Waktu Terus Berjalan Mundur

23 3 0
                                        

Kami berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Sesekali Wisye menguap dan mengusap matanya. Aku juga masih sedikit mengantuk. Kami berjalan di belakang mengikuti gadis bertubuh mungil yang sedang berlompatan kesana kemari.
"Aku harap dia mati sekarang juga!" Bisik Wisye di telingaku.
"Aku mendengarnyaaa..."
"Bersabarlah." Ucapku sambil menutup mulutku yang menguap.
"Sabar katamu? Lihat! Ini baru jam 7 dan aku sudah berada di jalan sekarang! Semua bahan makanan yang ada di kulkas dia masak dan kita tidak bisa sarapan!"
Aku terkekeh. "Setidaknya dia menyisakan sedikit untuk kita, kan?"
Wisye menatapku serius. "Kau sebut sup kaus kaki busuk itu makanan?"
Sebuah batu mendarat tepat di atas kepala Wisye. Membuat anak itu hampir menjerit di tengah keramaian. Semua tau siapa yang memiliki ide untuk berulah seperti itu.
"Wisye, Kakak Kibibi Ciarda ini bisa mendengarmu!"
"Ya! Teruslah mendengarku! Aku masih punya ribuan sumpah serapah yang kusediakan hanya untukmu!"
Aku mendesah kesal, "Wisye, kau membuat semua orang menatap kita."
Sekali lagi netra abu itu menatapku seolah-olah aku adalah orang gila. "Kau serius? Aku membuat semua orang menatap kita? Apa kau sadar sedari tadi kita memang diperhatikan KARENA PELANGI YANG TURUN DI PAYUNG MANUSIA ITU!"
Aku menatap Kibibi yang melenggang melewati jalanan dengan santainya. Tidak peduli dengan tatapan sinis setiap mata yang mengarah padanya. Justru dia malah bangga dengan tatapan-tatapan itu. Bagaimana tidak orang menatap ke arahnya? Ia memakai payung pelangi yang lebar dengan renda bertingkat di bagian bawahnya. Dan tepat di ujung payung itu terdapat pita besar berwarna pink yang kurasa jauh lebih berat ketimbang payungnya.
Wisye memutarkan jari telunjuknya di udara. Itu caranya mengatakan "Dia sudah gila." Yah, aku hanya bisa tersenyum kecut dan berharap tidak ada hal aneh yang terjadi karena payung dengan warna yang cetar membahana itu.
Sayangnya itu tidak benar. Seseorang, atau mungkin sesuatu, sedang bersembunyi, atau mungkin lebih tepat jika disebut menyembunyikan dirinya, sedang menatap mereka. Jelas. Seseorang atau sesuatu ini sangat tertarik pada mereka.
Dengan senyuman simpul seseorang atau sesuatu ini mengangguk puas. Dan jangan berkedip! Karena setelah kau berkedip, dia akan menghilang!
***
Aku tidak bisa tidur malam tadi. Bagaimana bisa aku tidur jika Roberto mengatakan bahwa berdasarkan hitungan kematian miliknya aku akan mati dibunuh dalam waktu beberapa hari lagi.
Memang, aku menantikannya. Aku ingin segera melepaskan rasa sakit yang kualami seperti kemarin. Aku tidak ingin lagi merasakannya! Tapi aku sedikit takut mengingat hal yang terjadi setelah aku menanyakan bagaimana caraku mati. Roberto hanya tertawa seperti seorang psikopat yang sedang menguji mental korbannya yang sedang dipreteli satu persatu organ tubuhnya.
Bagaimanapun aku tidak bisa percaya pada Roberto. Aku harus mengingat dengan jelas bahwa pria itu merupakan kematian. Meski dia bilang dia adalah utusan tuhan, tetap saja dia adalah calon raja iblis. Mungkin sekarang dia sudah menjadi raja iblis mengingat umurnya yang sudah sangat tua. Ah! Aku bingung!
Seseorang menggebrak mejaku. Membuatku kaget dan hampir terjungkal bersama kursiku jika Ibra tidak sigap menangkapku. Tanpa rasa bersalah Romeo bertepuk tangan melihatku yang hampir jatuh seperti melihat pertunjukkan sirkus.
"Romeo! Bisakah kau diam untuk sedetik saja!"
"Aku punya berita bagus! Terutama untukmu Ibra!" Katanya tanpa memperdulikan ucapanku tadi. Sedangkan Ibra hanya menaikkan sebelah alisnya. "Mulai sekarang kita harus memakai kacamata hitam di dalam kelas!"
Dahiku mengkerut. "Mengapa?"
Romeo akan melanjutkan omongannya ketika walikelas kami, Pak Budi, datang dengan seorang gadis di belakangnya. Gadis itu sempat repot saat payung yang di pakainya tersangkut di celah pintu dan tidak bisa keluar. Akhirnya dia tidak peduli dengan payung norak itu dan berlari mengikuti walikelas kami.
Aku dan Romeo tertawa. Kami saling memandang dan menatap Ibra yang tidak berhenti menganga saat melihat sosok mungil dengan manik merah muda yang sangat kami kenal.
"Semuanya, kita kedatangan murid baru, namanya Kibi-"
"Ibra!" Teriak gadis itu sambil melambaikan tangannya.
Semua orang ternganga. Begitu pula dengan Ibra. Sedangkan aku dan Romeo tertawa sangat keras sambil memegangi perut kami. Bagaimana tidak? Kehadiran gadis pelangi ini merupakan momok paling menakutkan bagi Ibra. Mereka bagaikan domba dan serigala. Dan Ibra, adalah domba yang selalu berlari agar tidak dimakan gadis serigala.
Dehaman Pak Budi membuat kami diam. Dengan tatapan matanya dan jarinya yang menunjuk kursi, Romeo sudah tahu bahwa dirinya diminta diam dan duduk. Tapi Romeo masih tertawa. Dia menarik Ibra yang masih berdiri sama sepertinya. Tangannya mengelus punggung Ibra dan mendudukkannya tepat di sampingnya.
"Baiklah, perkenalkan dirimu sekarang."
Gadis itu mengangguk. Netra merah mudanya berkilat-kilat mengamati setiap sudut kelas. Jujur meski dia tampak bersemangat, aura hitam seakan keluar dari dirinya. Membuat seisi kelas merinding. Terutama saat dia memandang rendah kami sambil tersenyum sinis.
"Namaku, Kibibi Ciarda. Panggil aku Cia. Aku berasal dari Aussie. Senang bertemu dengan kalian."
Dia mengatakan itu tanpa semangat. Matanya hanya tertuju pada Ibra seorang. Aku tersenyum menatap Ibra yang gemetaran sampai-sampai meja dan kursi di dekatnya juga bergetar.
Seseorang mengangkat tangan. Membuat semua mata beralih menatap dirinya. "Bagaimana kau bisa mengenal Ibra?"
Ini yang kutunggu-tunggu!
"Kenapa tidak? Ibra adalah orang paling tampan sedunia!"
Lepas! Benar-benar lepas. Tawaku dan Romeo benar-benar sudah tidak terkendali. Sedangkan anak kelas kami hanya berusaha untuk menahan tawa. Berkali-kali Ibra menyikut Romeo agar dia diam. Tapi itu malah membuat tawa Romeo semakin keras.
Seorang gadis kini mengangkat tangan. "Apa kalian berpacaran?"
Kibibi tersenyum malu-malu sambil memainkan rambutnya yang berwarna obsidian itu. Semburat merah terlihat jelas di pipinya. Dia menatap Ibra penuh arti. Sedangkan Ibra tak henti-hentinya mengucapkan ayat kursi.
"Ibra, calon suamiku. Aku datang jauh-jauh dari Aussie, agar bisa bertemu dengannya."
Bruk! Setelah kata-kata itu diucapkan Ibra pingsan di tempatnya. Semua orang menatap kearah kami yang kami balas dengan gelengan.
Romeo menaburkan potongan kertas yang dia anggap sebagai bunga di atas tubuh Ibra yang sedang pingsan. Kemudian pria itu membaca yasin yang diaminkan satu kelas. Ya. Ini adalah akhir dari Ibra. Kedatangan gadis pelangi itu akan membuat mulut Ibra yang terkunci rapat kembali bersuara.
***
Aku terbangun. Kepalaku sedikit sakit. Aku melihat sekeliling. Sepertinya sekarang aku berada di atas kasur. Di tengah ruangan yang keseluruhannya berwarna putih dan bau obat yang menusuk. Ini uks. Jadi... aku sudah tidak berada di kelas? Yah, setidaknya aku tidak akan bertemu gadis pelangi itu disini.
"Ibra."
Aku kaget saat bayangan hitam dengan dua titik merah muncul di depanku. Saat bayangan itu perlahan mulai menghilang digantikan dengan sosok gadis mungil dengan manik merah mudanya yang khas, sepertinya tinggal menunggu waktu untuk kematian datang menjemputku.
"Aku lebih baik mati daripada bertemu denganmu."
Akhirnya aku mengeluarkan suaraku. Suara yang seharusnya hanya kutunjukkan pada Romeo dan Nielson. Tapi mana bisa aku diam saat pemilik kilatan merah berbicara padaku. Jika aku diam, dia akan membunuhku. Begitu yang selalu dia ucapkan.
Dia tersenyum. "Aku juga lebih berharap kau mati. Agar jasadmu bisa kuawetkan dan menyimpan dirimu untuk diriku sendiri. Aku bahkan sudah menyiapkan lemari kaca untuk jasadmu! Hanya untukmu!"
Aku menjentikkan jariku di dahinya. Membuatnya meringis kesakitan. Bagaimana bisa aku berhadapan dengan orang gila seperti dirinya. Apakah takdir tidak bisa menemukan jodoh yang lebih pantas untukku?
"Ibra!" Aku menoleh kearahnya. "Aku mencintaimu."
Jantungku sepertinya akan copot saat dia mengatakan hal seperti itu. "Menjijikkan! Aku harap aku tidak lahir kedunia ini!"
"Jika kau tidak lahir, aku tidak bisa merasakan cinta."
Aku menepuk kepalaku. "Benar juga. Untung saja dirimu lahir. Aku jadi bisa merasakan rasa benci."
Kami tertawa bersama. Aku mengelus puncak kepalanya dan mencium dahinya lembut. Bagaimanapun juga, aku sangat merindukan dirinya. Meski dia menyebalkan, menyeramkan, dan tidak pernah mau mendengar ucapanku.
"Aku merasakan hawa kebencian yang sangat besar saat berjalan menuju sekolah." Ucap gadis itu memecahkan suasana.
"Kau tahu siapa pemiliknya?"
Dia menggeleng. Aku menyipitkan mataku. Yang dia rasakan hawa kebencian. Dan itu adalah hawa miliknya. Mengapa dia tidak bisa mengetahui siapa orangnya? Hanya ada beberapa kemungkinan.
"Dia sudah mati?"
Dia kembali menggeleng. "Dia masih hidup. Hanya saja yang kurasakan tadi rohnya saja. Tubuhnya terpisah-pisah di berbagai dimensi. Sepertinya dia kesini untuk mencari salah satu potongan tubuhnya."
Mataku terbelalak. Jika benar yang dikatakannya, berarti kami harus ekstra hati-hati. Yang memiliki tubuh di dunia ini hanya aku, Kibibi, dan salah seorang lagi yang belum kami ketahui keberadaannya. Sedangkan empat yang lainnya tidak ada kabar sejak kejadian robekan antar dimensi itu.
Aku memikirkan sesuatu. "Berapa potongan tubuh yang sudah dia dapatkan?"
"Tiga! Tersisa tiga potongan tubuh lagi dan inti kekuatannya."
Aku mendesah kesal. Kekuatan kami berdua tidak mungkin cukup untuk menghadapi orang itu. Jika dia telah melalui berbagai dimensi untuk mencari potongan tubuhnya dia pasti sangatlah kuat sekarang. Tapi bagaimana potongan tubuhnya bisa tersebar? Apakah dia...
Mataku menatap netra merah muda yang berkilat itu. Seperti tau apa yang kupikirkan dia mulai memegang ujung rambut sisinya. Itu hal yang selalu dia lakukan saat sedang memikirkan sesuatu.
"Kita membutuhkan mereka berlima Kibibi."
Kibibi hanya mengangguk. Kilatan merahnya seakan-akan menghilang dari matanya saat aku mengucapkan hal tadi. Tentu saja. Karena hal itu hampir nihil dilakukan. Sudah seribu tahun kami berpisah. Bukan hal mudah untuk menemukan orang yang sudah lama tak berjumpa selama seribu tahun. Pilihan kami hanya dua. Berharap atau menyerah!
Suara petir yang tiba-tiba membuat kami kaget. Saat aku melihat Kibibi warna merah muda di matanya semakin menggelap.
"Dia sudah menemukan salah satu potongannya!"
***
Jantungku sedikit kaget saat suara petir yang tiba-tiba terdengar. Aku melihat ke jendela. Awan gelap perlahan muncul. Angin kencang seakan memberikan kabar padaku kalau dunia ini sebentar lagi akan hancur.
Aku mengambil sesuatu di saku celanaku. Jam saku. Jam saku berwarna emas yang sudah tidak hidup lagi. Jam saku yang menguhubungkan seluruh dimensi yang ada di seluruh dunia. Aku membuka jam itu dan melihat jam itu dengan seksama. Sepertinya tidak ada cara lain selain ini.
"Mundurkan waktu saat robekan antar dimensi terjadi."
Jarum pendek jam saku itu mulai bergerak mundur. Cahaya emas keluar memenuhi ruangan. Hologram seluruh kejadian yang terjadi selama aku hidup terus bergerak mundur. Aku menutup mataku saat sebuah kejadian yang amat perih melintas. Butuh waktu lama, hingga akhirnya aku sampai di tujuanku. Robekan antar dimensi!

Edenshii [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang