bagus jika mereka mirip dengan Icha. Kemudian kami akan membesarkan anak kami, menyekolahkannya, melihat mereka tumbuh, menikahkan mereka, dan akhirnya hidup bahagia sampai maut memisahkan.
Aku tersenyum dan mulai melangkahkan kaki menuju pintu untuk berhadapan langsung dengan dunia. Pada akhirnya hidup tidak akan pernah sesuai dengan apa yang kita inginkan. Hidup memiliki caranya sendiri. Padahal yang diinginkan semua orang hanyalah kebahagiaan. Tapi tidak apa. Bagiku bertemu dengannya adalah kebahagiaan terbesarku. Aku hanya perlu lari menyelamatkan nyawaku kemudian menyelamatkan Icha.
Aku membuka pintu rumah. Mataku membulat saat melihat mayat-mayat manusia berserakan. Bau amis mulai menyeruak dan membuatku mual. Dunia telah menjadi sungai darah.
Aku menepuk pipiku. Menghilangkan semua rasa takut yang tadinya hampir memengaruhiku. Aku percaya, aku pasti bisa melewati semua ini. Perlahan aku mulai melangkahkan kakiku. Berlari melewati lautan kematian. Aku tidak akan mati sebelum aku bertemu dengan Icha. Setidaknya itu yang ingin kupercayai. Tidak! Aku percaya itu! Aku percaya aku bisa membawa pulang Icha. Meskipun kematian telah menungguku di rumah.
Langkahku melambat saat melihat seorang gadis berambut pendek di depanku. Gadis itu sedang gemetar ketakutan saat melihat seorang pria berambut merah yang hendak menembus perut gadis itu dengan panah miliknya. Meski wujud dan bentuk tubuhnya berubah, aku tahu pasti siapa orang itu. Ibra.
Crash! Kepala gadis itu sukses terpenggal. Tapi bukan Ibra yang memenggalnya. Melainkan seorang gadis berambut hitam panjang dengan mata abu-abu. Aku bisa melihat betapa tidak pedulinya dia dari caranya menatap kepala gadis yang dia penggal. Sama seperti Ibra, meski wujudnya berubah, tapi aku tahu pasti siapa gadis itu. Wisye. Dia memakai pakaian yang sama dengan seorang pria tampan berambut hitam panjang dengan mata senjanya. Sejenis kimono berwarna ungu. Aku juga tahu siapa pria yang terus saja menguap itu. Dia itu Romeo.
Ibra melirikku. Sejenak mata kami bertatapan. Dia berbeda. Dia masih Ibra yang kukenal, tapi dia berbeda. Terlihat jelas pancaran keberanian dan kebosanan di matanya seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Bukan wujudnya. Dia mengeluarkan aura yang menenangkan meski menatapku dengan tatapan membunuh.
Aku kaget saat suara retakan terdengar dari bawah kakiku. Aku menginjak sesuatu yang dilapisi kain hitam. Karena bingung, aku mengambilnya. Suara retakan itu sukses membuat Wisye dan Romeo mengalihkan pandangannya dari kepala gadis yang baru saja terbelah dan terbelalak saat melihatku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tidak kupedulikan tatapan mereka. Aku menyibukkan diriku dengan membuka kain hitam yang menutupi benda bulat dengan gagang panjang ini. Segera kulepaskan benda terkutuk itu saat melihat pantulan diriku dari benda itu. Aku yakin benda itu hanyalah cermin biasa. Tapi aku yakin wajah yang cermin itu tampilkan bukanlah wajahku.
Aku tersadar saat mataku memandang apa yang kukenakan. Aku memakai pakaian layaknya orang-orang yang berada pada zaman romawi kuno dengan bahan sutra yang lembut. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Lahan kematian ini... menunjukkan siapa kita yang sebenarnya. Berarti wujudmu ini adalah dirimu yang sebenarnya." Ucap Wisye dengan suara tercekat.
Aku menatap mata Wisye yang basah. Kristal bening keluar dari matanya.
Seekor kupu-kupu berwarna ungu mengilap dengan sayap kecil transparan hinggap di bahuku. Membuatku berhenti berkedip untuk sementara waktu sampai segerombolan kupu-kupu muncul dari arah bawah dan terbang keseluruh penjuru.
"Apa yang kau inginkan tuan?"
Telingaku tidak salah mendengar. Meski suara itu sangat kecil dan nyaris terbawa angin, aku yakin suara itu berasal dari kupu-kupu yang hinggap di bahuku. Aku mengalihkan pandangan pada mayat-mayat dan lautan darah yang memuakkan sebetulnya.
"Aku ingin mereka dikubur semestinya."
"Mimpikan itu tuan."
Terdengar seperti sindiran. Tapi benar-benar membuatku tergoda. Aku menutup mataku dan membayangkan sebagaimana tanah ini pada mulanya. Bangunan-bangunannya, rumput hijau yang lembut saat menyentuh kaki, dan aroma makanan yang selalu menyeruak dan membuat siapapun tergiur untuk menyantapnya. Bukan mayat atau bau darah yang memabukkan.
Saat aku membuka mataku, benar saja. Semua telah kembali seperti semula. Bahkan jauh lebih indah. Lebih dari yang kubayangkan. Tidak ada lagi lautan kematian. Aku dapat melihat arwah-arwah tersenyum dan membungkukkan badannya sebelum menghilang.
"Aku senang kau kembali tuan."
Kembali? Kembali dari apa? Seseorang mengetuk kepalaku lembut dan tersenyum. Orang itu adalah Roberto. Dia berwujud. Bukan hanya rohnya yang tak dapat kusentuh. Benar-benar Roberto dengan tubuh. Yang anehnya membuat semua orang yang berada disini membelalakan matanya lebih lebar. Seolah tak percaya dengan semua keajaiban yang tersajikan. Dan Roberto? Dia tidak terlalu tertarik dengan semua ini. Tapi senyumnya tersungging. Menjelaskan mengapa bulu kudukku berdiri.
***
Malam sunyi. Aku bahkan tidak tahu ini malam atau siang. Yang bisa kulihat hanyalah kegelapan. Semua di kelilingi oleh kegelapan. Kecuali pelayanku.
Dia memakai bulu emas untuk melindunginya dari dingin. Bulu yang menyilaukan setiap mata yang memandangnya. Bulu di tengkuknya tak kalah megah. Bagaikan mahkota yang disematkan hanya untuknya. Dia bukan monster seperti pelayan lainnya. Dia berbicara dengan bahasa yang kumengerti. Hanya saja setiap melihat mata coklatnya yang begitu tajam, aku merasa sepertinya aku akan segera dimangsa olehnya. Tapi dibalik semua hal megah dan menakutkan itu, dia bijaksana dan menyebalkan. Terlalu banyak bicara hingga membuatku ingin menyegel mulutnya. Ya, namanya Alexander sang Singa Emas. Singa Emas bukanlah sebuah julukan. Tapi dia benar-benar seekor singa berbulu emas yang banyak bicara. Seperti saat ini, dia sedang mengisahkan dongeng untukku.
"Ada seorang gadis yang cantik. Bersembunyi dan menangis di tengah hutan. Berpikir bahwa kelahirannya merupakan kesalahan terbesar. Meringkuk di sudut yang penuh dengan keputusasaan..."
Tapi untuk kali ini aku menikmati ceritanya.
"Lalu menurutmu apa yang akan terjadi selanjutnya?" Tanyanya sambil menuangkan teh untukku.
Aku menghirup wangi teh yang menyegarkan itu sejenak. Melihat bayanganku disana. Berpikir. "Jika aku... aku menginginkan seseorang datang menolongku. Seseorang yang penuh cahaya, untuk menerangi dan mengubah hidupku."
"Mengapa kau menginginkan itu? Kau bisa saja mengharapkan yang lain bukan? Memangnya kau percaya akan seorang pangeran berkuda putih yang datang membawa keadilan. Oh! Sungguh aku membenci kuda! Mengapa kuda? Mengapa bukan kami para singa. Itu sungguh tidak masuk akal, bukan?"
Aku tidak suka dia meremehkan kisah pangeran. Aku sangat menyukai cerita itu. "Tidak! Mengapa tidak masuk akal? Bukankah itu kisah yang indah?"
Dia terdiam sebentar. Menatapku dengan matanya yang tajam. "Nak." Ucapnya yang membuatku meneguk ludah. "Kadang kau harus melihat kenyataan dengan cara segera terbangun."
Aku tidak bisa menyangkal ucapannya. Aneh juga bagi seorang remaja sepertiku menginginkan hal itu. Aku selalu memimpikan hal itu. Bukan! Bukan pangeran berkuda putih. Tapi pangeran yang terbang bersama kupu-kupunya. Aku selalu melihat hal itu berulang di mimpiku. Sosok yang tenang dan lembut. Aku menyukai matanya yang seperti langit malam. Apakah manik bulan biruku bisa berada di langitnya? Itu yang selalu aku tanyakan.
"Aku percaya. Aku selalu melihatnya di mimpiku. Meski itu awalnya adalah harapan anak kecil... tapi semua orang boleh mempercayainya, kan?"
Dia tersenyum sebentar. Kemudian dia tertawa sampai berguling-guling. Membuatku bingung sekaligus kesal. Aku menutup wajahku dengan bantal karena malu.
"Kau banyak berubah." Ucapnya disela tawa.
Aku tidak begitu paham perkataannya. Tapi dia terlihat sangat meyakinkan saat dia mengatakannya. Saat aku menurunkan bantal yang menutup wajahku, singa itu berada tepat di depanku. Seperti bukan dirinya. Dia menaruh salah satu dari kukunya yang panjang tepat di dahiku. Membuatku kaget dan hendak memukulnya dengan bantal.
"Kau ingin tahu apa yang kau lupakan?" Tanyanya diantara sunyi yang mengepung.
Mata tajamnya kembali menatapku. Tidak ada kedipan. Rasa percaya dirinya terlihat jelas di wajahnya. Tentu tawarannya membuatku kaget sekaligus menggoda. Aku selalu ingin tahu apa yang terjadi pada diriku di masa lalu. Mengapa aku bisa melupakan diriku? Mengapa aku bisa berada disini? Dan mengapa aku bisa terus memimpikan gadis yang saat ini rupaku sama persis dengan dirinya. Aku yakin semua itu dapat terjawab dengan mengingat semua kejadian di masa lalu.
"Aku ingin melihatnya!" Ucapku penuh keyakinan.
Singa itu tersenyum. "Bisa saja hal yang kau lihat ini akan sangat mengiris hatimu. Apa kau siap?"
Benar. Aku tidak tau apa yang menimpaku di masa lalu. Apakah itu hal yang menyenangkan atau justru menakutkan. Melihat ke masa lalu bukan cara terbaik untuk menapaki hidup yang baru beberapa hari dimulai. Tapi kadang dengan melihat ke masa lalu, kita bisa memperbaiki hal yang dahulu terjadi agar tidak terulang dikemudian hari. Tapi pertanyaannya,
"Apa kau sanggup untuk melihatnya?"
Aku kembali meneguk ludahku. "Setiap orang punya masa lalu yang menyakitkan hati. Itu wajar. Tidak ada yang sempurna di kehidupan. Jika tidak ada masalah bukan hidup namanya. Meski itu menyakitkan, rasa sakit itu milikku. Aku ingin melihatnya!"
Tak! Dia menjentikkan kukunya yang panjang di dahiku. Aku merasa berat badanku semakin ringan. Tubuhku tergeletak di atas kasur. Tidak ada bagian tubuhku yang dapat digerakkan. Sampai akhirnya semuanya menjadi hitam dan kesadaranku, menghilang.
"Sebuah sungai akan kotor apabila ada seseorang yang dengan sengaja membuang sampah disana. Begitulah dirimu. Meski hal yang kau lihat adalah hal yang menyakitkan, tapi aku percaya. Kau telah berubah."

Edenshii [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang