Rosabela, gadis yang harus berpisah dengan keluarganya karena suatu hal. Ia sangat merindukan masa kecilnya. Masa dimana ia hanya berpikir tenang bermain dan bermain. Ia rindu orang tua kandungnya, kakaknya Leon, dan tentunya Kak Afa.
Masalah-mas...
Hal yang akan selalu kuingat dalam persahabatan kita yaitu bukan lain adalah saat pertama kita bertemu, masih sama-sama malu, sama-sama canggung, dan masih sering pake bahasa yang kaku _ Bela
Selamat Membaca *******************
"Pa, dia sangat cantik. Bahkan saat terlelap ia tetap cantik," kata Irene tersenyum menatap seorang gadis kecil. Adam hanya mengiyakan ucapan istrinya.
" Bolehkan kita angkat anak ini menjadi anak kita sampai dia berhasil menemukan keluarga kandungnya. Kurasa Andrian pasti senang," Irene mengusap rambut gadis yang ia temukan tak sadarkan diri di tepi pantai.
"Aku setuju sayang," Adam ikut duduk di tepi ranjang.
"Pa, Andrian Menang Pa. Papa!!" teriak bocah yang baru saja masuk ke kamar tempat Adam dan Irene berada. Pakaiannya kotor terkena lumpur ditambah bola yang tak kalah kotor berada di tangannya.
"Aduh, Andrian mama udah capek-capek ngepel. Eh malah dikotorin lagi," teriak Irene.
Bocah itu hanya terkekeh-kekeh , " Ma itu siapa?" tunjuknya.
"Adik kamu, Dri" timpal Papa.
" Hore!! Andrian punya adek," kata Andrian sambil benjingkrak-jingkrak. "Tapi, tunggu Pa. Adeknya Andrian kok udah gede , nggak bayi dulu kaya adeknya Ceko?"
Adam dan Irene hanya tertawa mendengar pertanyaan Andrian.
Bela memandangi wajahnya yang terpantul pada cermin kamarnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Perfect," gumamnya.
Bela mengaitkan tasnya di lengannya lalu segera menuruni anak tangga untuk sarapan pagi.
"Helloww, good morning everybody. Bela yang cantiknya gak ketulungan dari pagi nyampe pagi lagi udah...... " teriak Bela.
" Dan bacotnya gak ketulungan," sambung Andrian yang berdiri di belakang Bela.
"Ih abang nyebelin." Bela segera memukup Andrian. Tapi, Andrian segera berlari menuju sofa. Bela mengejar abangnya sambil membawa centong yang ia sambar dari tangan mamanya. Andrian semakin menjadi-jadi. Ia menjulurkan lidahnya dan menari-nari tak jelas.
Andrian reflek menangkap garpu yang hampir saja mengenai jidatnya. Siapa lagi kalau bukan Adam, papanya yang melemparinya garpu. Andrian hanya bisa nyengir.
"Cepet sarapan. Kamu itu udah gede, suka banget lari-larian heran Papa. Nanti calon istrimu ilfeel deh, trus gak jadi nikah." gerutu papa. Bela tertawa mendengar perkataan papa yang bermaksud menyindir Andrian.