Selamat Membaca
*******************
Bela memutar-mutar tubuhnya di depan cermin besar miliknya. Sesekali ia berdecak kesal karena baju yang ia pakai tak sesuai ekspetasinya. Akhirnya, pilihannya jatuh pada atasan ¾ lengan berwarna peace dengan dipadu rok putih yang sedikit mengembang. Bela pun merasa puas tetapi senyum di bibirnya kembali menampilkan kekecewaan tatkala melihat tumpukan pakaian yang tadi ia acak-acak.
Huft.. bodo amat dah pikirnya. Senyum bulan sabitnya kembali muncul kala mengingat Rafa yang tiba-tiba mengajaknya jalan.
"Hmm, kak tumben pake mobil," kata Bela disaat lampu lalu lintas berwarna merah. Ia lantas menoleh ke samping menatap Rafa yang sedang fokus ke depan.
"Sengaja, cuma lagi kepingin make sih,"
"Oooh," Bela gereget sendiri. Ia bingung akan membuka topik pembicaraan darimana lagi untuk mencairkan ketegangan yang telah tercipta di mobil.
Bela akhirnya menyerah mau ngomong takut salah jadi ia memutuskan untuk membuang mukanya ke samping jendela. Menatap kendaraan yang berlalu lalang.
"Rumah lo masih sama yang kemarin kan?"
Bela mengernyitkan dahinya, "Iya, kak"
"Ck, padahalo gue udah pernah bilang panggil nama gue lansung aja jangan 'kak'!"
"Ya habisnya gak sopan. Lo kan lebih tua dari gue,"
"Yaudah terselah lo ynang penting lo nyaman manggil gue gitu."
"Eh...."
"Kenapa, kak?" Bela buru-buru menatap Rafa lagi. Ia merasa Rafa akan mengatakan sesuatu. "Besok ada acara gak lo?"
"Emm.. bentar kak," Bela terlihat berpikir keras ia menghitung jarinya dan menekuk semua jarinya kembali, " Kayaknya gak ada deh kak? Emang kenapa?"
"Gue mau ajak lo jalan. Mau kan?"
"oke kak. Makasih ya, udah anterin gue. Gue turun dulu," Bela segera membuka pintu mobil ketika menyadari dirinya telah sampai di depan rumahnya. Tetapi Rafa buru-buru menarik lengan Bela dengan lembut.
"Gue jemput jam 8 ya. Dah sana hati-hati,"
Bela menggangguk-anggukkan kepalanya, "Lo juga hati-hati di jalan, kak! Dah."
"Idih tumben rapi banget. Mau kemana, lo?" sinis Andrian di depan pintu kamar Bela yang terbuka lebar. Ia terkikik geli melihat Bela yang terlonjak kaget karena teriakannya barusan.
"Ih abang hobi banget sih nggangguin adik lo,"
"Hehe maap deh,"
"Oh iya bel, lo ada janji sama cowok?"
"Hah, kok tahu bang?"
"Itu nunngu di bawah, lagi diinterogasi sama papa," Andrian pura-pura menakuti Bela.
"Duh bang bantuin gue dong ntar kalo Rafa ditanyain aneh-aneh sama papa gimana?"
"Terima nasih lo diputusin wlee," Andrian segera menjulurkan lidahnya tanda mengejek dan dibalas tatapan kesal oleh Bela.
Bela segera berlari tak memedulikan ejekan andrian lagi, "Eh, tapi bang dia tu bukan pacar Bela!"
Andrian juga ikut turun ke lantai bawah membuntuti Bela.
Huft. Bela kini dapat bernafas lega. Orang yang sedang dikhawatirkannya malah sedang enak-enakan duduk ditemani secangkir kopi dan beberapa cemilan. Ditambah Rafa bahkan terlihat akur bersama papanya.
"Eh udah lama nunggu kak?"
"Belum sih yok," ajak Rafa yang lalu menyalimi papa Bela saja karena mamanya sedang pergi berbelanja bersama temannya.
Bela pun juga segera menyalami papanya, "Pa, Bela keluar dulu ya. Papa di rumah aja jagain Bang Drian takutnya jadi gila gara-gara Bela tinggal,"
"Sembarangan kalo ngomong lo, dek," teriak Andrian dari arah dapur.
"Hati-hati, sayang,"
"Dah papa!!" seru Bela sambil melambaikan tangannya.
"Ayo Bel," kata Rafa lembut sambil membukakan pintu mobil untuk Bela.
'Duh, ini Kak Rafa yang judes bin cuek itu bukan sih? Bisa-bisanya bersikap kek gitu sama gue,' batin bela.
Rafa memutari mobil, ia lalu membuka pintu yang lainnya.
"Kak Rafa gak papa kan?"
"Hmm? Kenapa nanya gitu,"
"Eee gak papa kak. Jangan dipikirin pertanyaan gue hehe," Bela menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Udah ayo jalan, kita mau kemana nih?"
"Kemana dong, aku juga bingung. Maunya kemana Bel?"
"Duh gimana sih kak kok tanya aku. Terserah lo aja kak, kan lo yang ngajak,"
###
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Meet Again
Teen FictionRosabela, gadis yang harus berpisah dengan keluarganya karena suatu hal. Ia sangat merindukan masa kecilnya. Masa dimana ia hanya berpikir tenang bermain dan bermain. Ia rindu orang tua kandungnya, kakaknya Leon, dan tentunya Kak Afa. Masalah-mas...
