Kenapa gue suka ayam goreng? Alasannya simpel karena gue suka makan ayam goreng ketimbang makan teman_ Bela.
Selamat Membaca
******************
Bela menautkan alisnya. Ia terlihat bingung saat Rafa menghentikan motornya di depan restoran.
"Ngapain kesini? Gue gak laper," tanya Bela polos.
Rafa terlihat mengangkat alisnya, "Gue yang laper. Kalo lo gak mau masuk tunggu aja di sini," Rafa berjalan santai meninggalkan Bela.
Bela menghentakkan kakinya kesal.
'Udah mulai keliatan tuh sikap aslinya,' batin Bela.
Ia pun segera berjalan mengikuti langkah kaki Rafa yang lebar-lebar itu. Ia tak mau menunggu di parkiran seperti orang gila tengok sana tengok sini. Membayangkannya saja sudah membuatnya merinding.
Rafa pun terlihat sedang memesan makanan mengacuhkan kedatangan Bela. Tak lama kemudian datanglah seorang pelayan yang membawakan pesanan Rafa. Sepiring ayam goreng lengkap dengan saos merah dan sepiring nasi goreng dengan taburan sosis di atasnya.
Di hadapannya kini terdapat ayam goreng yang sangat banyak bahkan air liurnya hampir menetes. Ini cobaan bagi Bela. Bela yang terkenal penyuka ayam goreng itu harus tahan melihat ayam goreng yang dipesan Rafa. Bela terlihat gengsi karena tadi ia sempat mengatakan bahwa ia tak lapar.
Bela mengalihkan tatapannya yang semula menatap ayam goreng kini menatap Rafa yang sedang melahap nasi gorengnya.
"Di restoran kok pesannya makanan rumahan," ledek Bela menahan tawa.
"Ketimbang elo, keliatan banget kalo pingin ini," Rafa menunjuk ayam goreng yang masih mengepulkan uap panas.
"Dimakan gih, gue tau ini makanan kesukaan lo,"
Bela tertawa girang. Bak mendapat lampu hijau ia segera meenyambar ayam goreng itu sampai-sampai ia tak memperdulikan kalimat terakhir Rafa.
Rafa geleng-geleng kepala dibuatnya, "Masih rakus aja,"
Tiba-tiba seorang pelayan mendekat sambil membawa 2 minuman yang terlihat begitu menyegarkan.
"Silakan menikmati," kata pelayan itu.
"Gue gak tau lo mau minum apa, gue samain aja ya," kata Rafa.
"Thanks Kak, gue ngrepotin banget ya," kata Bela.
"Bisa ae lo, panggil gue Rafa aja oke, gak usah pake embel-embel kak. Berasa tua banget gue." Bela hanya tertawa menanggapi ocehan Rafa.
Setelah menghabiskan minumannya Rafa lalu mengajak Bela pulang.
"Yok pulang. Ntar lo dicariin," ajak Rafa.
Bela segera mencomot tisu dan mengikuti Rafa menuju parkiran.
Saat Rafa hendak menjalankan motornya tiba-tiba ponsel Bela berdering.
"Bentar ya Kak, eh maksudnya Raf gue mau angkat telepon dulu." Rafa pun lantas mengangguk.
"Hallo Bang?" tanya Bela. Ya, Andrian lah yang menelepon Bela.
"Lo udah pulang?" terlihat nada khawatir dalam ucapannya.
"Ini mo pulang. Lagi dijalan Bang,"
"Lah gue udah nyampe nih di sekolah lo,"
"Eh lo jalan kaki, Bel," terdengar tawa Andrian.
"Enggak lah, nih dianterin ma senior."
"Oh, yaudah cepetan. Ati-ati Bel,"
"Emang ke ..."
Rafa tersenyum tipis, sangat tipis melihat tingkah konyol Bela yang akhir-akhir ini menjadi hobinya. Bela tak menyadari tatapan Rafa ia sibuk membalas pesan untuk abangnya.
"Oh iya Raf, yok buruan. Rumah gue yang disana gak jauh lagi kok,"
"Kok gue berasa jadi tukang ojek ya," tanya Rafa konyol.
"Hahahaha, btw kakak lho yang bilang bukan gue," ungkap Bela.
###
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Meet Again
Teen FictionRosabela, gadis yang harus berpisah dengan keluarganya karena suatu hal. Ia sangat merindukan masa kecilnya. Masa dimana ia hanya berpikir tenang bermain dan bermain. Ia rindu orang tua kandungnya, kakaknya Leon, dan tentunya Kak Afa. Masalah-mas...
