Kibibi Ciarda

16 3 0
                                        

Wisye tampak membersihkan ruangan sejak tadi. Dia bilang sepupunya akan tinggal disini mulai hari ini. Menurutku bagus. Karena rumah ini terlalu besar untuk kami berdua.
"Nih! Bawa!"
Aku menerima kardus yang Wisye beri tiba-tiba. Mengusir khayalanku yang sedang asyiknya memikirkan seperti apa rupa gadis yang Wisye sebut sebagai sepupunya. Apa dia secantik Wisye?
Ya, Wisye gadis tercantik di sekolah kami. Dia juga terkenal dan pintar. Gadis dengan netra abu dan rambut coklat pendek itu membuat siapapun yang melihatnya akan terpukau. Dia manis dan tegas. Sahabatku yang sangat kusayangi.
"Sepupumu itu seperti apa?" Tanyaku sambil mengambil kemoceng yang berada di atas meja.
Dia tampak berpikir sebentar. "Benar juga, ya. Kamu pasti lupa dengannya." Wisye duduk di sudut sambil melipat tangannya di depan dada. "Namanya Kibibi Ciarda."
"Hah? Keripik ubi?"
"Kibibi! KI-BI-BI!"
Mulutku membentuk bulatan lebar. Wisye tampaknya agak sedikit kesal. Entah karena debu yang berterbangan ke wajahnya atau aku yang tidak sengaja mengejek sepupunya.
"Bagaimana rupanya? Apa yang sering dia pakai?"
Sebuah tangan yang memegang handphone terjulur di depan wajahku. Memperlihatkan seorang gadis kecil dengan rambut hitam berombak tersenyum menghadap kamera. Mata merah mudanya menyala seram. Dia memakai payung yang hitam dipenuhi dengan kerutan, renda, dan pita.
Aku menyipitkan mataku. Gadis itu memakai blus berkancing depan dengan kerah bundar (Peter pan collar), rok klok yang agak lebih tinggi sedikit dari lutut. Jelas sekali gadis itu mengenakan rok dalam (petticoat) dan celana pof (bloomers). Bibirku membentuk huruf "O" saat melihat klip pita besar yang menyemat poninya. Kaus kaki setinggi lutut berwarna putih. Dan sepatu Vivienne Westwood Anglomania + Melissa Rocking Horse Wings Harajuku yang pastinya sangat mahal.
Aku meneguk ludahku dan menatap Wisye yang telah menarik tangannya. Sepupunya pasti orang yang sangat kaya. Banyak sekali lembaran uang merah yang dibuangnya untuk pakaian aneh seperti itu.
"Dia... cosplayer, ya?" Tanyaku hati-hati.
Wisye hanya menaikkan sedikit alisnya. Dia tersenyum sendiri sambil terus menatap foto gadis di yang terpampang di layar handphonenya.
"Jangan pernah mengatakan dia cosplayer atau dia akan marah besar!" Tanganku segera menutup mulut besarku. "Dia bilang dia seorang lolita. Bukan cosplayer. Dan dia sangat suka menjadi pusat perhatian."
Aku hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Wisye. Tentu saja. Dengan penampilan semencolok itu tidak mungkin dia tidak akan menjadi pusat perhatian. Aku bergidik ngeri saat membayangkan diriku berjalan dengan memakai baju seperti itu.
"Aku akan mati!"
"Hah? Apa?"
"Perutku! Perutku menginginkan roti!"
Wisye menatapku sinis. Gadis di depanku ini tahu pasti bukan itu yang aku ucapkan tadi. Tapi semoga dia tidak mendengarnya.
***
Gadis itu duduk di kursi sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Tingkahnya yang terus memukul mangkuk dengan sendok dan garpu membuat Wisye kesal. Dia terus tersenyum. Meski kuyakin itu bukan senyuman terbaik yang dimilikinya.
Aku meneliti pakaiannya dari atas sampai bawah. Aku mengangguk. Mencolok seperti di foto! Ya! Dia adalah Kibibi Ciarda.
Manik merah muda itu seakan memancarkan cahaya saat mata kami bertemu. Dengan kulit seputih porselen dan pipi yang ranum itu dia tampak seperti boneka. Jika saja matanya tidak berwarna merah muda, dia akan menjadi boneka yang sempurna!
"Mata biru permata dengan warna yang indah seperti bulan itu... aku sangat merindukannnya."
Bagiku kata-kata itu terdengar seperti, "aku ingin membunuhmu." Atau... "matamu akan lebih indah saat berada di tanganku." Matanya yang berkilat-kilat saat menunggu jawabanku membuatku terpesona.
"Menurutku kilatan matamu jauh lebih indah daripada milikku."
Dia menarik sedikit ujung bibirnya. Membuatku memundurkan kursiku beberapa langkah. Aku dapat menarik nafas lega saat Wisye keluar dari dapur sambil membawa panci berisi sup dengan aroma yang sangat menggoda.
"Pumpkin soup!" Teriaknya penuh semangat.
Wisye menaruh panci itu di tengah meja dan menarik kursi di dekatnya untuk duduk di sebelahku. "Aku membuatnya sesuai keinginanmu. Jadi tolong dihabiskan"
Wisye menuangkan sup itu di mangkuk yang telah disiapkan. Dia mengambil mangkuknya secepat kilat dan segera memasukkan masakan lezat itu ke dalam mulutnya.
"Tenang saja adik sepupuku yang manis. Sehabis jet lag perutku ini sangat keroncongan. Aku bisa menghabiskan lima gentong pumpkin soup!" Kilatan merah muda itu lagi-lagi menatapku. "Lagipula dengan kehadiran Icha pasti akan menambah nafsu makanku."
Aku yang sedang meneguk air tersedak saat mendengar kata-katanya. Setengah air yang sudah berada di mulutku keluar dengan indah dan membasahi lantai.
"Duh, Icha! Kamu kenapa?" Wisye segera mengambil lap di dekatnya dan mengelap air yang tadi kumuntahkan.
"Sudah- uhuk! Biar aku saja."
Wisye menyerahkan lapnya padaku. Aku jongkok untuk menyamakan tinggiku dengan Wisye. Wisye mengelus punggungku dengan tatapan ngeri saat batukku tak kunjung berhenti.
Gadis itu, pemilik mata merah muda yang berkilat-kilat, tertawa terpingkal-pingkal. Membuat kami sontak melihat kearahnya. Dia memang imut, tetapi juga menyebalkan!
Aku mengelap lantai sambil menggerutu. "Badan aja kecil. Tapi tawanya kayak nenek-nenek! Dasar tua bangka!"
Bukannya marah, gadis itu tertawa semakin kencang. "Memang umurku lebih tua dua tahun dari kalian! Kenapa? Ngga kelihatan karena aku awet muda? Ahahaha! Iri? Jadi gadis imut memang susah!"
Wisye menatapnya tajam. Sedangkan aku hanya bisa mendengkus kesal. Apa ada sesuatu di dunia ini yang lebih menyebalkan daripada gadis ini?
***
Kamarku berantakan! Semua barang tidak berada di tempatnya! Kasur tertempel di langit-langit, pakaian dalam di tong sampah, baju dan buku berserakan, dan yang paling parah kenapa bisa ada kelelawar di dalam lemariku!
"Roberto! Aku tahu ini ulahmu! Keluarlah!"
Aku mendengar sesuatu yang berasal dari laciku. Dia pasti disana!
Perlahan aku mengendap-endap agar dia sama sekali tidak mengetahui keberadaanku. Dia itu hantu dengan kekuatan yang luar biasa. Tidak! Dia sama sekali bukan hantu.
Aku membuka laci dan berteriak, "Ba!" Tapi tidak ada siapa-siapa disitu. Entah mengapa tubuhku terasa sangat lemas. Aku menoleh kebawah. Darah mengalir dengan derasnya. Hampir menutupi lantai. Sayatan pedang mulai muncul hampir di seluruh tubuhku.
Aku dingin. Kakiku lemas. Rasanya seperti akan putus. Perlahan aku mencoba untuk menenangkan jantungku yang rasanya hampir tidak berdetak. Pada akhirnya aku tergeletak di tanah bersimbah darah.
"Ro... ukh! Roberto!"
Aku sangat tersiksa. Aku menoleh melihat tanggal di kalender. 7 juli. Aku tersenyum getir. Setiap tanggal 7 di setiap bulan, ini akan selalu terjadi. Awalnya aku tak mengerti kenapa. Ayah dan Ibu juga tidak bisa melihat hal ini. Ini akan berakhir saat jam menunjukkan pukul 12 malam. Aku menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 13. Masih lama.
Ah! Aku mengerti. Ini sebabnya Roberto pergi. Dia sedang melakukan perjanjian. Benar, Roberto bukan hantu biasa. Dia memang bukan hantu. Itu yang kutahu. Dia adalah kematian.
Waktu itu, 5 tahun yang lalu juga begitu. Saat aku masih kecil, dan saat hal ini terjadi, sebuah kepala muncul lewat jendela. Pakaiannya yang serba hitam dan rupanya yang seperti iblis sambil membawa kapak membuatku pasrah. Kukira saat itu aku akan mati. Tapi dia berkata sesuatu.
"Aku adalah Roberto. Aku bukan hantu, tapi bukan manusia. Aku disebut kematian. Kelahiranmu adalah sebuah penyimpangan. Kau yang merobek dinding waktu dimensi seharusnya sudah mati di tanganku. Tapi si bodoh itu malah membuatmu terlahir kembali dan menderita seperti ini. Aku tidak bisa langsung membunuhmu disini meski aku mengiginkannya. Tapi aku adalah utusan tuhan. Dan tuhan memintaku untuk berada di dekatmu dan mengawasimu mulai saat ini, untuk sesuatu yang akan mengubah takdir dunia."
Aku tidak tau mengapa dia berkata seperti itu. Jika aku ingin memilih maka lebih baik aku mati daripada merasakan hal ini setiap bulan. Ini mungkin lebih parah rasanya daripada datang bulan.
Sesosok tubuh muncul di hadapanku. Rupanya tidak seperti biasanya. Ya. Rupa yang sama saat pertama kalinya dia datang kemari.
Matanya yang merah tampak seperti mengeluarkan api. Rambutnya yang hitam seperti batu obsidian itu masih sangat kukenali. Meski aku sudah berkali-kali melihat sayap, tanduk, dan taring itu... entah mengapa aku masih saja tidak mau menatapnya langsung.
Dia mengulurkan tangannya. "Atas nama tuhan yang menciptakan. Aku, sang kematian, mengembalikan waktu yang telah kuambil!"
Api hitam membakar tubuhku. Rasanya panas, sangat panas. Badanku mengejang. Jantungku berhenti berdetak dan aku tidak bisa bernafas. Semenit kemudian semua kembali seperti sedia kala. Tidak ada darah, tidak ada sayatan, dan aku jantungku kembali berdetak
Aku melihat rupanya yang telah kembali seperti semula. Si pucat dengan surai emas dan mata biru jernih. Aku tersenyum menatapnya, "Masih lamakah? Saat-saat kau akan mengambil waktuku?"
Dia mengendikkan bahunya. "Entahlah. Istriku yang mengetahuinya. Sekitar 30 hari lagi."
Aku mengangguk. "Aku menantikannya!" Ucapku bersemangat.

Edenshii [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang