Walaupun gue bukan penjahatnya, gue tetep takut dan merasa bersalah karena gue anak dari penjahat itu _ Rafa.
Selamat Membaca
*******************
"Rosa??" Rafa menyentuh pundak teman sebayanya.
"Ih apaan si Fa, aku tuh bukan Rosa," kata anak perempuan itu ketus.
"Maaf," cicit Rafa. "Aku kira kamu Rosa,"
Anak perempuan itu terlihat kesal ia lalu meninggalkan Rafa sendirian.
Rafa selalu dibayang-bayangi sosok Rosa. Ia merasa semua anak perempuan sebayanya adalah Rosa. Ia merasa gagal menjadi teman, mengapa saat itu ia tak menggenggam tangannya erat-erat. Agar ia tetap bersama Rosa. Mengapa ia mengajak Rosa ke pinggir pantai. Pasti Rosa tidak akan pergi darinya.
Tiba-tiba lamunannya terhenti, ia mendengar suara tangisan di belakangnya.
"Rosa," tanpa sadar mulutnya mengucapkan nama itu.
"Kak Afa jahat. Kak Afa gak cari rosa. Kak Afa jahat," tangis gadis itu sambil mengusap-usap matanya, menghapus air matanya.
"Rosa, Kak Afa minta ma.....," Rafa terkejut, saat tangannya ingin menyentuh Rosa. Tubuh Rosa menghilang hanya menyisakan udara kosong.
"Haha,hah," Rafa mengusap-usap matanya. Ia terbangun oleh mimpi buruknya itu.
"Rosa," Rafa mulai menangis mengingat mimpi-mimpi buruknya. Entah mengapa Rafa menjadi cengeng. Ia merasa bersalah. Ia lalu bangkit, berjalan menuruni tangga dan menuju dapur.
Rafa ingin meminum sesuatu. Tapi langkahnya terhenti melihat kamar bundanya yang masih menyala. Aneh, tidak biasanya bunda Rafa tidur dengan lampu yang ia biarkan menyala.
Rafa memasuki kamar bundanya. Ia terkejut melihat bundanya merintih dengan memegangi kepala.
"BUNDA KENAPA!!" panik Rafa.
"Gak papa, bunda baik-baik aja kok cuma kecapean. Rafa tolong ambilin obat pusing di laci meja," kata Melia pelan. Sorot matanya melemah.
Rafa segera menyodorkan obat yang diinginkan bundanya. Ia lalu membantu bundanya meminum obat itu. Pusing yang dirasakannya berangsur-angsur menghilang.
"Udah kok, bunda gak kenapa-napa, Rafa tidur lagi sana." katanya halus
"Yaudah bunda istirahat, Rafa matiin lampunya," kata Rafa sambil membetulkan selimut bundanya.
***
Rafa mengangkat nampan minuman dengan semangat sesekali ia mengusap keringatnya dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya. Rafa membagikan minuman sore untuk para karyawan yang sedang sibuk bekerja. Sudah lewat seminggu ia bekerja menjadi pelayan sekaligus pesuruh di sebuah kantor yang cukup terkenal. Bahkan saat ia melamar pekerjaan ia telah diwawancarai oleh salah satu Ceo sendiri.
"Eh, bisa angkut ini gak ke ruang sekretariat," kata seorang wanita memanggil Rafa. Rafa segera mengambil alih tumpukan map yang berada di tangan wanita itu.
"Eh tau gak bos besar mau kesini," celetuk seorang lelaki muda kepada rekannya.
"Emang dia udah pulang dari Jepang, Rik?" tanya perempuan di depannya sambil mengalihkan perhatiannya dari komputer.
"Udah dari kemarin, masa lo gak tau sih,"
"Eh, iya pa. duh muka gue dah kusem nih," kata perempuan itu sambil melihat ke cermin kecil miliknya. Perempuan itu lalu memoleskan bedak ke wajahnya tak lupa juga lip tint untuk mencerahkan bibirnya.
"Harus cantik-cantik gue nih. Mana bos mau kesini, aduh meleleh hati adek," kata perempuan lain menimpali.
"Dasar," rekannya langsung memukul kepala temannya itu dengan segulung kertas. Perempuan yang terkena gulungan kertas terlihat memajukan bibirnya.
Rafa terlihat kebingungan, siapa yang mereka maksud bos besar. Setahunya bosnya hanya ada dua, Pak Alex dan Bagas. Dan keduanya hari ini terlihat berkeliaran di kantor. Lalu siapa yang dimaksud bos besar yang baru pulang dari Jepang.
Setelah menyelesaikan tugasnya. Ia bergegas ke bagian belakang kantor hendak menemui Pak Min, seorang pelayan sekaligus pesuruh sepertinya. Pak Min telah bekerja di kantor yang biasa dikenal 'LBA COMPANY' itu sejak lama.
Pak Min terlihat duduk di tangga. Nafasnya terengah-engah, ia mungkin kelelahan setelah menurunkan kardus-kardus entah apa isinya.
"Pak Min minum dulu nih," Rafa menyodorkan segelas teh kepada Pak Min.
"Oh makasih, nak Rafa," Pak Min perlahan menyeruput tehnya. Rafa duduk disamping Pak Min.
"Bos besar itu siapa pak?" Tanya Rafa langsung to the point. Ia lupa Pak Min sedang dalam mode kelelahan. Tapi pria paruh baya itu malah terkekeh.
"Nanti nak Rafa akan tahu sendiri. Dia juga kemarin nyariin kamu, tapi nak Rafa sudah pulang,"
"Oh gitu ya, pak. Kenapa dia cari saya,"
"Saya kurang tahu, nak Rafa tanya langsung saja sama bos besar,"
Tiba-tiba dari dalam kantor terdengar sorakan riuh. Lantas hening seperti semula. Rafa yang baru pertama kali menyadari keanehan itu pun mengernyitkan dahinya.
"nah, itu bos besar udah dateng," kata Pak Min seolah tahu apa yang Rafa bingungkan.
"Teriakan tadi tu biasalah, cewek-cewek yang histeris ngliat bos datang. Emang dasar, udah pada punya suami tapi kelakuannya masih mirip bocah abg," katanya sambil berdiri mengajak Rafa untuk menemui bos besar di ruang utama.
Sesampainya diruang utama mereka langsung bergabung untuk memberi hormat kepada bosnya yang baru datang itu.
"Ini anak baru yang gue ceritain kemarin, Le. Lo bisa cek kedisiplinannya lagi kalo perlu," kata Pak Bagas menepuk pundak seseorang yang sangat familier itu.
Oh, Leon.siapa lagi kalo bukan Bang Leon, kakak Rosa. Tiba-tiba rasa bersalah perlahan-lahan menggerogoti perasaanku. Ternyata Leon adalah bos besar itu.
"Bang, Bang, gue-gue " kata Rafa tersendat-sendat.
"Tenang Raf, gue dah ngerti semuanya. Lo gak salah," kata Leon.
"Kita bicarain diruangan gue," sambungnya.
"Loh kalian udah saling kenal," tanya Bagas menyela. Namun diabaikan oleh Leon.
###
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Meet Again
Novela JuvenilRosabela, gadis yang harus berpisah dengan keluarganya karena suatu hal. Ia sangat merindukan masa kecilnya. Masa dimana ia hanya berpikir tenang bermain dan bermain. Ia rindu orang tua kandungnya, kakaknya Leon, dan tentunya Kak Afa. Masalah-mas...
