"Kau siapa?" tanya Halina gugup.
"Seharusnya aku yang tanya! Kau siapa dan apa yang sedang kau lakukan di apartemen pacarku?"balas pria asing itu.
Pacar? Felly?
Butuh beberapa detik sebelum akhirnya Halina menyadari siapa pria di depannya ini. "Apa kau... Jonan?" tanyanya ragu-ragu.
Pria itu terkejut lalu mengamati Halina dari kepala hingga kaki. "Kau kenal aku?"
"Felly sering menyebutmu setiap kali kami bertemu."
"Aaaah. Jadi kau dekat dengan pacarku, begitu?" tanya Jonan sambil mendekat hati-hati. Sikapnya tampak santai, berusaha mengecoh wanita di depannya.
"Aku tahu Felly tidak pernah menyebutkan apapun tentangku. Apa kau datang sendirian?" tanya Halina sambil mengintip di balik Jonan, mencari sosok Felly. "Selama ini dia selalu datang sendirian."
"Felly tidak tahu aku akan datang kemari," kata Jonan. Dengan cepat dia meraih tangan Halina lalu menariknya hingga nyaris terjatuh ke sofa di depan televisi.
Halina tentu saja berteriak. Jonan menarik tubuh Halina hingga bagian belakangnya menghantam bagian depan tubuh kekarnya, lalu dia menahan kedua tangan Halina di perutnya.
"Aku yakin Felly sudah tidak memiliki keluarga atau kerabat jauh. Dia bahkan tidak banyak memiliki teman. Jadi siapa kau, hah?" kata Jonan tajam. Halina gemetar ketakutan.
"Ak-aku... aku temannya. Dia meminjamkan apartemen ini padaku."
"Aku tidak percaya kau temannya!"
"Ka-kalau begitu... telepon saja dia. Dia yang menyuruhku tinggal disini."
"Untuk apa dia meminjamkan apartemennya?"
"Mana kutahu. Tanyakan saja padanya. Kau bisa menghubunginya. Please... kau akan menyakiti kandunganku," ucap Halina.
Saat itulah Jonan sadar bahwa Halina sedang hamil dan kedua tangan yang ditahannya diperut wanita itu terlalu keras menekan kandungannya. Jonan mengendurkan cengkramannya, tapi tidak melepaskan Halina. Janin dalam kandungan Halina bergerak lagi, kali ini membuat Jonan juga merasakannya. Refleks, Jonan melepas Halina dan bergerak menjauh.
"Apa itu tadi?"
Halina beringsut menjauh beberapa meter lalu menghadap Jonan. "Bayiku."
"Dia bergerak?" tanya Jonan sambil menatap perut Halina dengan pandangan takjub.
"Aku bukan orang jahat. Cobalah telepon Felly," ujar Halina.
Jonan akhirnya menghubungi Felly dan gadis itu tiba disana tiga puluh menit kemudian.
"Kenapa kau tidak cerita?" tanya Jonan.
"Karena tidak ada hubungannya denganmu," jawab Felly. Begitu tiba, dia memilih duduk disamping Halina di kursi counter dapur, berseberangan dengan Jonan. Sebuah kue ulang tahun cantik dibiarkan berada di tengah-tengah mereka dengan lilin yang belum dinyalakan.
"Aku bermaksud menunggumu disini dan memberi kejutan," kata Jonan. "Siapa sangka justru akulah yang terkejut!"
"I'm sorry," kata Halina merasa tidak enak.
"Untunglah aku berencana meletakkan kue ini di dapur lalu baru menunggumu naked di kamar," ujar Jonan sambil menatap sebal pada Felly. "Jika aku melakukan sebaliknya, dia mungkin akan menerkamku."
Tiba-tiba Halina merasa menyesal sudah meminta maaf. Dia menatap Jonan dengan pandangan ngeri. Memangnya dia pikir apa yang mampu dilakukan wanita bertubuh kecil dengan perut besar sepertinya?

KAMU SEDANG MEMBACA
Me, Without Love
RomanceMature Content Read at your own risk Sepuluh tahun lalu, Halina Dixon, gadis cantik penurut pujaan banyak pria, dipaksa menghadapi mimpi terburuk bagi kaum wanita. Dia dilecehkan dan diperkosa oleh pria yang dalam tiga bulan akan menjadi kakak iparn...