8• Pacar Kak Rafa???

19 5 1
                                        

"Orang Kak Rafa ganteng pasti pacarnya cantik pula. Oh, sejak kapan aku bilang Kak Rafa ganteng .... " _ Bela.

Selamat Membaca
******************

14:30

"Materinya kita tutup sampai disini dulu, ya anak-anak,"

"Yap,"

"Pasti,"

"Woke,"

Terdengar teriakan-teriakan girang yang saling sahut-sahutan menanggapi ucapan Bu Indah, guru fisika mereka.

Guru yang terkenaal ramah itupun segera meninggalkan kelas. Para siswa-siswi dengan ketidak sabarannya pun langsung berlari keluar sambil menggendong ransel mereka hingga membuat pintu kelas sempit oleh desakan-desakan mereka yang rebut ingin keluar duluan.

"Gue duluan ya," teriak Lita dari kejauhan. Gadis itu terlihat melambai-lambaikan tangannya.

"Bel, lo pulang pake apa? Abang lo yang jemput lagi?" tanya Galuh.

"Bang Andrian sibuk nih. Jadi yang jemput Papa," jawab Bela.

"Oh yaudah gue duluan ya. Udah ditunggu Riko nih,"

Bela hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang begitu semangat untuk bertemu paacarnya. Bayangkan saja, belum ada sebulan di sekolah barunya, Galuh telah mendapatkan pacar. Ya, Riko itu namanya.

Lucunya lagi saat Riko menembak Galuh. Ia malah memberikan dua bucket bunga mawar, yang satu bunga layu dan yang satunya bunga yang masih segar. Kata Riko itu semua sebagai bentuk perwujudan kesedihan dan kebahagiaan yang menjadi satu di perjalanan cinta mereka.

Jika sesederhana itu bisa membuat sahabatnya bahagia, Bela juga akan ikut bahagia dan selalu menyetujui semua tingkah-tingkah aneh sahabatnya.

Triririring ....

Ponsel di saku roknya bergetar. Terdapat notif telepon dari papanya. Bela segera mengangkat telepon itu.

"Iya Pa, ada apa?"

"Bela Papa minta maaf. Papa ada meeting, kamu minta jemput Bang Andrian atau Mama ya,"

"Tapi ..." belum selesai Bela mengucapkan kata penolakan papanya sudah terlebih dahulu memutus sambungan teleponnya.

Bela pun segera menelepon mamanya. Berkali-kali panggilan teleponnya tidak diangkat oleh mamanya. Ia pun segera berganti menelepon abangnya. Sejurus kemudian abangnya mengangkat teleponnya.

"Oi ganggu ae lo Dek,"

"Ih Abang gitu. Oh iya Abang bisa jemput Bela gak. Papa katanya ada meeting,"

"Gue lagi nganterin Mama arisan nih, di rumah Tante Mirda,"

"ABANG JAHAT!! Padahal Bela tadi pagi minta jemput katanya sibuk di kantor tapi malah sekarang bisa nganterin Mama,"

"Ya, iyalah nanti kalo gue gak nurutin apa kata Mama, gue malah kena tabok lah,"

Memang mama Bela kadang galak kalo urusan beginian. Pernah saat itu mama minta Bang Andrian untuk nganterin pergi belanja, tapi Bang Andrian malah tidur. Dan jadilah mama marah besar. Mama sampe mau memecat Bang Andrian dari kantor papa.

"Lo ngangkot aja sana," celetuk Andrian.

"Abang uang saku Bela habis nih," Bela menatap miris uang recehan di tangannya.

"Bhahahaha ... ya udah jalan kaki aja. Bye ... Bye ...." Bela mendengus yang kesekian kalinya abangnya lagi-lagi memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

'Dasar jahat, masa adiknya disuruh jalan kaki,' batin Bela.

Bela melirik ke arah parkiran, hanya tinggal beberapa motor yang terparkir manis di sana.

'Gue nebeng siapa coba, gimana kalo yang punya tu motor-motor pada gak gue kenal,' batin Bela lagi.

Tak lama kemudian terlihatlah cowok cewek yang sedang bergandengan tangan lebih tepatnya cewek yang bergelanyut manja di lengan cowok yang ada di sampingnya. Tapi cowok itu merasa risih buktinya ia mengibaskan tangannya berkali-kali.

Bela membulatkan matanya ternyata cowok itu adalah Rafa.

'Itu pasti pacarnya,'

'Eh kan katanya Kak Rafa, dia gak punya pacar. Ah bomat lah,'

'Sebenernya gue pingin nebeng Kak Rafa tapi gak enak sama cewek itu,'

Bela bergumam sendiri. Dia pun hanya berdiri kebingungan. Bela akhirnya berjalan menjauhi parkiran. Bela memutuskan untuk berjalan kaki saja. Toh dapat menyehatkan badan. Tapi lagi-lagi Bela mengeluh jarak antara sekolah dan rumahnya terlihat lumayan jauh di tambah terik matahari yang menyengat siang ini.

"Bel!!!" panggil Rafa. Ia pun menghempaskan tangan cewek yang bergelanyut di tangannya.

"Raf, lo mau kemana tungguin gue," kata cewek yang memakai rok pendek itu.

Bela membalikkan tubuhnya. Ia terlihat bingung, "Ya Kak?"

"Nungguin siapa kok masih disini?" Rafa malah balik bertanya.

"Gak. Gak nungguin siapa-siapa kok. Ini gue udah mau pulang Kak,"

Rafa memicingkan matanya," Nungguin angkot? Udah gak ada jam segini. Mending gue anterin aja. Ayok ..." Rafa menarik lengan Bela pelan menuju motor besarnya.

"Tapi Kak ..." Bela melirik cewek yang tadi bersama Rafa.

"Gue ogah bareng cacing kepanasan," kata Rafa tegas. Rafa mengatai cewek yang bernama Misha itu dengan sebutan cacing kepanasan karena Misha memakai pakaian yang sangat ketat. Sampai-sampai mencetak bentuk tubuhnya dengan sempurna.

Cewek itu terlihat kesal. Ia lalu berkata, "Bangsat lo!"

"Cantik-cantik kok omongannya kasar," dengus Bela.

"Apa lo ikut-ikut. Dasar lo ....,"

"Ayok naik. Jangan dengerin ocehannya dia," Bela sampai tak meyadari jika Rafa telah nangkring manis di motor besarnya.

"Pegangan yang erat," kata Rafa sambil menyalakan motornya.

'Kok sekilas Kak Rafa mirip Kak Afa sih,' batin Bela.

###
TBC

Meet AgainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang