Moonlight [epilog]

47 3 0
                                        

Jantungku berdegup tepat saat cahaya itu muncul. Mataku terus tertuju pada cahaya itu. Entah orang-orang menyadarinya atau tidak, tapi waktu semakin lama semakin melambat.

"Bukan waktu yang melambat. Kamu yang sebentar lagi akan lenyap."

Mata merah itu muncul begitu saja di depanku. Dia tersenyum dengan sangat puas saat aku memperlihatkan ekspresi kagetku. Lenyap? Aku akan lenyap? Padahal perasaan ini belum kunjung tersambut. Tapi aku sudah akan lenyap?

Dadaku tiba-tiba terasa sangat sakit. Rasa sakit itu muncul bersamaan dengan sinar kehitaman yang terus meminta keluar dari dalam tubuhku. Rasanya sangat sakit terutama ketika cahaya itu memaksa keluar. Apa ini? Apa nyawaku sedang ditarik? Apakah aku benar-benar akan lenyap.

Meski aku berteriak sangat keras, tidak ada seorang pun yang mendengar teriakanku. Tubuhku terus memberontak. Tapi semakin kumemberontak, dadaku terasa semakin sesak seakan ditekan benda yang amat keras. Hingga akhirnya tenagaku sudah tidak lagi tersisa, aku memutuskan untuk tetap diam dan menunggu hingga rasa sakit ini berhenti.

"Niel!"

Suara itu muncul. Bayangan senyumnya yang penuh dengan cahaya itu memenuhi isi kepalaku. Kenapa disaat sekarat seperti ini justru wajahnya terus bergentayangan di otakku. Aku masih ingin melihatnya. Aku masih ingin bersamanya. Aku masih ingin mendengar tawanya saat memanggilku. Untuk itu aku harus, berjuang!

Tangan rasanya sudah membeku. Sulit untuk bernafas ketika paru-parumu terasa ingin meledak. Detak jantungku terus berpacu dengan langkahku. Aku tidak peduli terlihat seperti apa aku sekarang. Rambut berantakan? Darah yang terus mengalir? Aku tidak peduli hal itu. Aku ingin menyelamatkannya terlebih dahulu.

Diantara lautan orang-orang yang ingin menyelamatkan dirinya, aku terus melangkah mendekati cahaya keemasan itu. Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi padaku. Dia harus selamat!

"Apa harus seperti ini, Niel?"

Suara dingin bertiup diantara udara yang kuhirup. Sesuatu atau seseorang sedang menangis sambil menatapku. Matanya yang mengeluarkan kristal es terus menatap langkahku saat melewati dirinya.

"Aku mencintaimu!" Teriakan itu terdengar serak dan teramat menyedihkan.

Aku berbalik dan bergegas menuju tempatnya berdiri. Matanya membulat saat melihatku mendekat. Kutempelkan dahiku pada dahinya yang beku. "Aku mencintai Icha!" Ucapku sambil tersenyum dan pergi.

"Asal kamu tahu! Kamu pasti akan mati!"

Aku hanya bisa tersenyum. Kata-kata yang sering kudengar. Semua orang pasti akan mati. Jadi untuk apa aku takutkan? Yang perlu kutakuti itu saat aku belum berjuang dengan keras sebelum aku mati. Jadi aku tidak akan pernah berhenti melakukan sesuatu yang aku sukai. Aku akan terus berjalan di jalan yang aku pilih. Meski itu akan membunuhku, setidaknya tidak akan ada penyesalan dalam hidupku.

Mataku terbelalak saat melihat Icha di hadapanku. Tangannya diberi pemberat yang membuatnya susah bergerak. Aku menutup mulutku saat melihat panah-panah yang menancap di punggungnya. Meski begitu dia tetap menulis. Meski terlihat lemah dia tetap menulis.

"Dia adalah takdir terbodoh yang pernah kutemui."

Suara berat itu mengagetkanku. Terutama udara panas yang dikeluarkannya lewat mulutnya. Dia adalah makhluk terbesar yang pernah kulihat sejauh ini. Sisik hijaunya yang mengkilat berpadu serasi dengan mata ungunya yang berpesan akan segera membunuh orang-orang

"Tugas takdir adalah menuntun seseorang meski orang itu tidak mencintai mereka. Mereka harus hidup tanpa dicintai oleh siapapun. Meski adalah makhluk terlemah diantara para utusan. Makhluk yang dibiarkan hidup sendirian itu justru dicintai oleh makhluk terindah di alam nestapa." Matanya yang berwarna ungu gelap itu menatapku dingin.

Edenshii [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang