"Selamat menikmati," ujar salah satu pramugari.
Natasha mendesah lelah. "Bukan seperti ini yang kuharapkan sebagai pengalaman pertamaku bepergian dengan pesawat, katanya sambil memainkan salad yang ada di nampan makanan dihadapannya. "Kubayangkan pengalaman pertamaku akan dengan seorang pria, my boyfriend, kalau boleh kutambahkan, yang akan menghiburku ketika aku ketakutan saat take off. Dan saat malam hari kami akan mencuri-curi kesempatan untuk satu atau dua make out session ketika lebih dari setengah penumpang lainnya terlelap dibawah cahaya temaram." Nat mengambil dua potong kentang goreng sekaligus lalu mengunyahnya. "Kenyataannya, aku bahkan tidak khawatir sedikitpun saat take off tadi."
Halina menatap sahabatnya itu tanpa berkedip.
"Hmmm... Setidaknya, mereka punya makanan lezat disini," lanjutnya. Untuk sesaat Halina hanya memperhatikan Nat sibuk dengan makanannya. Dia sendiri sudah kehilangan selera makan sejak morning sickness-nya pagi tadi. Apalagi dengan kekhawatiran yang menjadi bebannya belakangan ini. Tentu saja dia takut. Hell, dia baru tujuh belas tahun dan harus bertanggung jawab atas hidup seorang bayi? Halina bahkan tidak yakin bagaimana mengurus diri sendiri selama 'misi bersembunyi' yang dipaksakan orangtuanya itu. Pikiran itu mengusiknya, membuatnya kalut dan tiba-tiba mual. Oh bukan, kali ini Halina yakin bukan karena morning sickness.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Apa kau akan..." Pertanyaan Nat beberapa hari lalu menyentaknya kembali. Memberikan efek seperti sengatan listrik kecil. Tidak melumpuhkan, tapi cukup membuatmu ingin berteriak. Tiba-tiba Halina merasa tubuhnya berkeringat dan napasnya berubah pendek-pendek. Gerakan yang disadari Natasha.
"Halina? Kau kenapa?" Halina hanya menggeleng cepat.
"Kau tidak enak badan? Atau kau ingin muntah lagi?" Nat tampak waspada. Halina hanya sempat menanggapi Nat dengan gelengan singkat sebelum tergesa-gesa ke toilet. Bahkan setelah beberapa menit terdiam disana pun Halina tetep tidak dapat tenang. Bukan, bukan morning sickeness. Halina mulai yakin dirinya mengalami PTSD. Setiap kali membayangkan dirinya menggendong bayi, Halina selalau panik berlebihan. Ironisnya, Halina tidak perlu membayangkan hal itu akan terjadi karena dalam beberapa bulan kedepan hal itu pasti terjadi. Kecuali...
Halina tersentak oleh pikirannya sendiri.
Seandainya bayi ini tidak ada, aku pasti bisa melanjutkan pendidikan ke universitas seperti rencana awal.
Seandainya bayi ini tidak ada, mungkin Daddy dan Mommy mengizinkanku kembali ke rumah.
Seandainya bayi ini tidak ada, aku bisa memperbaiki masa depanku.
Seandainya bayi ini tidak pernah ada.
Bukankah begitu? Semua cacian dan teriakan yang diterimanya karena bayi itu bukan? Kebencian orangtuanya, hal buruk yang menimpa sahabatnya, serta bayangan kehancuran masa depannya. Bukankah semuanya karena adanya bayi itu?
Sambil menguatkan diri dan mengatur nafas, Halina berjalan kembali ke kursinya. "Kau butuh seseuatu, Halina?" tanya Nat nampak khawatir. Lagi, Halina hanya menggeleng tanpa suara.
"Kau terlihat pucat. Kau bahkan belum makan apapun sejak kita tinggal landas, which is, sudah beberapa jam. Hell, bahkan sudah hampir setengah hari kita terbang dan kau belum mengunyah apapun disaat kau seharusnya justru makan sebanyak dua porsi."
Banyak hal memenuhi pikirannya sekarang dan makan adalah hal yang terakhir. Pastinya yang terakhir dari yang paling akhir. Halina memang belum tahu dimana mereka akan tinggal selama di Goergia. Atau seperti apakah tempat tinggalnya. Halina bahkan belum tahu sedikitpun, apapun, tentang gambaran kehidupannya begitu tiba disana. Tapi Halina yakin akan satu hal, dia yakin apa yang akan dilakukannya begitu mendarat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Me, Without Love
RomanceMature Content Read at your own risk Sepuluh tahun lalu, Halina Dixon, gadis cantik penurut pujaan banyak pria, dipaksa menghadapi mimpi terburuk bagi kaum wanita. Dia dilecehkan dan diperkosa oleh pria yang dalam tiga bulan akan menjadi kakak iparn...