Kabur Bersama

26 3 0
                                        

Makin lama luka yang diterima Ica semakin parah. Seluruh tubuhnya dipenuhi lebam dan luka. Pagi tadi aku membawanya ke uks dan mengobatinya. Aku berusaha untuk membuatnya bicara. Tapi tidak bisa. Lukanya semakin bertambah. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang dilakukan Ibunya setiap malam.
Saat ini kelasku sedang belajar olahraga. Semua gadis yang kelasnya sedang jamkos keluar hanya untuk melihatku. Bukannya aku kepedean, ya. Itu juga baru kutahu dari teman sekelasku.
Aku mengguyur tubuhku dengan air mineral sisa. Panas sekali hari ini. Ah, bodohnya aku! Kelakuanku tadi berhasil membuat para gadis berteriak histeris. Ah! Kupingku ini membutuhkan istirahat. Tolong jangan terlalu banyak berteriak!
"Niel. Katanya pacarmu kembali, ya?" tanya temanku tiba-tiba.
Aku hanya mengangguk kecil. "Ica bukan pacarku, Rom!"
Pria jangkung berbadan besar ini bernama Romeo Prasetya. Teman sekelasku. Orang yang mengetahui seluk beluk kehidupanku selain Ibra dan Ica. Wajahnya ganteng seperti namanya. Kisah cintanya dengan Wisye juga tidak terlalu baik. Orangtua Wisye tidak menyukai Romeo. Bukan karena dia suka ngerokok atau playboy. Tapi karena Romeo pernah hampir membakar rumah Wisye. Tapi setiap ditanya, Romeo selalu menjawab, "Bukan membakar rumahnya, tapi dapurnya!"
Romeo tampak berpikir sebentar. "Tapi kok Ica jadi aneh gitu, ya? Masa Ica lupa sama aku? Aku! Iya, aku! Orang terhits di SMA ini!"
Dia berteriak tepat di telingaku. Aku mendengus dan menjauhkan wajahnya. "Amnesia."
Setelah diam beberapa menit dia langsung tertawa sambil berguling-guling. Apaan ini? Rasanya aku seperti melihat Roberto kedua. Aku melemparnya dengan botol yang kugunakan untuk mengguyurku.
"Niel! Niel! Tolong aku!"
Seorang gadis berteriak dari ujung lapangan. Membuat Romeo menghentikan aktivitasnya. Gadis itu berhenti di depan kami. Aku tertawa melihat Romeo bertingkah sok gagah di depan gadis itu. Dasar! Aku beralih menatap gadis itu dan menaikkan sebelah alisku. "Ada apa?"
"Ica! Ica pingsan! Dia berada di uks sekarang!"
***
Aku memakan bubur yang diberikan petugas uks padaku. Tadi saat aku sadar petugas uks memberitahukan aku baru saja pingsan. Aku melirik sekitarku. Uks disini memiliki empat ranjang dan ac. Adem juga. Mungkin aku akan betah disini.
Hehehe
Aku mendengar suara tawa seorang pria. Aku menoleh ke kananku. Di sebelah kananku terdapat seorang pria. Dia sepertinya lebih tua dariku. Dia memakai jaket abu-abu tebal dan topi hitam. Warna rambutnya sama persis dengan warna rambutku. Bola matanya yang berwarna biru juga mirip seperti milikku.
"Siapa?"
Dia tidak menjawab. Dia hanya tersenyum manis sambil menatapku. Pancaran matanya seakan telah menyimpan setumpuk rasa rindu yang sudah tidak tertampung lagi. Rindu? Rindu kepada siapa? Kepadaku?
Dia mengelus kepalaku lembut. Aku dapat merasakan tangannya yang dingin. Tangannya dingin, tetapi rasanya hangat sekali. Setelah mengelusku dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Dia mengambil tanganku dan menaruh benda itu disana.
"Kalung? Punya siapa?"
Dia hanya mengangguk kemudian menunjukku. Aku agak kaget. Aku memperhatikan kalung perak dengan liontin "ILy". Memang aku tidak merasa asing dengan kalung ini. Tapi apa benar ini milikku.
"Tau darimana kalung i-"
Tidak ada. Dia sudah tidak ada lagi di sebelahku. Awalnya aku bingung. Tapi aku tidak terlalu mempedulikannya. Aku memasang kalung ini. Setelah selesai aku memasukkannya agar tidak kelihatan. Aku jadi ingat pria tampan tadi. Apakah kami... saling kenal?
"Ica!"
Aku kenal suara itu. Dia berdiri di depan pintu. Aku memasang wajah bingung ketika dia mulai mengobrak-abrik lemari obat.
"Ngapain?" tanyaku.
Aku semakin bingung ketika dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna putih. Dia duduk tepat di depanku sambil memasang wajah serius. Dia mulai mengeluarkan obat merah dan krim.
"Kenapa kamu harus terluka?"
Aku agak kaget dengan perkataannya barusan. Tidak tahu harus menjawab apa. Tapi aku senang. Aku senang dia mengobatiku. Aku senang melihat perhatiannya padaku. Tanpa sadar aku mengelus lembut rambutnya.
"Aku tidak keberatan terluka. Karena kamu akan selalu mengobatinya."
Dia mengalihkan pandangannya, tapi matanya terus mencuri pandang untuk melihatku. Wajahnya yang putih itu memerah. Apa dia malu? Karena perkataanku barusan?
Aku menarik tanganku dan mengambil bantal yang berada tak jauh dariku. Aku menenggelamkan wajahku di dalam bantal. Entah mengapa melihat dia malu seperti ini membuatku ikut merasakan malu.
Entah mengapa rasanya sulit sekali bernafas. Rasanya seperti ada kelopak bunga yang berjatuhan. Malu. Wajahku memanas. Aku tak sanggup untuk menatapnya. Hingga akhirnya tangan besar itu menurunkan bantal ini untuk melihat wajahku. Mata kami saling bertatapan. Aku tak tau sudah berapa lama kami berada di posisi seperti ini.
"I-i-ca?"
Aku mengangguk.
"Ayo kabur!"
***
Aku mengambil sapu tangan miliknya. Kugunakan sapu tangan ini untuk mengeringkan wajahku. Hujan turun sangat deras sekarang dan kami berdua terjebak di depan ruko untuk berteduh. Padahal aku sudah melihat ramalan cuaca hari ini. Kenapa aku meremehkan ramalan cuaca, sih? Jadinya begini, kan! Seharusnya aku tidak mengajaknya kabur!
Dia berdiri di sampingku sambil menatap hujan yang turun. Dia basah kuyup sama sepertiku. Dan yang  paling mengesalkan... dia yang menawarkan jaket dan sapu tangan! Bukan aku! Biasanya di situasi begini cowok akan memakaikan jaketnya untuk si cewek. Lah ini kenapa malah aku? Niel, besok-besok harus bawa jaket, ya! Harus!
"Niel."
Aku agak kaget. Tapi aku langsung berdeham agar tidak ketahuan sedang melamun.
"Aku jelek, ya?"
"Kalau dibanding Wisye jelas lebih cantik Wisye." jawabku polos.
Dia menurunkan bibirnya. Matanya menjadi lebih sayu dari yang tadi. Aku tersenyum kemudian mengacak rambutnya.
"Tapi aku sukanya Ica. Gimana, dong?"
Eh? Eeeeeeh? Tadi aku nembak, ya? Itu nembak ngga sih? Ah! Ngga tau, deh! Wajahku mulai memerah. Perasaanku rasanya ngga karuan. Semoga Ica ngga salah paham! Semoga Ica ngga salah paham!
"Niel?"
"Uh? Hm?"
"Rambutku..."
Aku baru sadar tanganku belum berhenti mengacak rambutnya. Aku segera menarik tanganku. Aku bersenandung. Berusaha untuk berpura-pura tadi tidak terjadi apa-apa.
"Niel?"
Lagi-lagi kudengar suaranya memanggil namaku. Aku berdeham kecil. "Apa?"
Dia memegang kepalaku dan meluruskannya. Kini pandanganku jatuh pada motor hitam di depanku. Ya. Motorku. Aku agak bingung. Sampai aku sadar sekarang hujan telah berhenti. Aku jadi salah tingkah. Segera aku mendekati motorku dan menaikinya. Kunyalakan scoopy hitam ini.
"Ayo naik." Pintaku sambil memberikannya sebuah helm.
Dia tersenyum saat menerima helm. Aku mengambil helm satunya dan memakainya. Entah benar atau tidak tapi aku sempat mendengar suara tawa kecil. Aku jadi lebih malu dari sebelumnya.
Dia menaiki motorku dan duduk ala cewek. Kepalanya di sandarkan di punggungku. Aku dapat merasakan kehangatan yang menjalar saat pipinya menyentuh punggungku.
Dia berbisik kecil. "Aku juga suka kamu." aku tersenyum dan segera melajukan motorku. Aku tidak berhenti tersenyum di atas motor. Mungkin orang yang melihatku akan mengira aku gila. Hingga akhirnya dia berbisik lagi. Bisikannya kali ini lebih kecil. Seperti suara cicitan. Tapi sanggup membuat kebahagiaan yang tadi kurasakan hancur seketika.
"Aku suka kamu, sebagai teman."

Edenshii [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang