yeayy, akhirnya....
Selamat Membaca
*******************
"HBD Bela, yuhu!!" seru Lita diambang pintu kelas.
"Apa sih, brisik pagi-pagi," balas Bela.
"Oi sahabat gue ultah, oi, oi, bisa ultah ternyata gaes," suara cempereng Galuh tak kalah hebohnya dengan suara Lita.
"Lo berdua janjian ke sekolah? Kok bareng nyampe sini?" seru Bela saat dua temannya mulai mendekati mejanya.
"Gak sih Lita aja yang suka ngintilin gue,"
"Dih ogah banget buntutin lo,"
"Nih kado dari gue spesial bukanya di rumah ya. Nanti kalo dibuka sekarang takutnya lo terharu kan trus repot gue,"
"Pede lo,"
"Gue juga punya kado buat lo," kata Lita.
"Ih makasih lucu-lucu kadonya,"
"Wuih, HBD Bel, kadonya nyusul," kata Fira begitu melihat kado ditangan Bela.
"Iya, makasih,"
"Selamat Bel," teman lainnya menimpali.
"Selamat apa oi nggantung gitu, kaya hubungan lo sama doi aja,"
"Njir kagak usah nyindir. Ya, selamat ultah,"
"Selamat Memperingati Hari Lahir, Bel," seru seseorang di pojok kelas.
"Selamat Menempuh Umur Baru, Bela!!" kata Rike, teman sekelas Bela.
"Duh makasih ya udah inget. Gue traktir nih ntar istirahat,"
"Wau, gak usah repot-repot kita ikhlas kok. Tapi kalo maksa lebih dari air putih aja juga gak papa," kata Aldo menimpali.
"Alah lo, Do. Palingan ntar nglunjak sekarang aja sok merendah," seru Lita.
"Hehe tau aja lo,"
***
Kriiiiiiinggg.......
"Bau-bau traktiran semakin dekat," gumam Galuh.
Bela pun menoleh ke arah Galuh, "Bentar lagi gih, seneng banget ya mau ditraktir,"
"Harus dong. Lebih sering traktir ya,"
"Ya bukannya kita sering gantian mentraktir ya,"
"Ya kan gak tiap waktu makan harusnya tuh pagi siang malam,"
"Ye kadal itu mah namanya gue jadi nyokap lo,"
"Apa yang siang malam??" tanya Lita penasaran.
"Siang makan nasi kalo malam minum cucu," balas Galuh ngawur.
"Apa an dah,"
"Woi ke kantin yuk. Bosnya dah siap nih," seru Galuh sambil melirik Bela.
"Lo tuh gak kesel apa daritadi teriak-teriak mulu,"
"Gak ada capeknya dia, Bel. Biasalah ....." kata Lita sambil berbisik dengan Bela.
"Apa??" Galuh memelototkan matanya.
"Yuk ke kantin!!" seru Lita. Galuh menghembuskan nafasnya kesal. Mereka pun mulai berjalan ke kantin.
Sesampainya di kantin mereka memesan makanan dan minuman kemudian mencari tempat duduk yang kosong.
"Woi, makasih ya Bel," kata segerombolan cowok cewek di seberang meja. Bela membalas dengan acungan kedua jempolnya.
"Wah masih anget-anget," seru Lita.
"Sebenernya sih sekarang bukan tanggal lahir gue," celetuk Bela memecah keheningan mereka menyantap makanan.
"Lo inget, gue pernah cerita kalo gue bukan anak kandung ortu gue kan. Dulu gue hanyut dan ditolong Papa. Dan karena mereka gak tahu identitas gue secara pasti, mereka mengubah sedikit nama asli gue karena waktu itu gue emang lupa dan sampe sekarang gak inget nama asli gue. Bahkan, tanggal lahir gue sekarang ini cuma tanggal yang diambil saat mereka nemuin gue,"
"Gue doain lo cepet ketemu ortu kandung lo," balas Galuh.
"Amiiin," seru Lita.
"Amiin, tapi gue sih masih fine-fine aja sama kehidupan sekarang. Cuma kadang kalo sendiri jadi keinget dulu, kangen sih. Kadang aku tanya diri sendiri apa keluarga gue nyariiin gue? Peduli gue? Atau ikhlasin gue?"
"Lo gak boleh pesimis gue yakin keluarga kandung lo sayang banget sama lo," hibur Lita.
"Duh sorry ganggu kalian makan. Yuk habisin keburu dingin," kata Bela.
"Santai aja, Bel. Mau lo sampe lama pun kita rela jadi pendengar yang baik," balas Galuh sambil tersenyum.
Mereka pun makan dengan lahapnya dan menghabiskan banyak makanan di kantin. Tiba-tiba Galuh meletakkan sendok makannya.
"Ih enak ya lo makan banyak tapi tetep kurus? Lo jangan-jangan melihara cacing pita di usus ya!" kata Galuh.
"Heh sembarangan ya gak lah makan tinggal makan aja ribut masalah gendut ya kita tinggal olahraga sama diet aja dah sini makan lagi," jawab Bela.
"Ya kalo niat mo olahraga si bisa tapi ngelaksanainnya berat banyak malesnya,"
"Ya gitu deh kalo gak jaga pola makan jadi bongsor," celetuk Lita pedas.
"Lo secara sengaja atau tidak sengaja nyindir gue gendut!!" seru Galuh.
"Lha emang lo yang paling gendut di antara kita bertiga," sambung Lita.
"Eh, segendut-gendutnya gue masih gendutan model yang di tipi-tipi,"
"Heh, lo kedengerannya nyindir gue kurus kurang gizi? Lhah model kan bodynya gitu deh,'
"Haha, ngrasa nih bos qu,"
"Huh dasar,"
"Mau ribut lagi gue habisin makanan kalian," seru Bela sambil mengangkat sendok dan garpunya seolah olah akan mengambil makanan Galuh dan Lita.
"Oi, jangan Bel," teriak Galuh dan Lita bersamaan mereka pun buru-buru menghabiskan makanan mereka masing-masing.
***
Malam semakin larut, ketika suara di seberang sana mengajaknya bercanda.
"Makasih bang, lo masih ngijinin gue kerja di 'LBA Company' padahal bokap gue udah ngerusak keluarga lo," sesal Rafa.
"Iya, gue gak dendam sama lo kok, tapi sama bokap lo doang. Baik-baikin sikap lo sama gue nih, hahahah bercanda gue, jangan dianggap serius," suara di seberang sana terkekeh.
Terdengar nada bicara yang jenaka membuat Rafa tak henti-hentinya bersyukur dan berterima kasih kepada bosnya yang satu ini. Alexander Leon Putra Dirmaga, bosnya yang saat ini tengah berada di luar negeri untuk pengobatan ibunya.
Rafa merasa teriris hatinya setelah mengetahui bahwa ibu Leon mengalami stress berat dikarenakan rindunya kepada putri kecilnya yang menghilang. Sebagai anak dari dalang semua kejadian itu ia merasa bersalah.
"Heh, tidur lo??" Rafa tersentak ia tak sadar jika sambungan teleponnya masih menyala.
"Gak lah bang, kan masih jam segini," kekeh Rafa.
"Dasar bocah ni udah jam 12. Cepet sono tidur besok awas aja kalo bangun kesiangan. Lo masih inget tugas lo kan! Tolong tetap jaga cewek yang mengaku bernama Bela itu,"
"Bang!"
"Ya?"
"Emang siapa sih cewek itu, gebetan lo? Tapi gak mungkin sih," tanya Rafa sambil menimang sesuatu. Pertanyaan ini bukan pertama kalinya ia pertanyakan kepada bosnya itu.
"Gebetan ndasmu!!" semprot Leon.
"Iya iya, pasti gue jagain bang,"
Lalu Leon mengakhiri sambungan teleponnya.
###
TBC
Bela : Mau denger aku nyanyi?
KAMU SEDANG MEMBACA
Meet Again
Teen FictionRosabela, gadis yang harus berpisah dengan keluarganya karena suatu hal. Ia sangat merindukan masa kecilnya. Masa dimana ia hanya berpikir tenang bermain dan bermain. Ia rindu orang tua kandungnya, kakaknya Leon, dan tentunya Kak Afa. Masalah-mas...
