Selamat Membaca
*******************
Pelayan berseragam bolak-balik mengangkat makanan beruap mengepul. Mereka memilih tempat di pojok depan menghadap jendela besar. Setelah memesan minuman dan beberapa cemilan keduanya disibukkan oleh handphone masing-masing.
"Bal, kata lo si Rafa sibuk," tanya Indri.
"Hmm. Lhah emang. Rafa gak bisa nongkrong disini sibuk katanya. Trus kalo kita doang kan jadinya nge-date," Iqbal lalu kembali mengotak-atik hpnya.
"Pala lo nge-date," sontak Indri melempar kentang goreng yang berada di meja.
"Eh ngomong-ngomong sejak kapan rambut lo jadi item. Jangan bilang lo kesetrum trus rambut lo yang pirang ala Barbie jadi gosong gitu,"
"Ngaco. Gue ganti warna rambu. Males banget kalo warna rambut gue yang asli jadi lirikan cewek ganjen yang bilang gini, 'Ih itu orang luar negeri, harus gue deketin nih, siapa tahu dia suka juga sama gue. Kan gue jadi famous trus trus bisa pamer ama mantan,'. Gimana ya? ngerasa beda aja sama lo, lo yang asli sini,"
"Lah, kalo gue jadi lo. Gue pasti pamer rambut yang kek gitu,"
"Lupain soal rambut. Yang Rafa maksud sibuk itu, sibuk kerja ya,? Sejak kapan? Lo tahu ya tapi gak mau cerita sama gue,"
"Tanya satu-satu Dri. Mana gue tahu Rafa kerja. Bukannya..." belum selesai Iqbal mengucapkan kata-katanya, Indri telah menyumpal mulutnya dengan kentang goreng.
"Tu liat," Indri menunjuk ke luar kafe, lebih tepatnya menunjuk Rafa yang sedang mengangkat kardus-kardus di seberang jalan.
"Yuk samperin," Iqbal bangkit dari duduknya.
"Ngapain,?" tanya Indri.
"Mau gue labrak," Indri sontak menggeplak kepala belakang Iqbal.
"Bukan itu maksudnya. Kita kan bisa patungan trus suruh dia gak kerja lagi buat fokus belajar. Denger-denger nih ya Tante Melia sakit," tutur Indri.
"Lo lupa Rafa kan keras kepala mana mau dia nerima uang dari kita. Yuk ah samperin,"
"Lo yang,...." Indri lantas mendengus. Lihat saja Iqbal telah meninggalkannya. Bahkan ia lupa telah memesan banyak makanan yang tak mau repot-repot menghabiskannya apalagi membayarnya.
Cowok itu lalu membayar minuman beserta makanan sahabatnya.
***
"Pak Min ini kardus isinya apaan," tanya Rafa.
"Saya kurang tahu nak Rafa," Pak Min menampilkan raut bingungnya.
"Yang pasti barang penting," Pak Min menata kardus-kardus di atas troli.
Ia lalu mendorong troli itu menuju gudang. Gudang di kantor ini memang sering dipakai untuk menyimpan barang-barang penting, karena menurut bos maling pasti akan berpikir dua kali untuk membobol gudang.
Yang pada umumnya gudang terlihat kumuh, berdebu, dan berisi onggokan barang yang tak berguna lagi. Tapi gudang di LBA Company sangatlah bersih, Pak Min sering membersihkan gudang. Bahkan Rafa sesekali membantu Pak Min membersihkannya.
"Door,!"
Rafa tersentak, "Lo ngapain disini,!!" Rafa menatap Iqbal horror.
"Iya juga ya. Ngapain gue disini?" tanya Iqbal pada dirinya sendiri.
Rafa sontak menimpuk Iqbal dengan handuknya.
"Sumpah Raf, bau banget. Ngaku lo ni lap belum dicuci setahun kan?" tuduh Iqbal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Meet Again
Teen FictionRosabela, gadis yang harus berpisah dengan keluarganya karena suatu hal. Ia sangat merindukan masa kecilnya. Masa dimana ia hanya berpikir tenang bermain dan bermain. Ia rindu orang tua kandungnya, kakaknya Leon, dan tentunya Kak Afa. Masalah-mas...
