Chapter 6

66 14 7
                                    

"Kau yakin tidak ikut, sayang?"

Halina membalas pertanyaan lembut ibunya dengan tatapan datar. "No, Mommy. Aku merasa benar-benar tidak enak badan."

"Yah, Darren mengatakannya padaku tadi setelah mengantarmu pulang. Tidakkah sebaiknya kau pergi ke dokter?"

Halina menggeleng lemah. "Aku ingin tidur lebih awal malam ini. Jika besok masih belum membaik, aku akan ke dokter, Mom."

"Baiklah. Karena Sofia sedang pulang ke desanya, Mommy akan minta Natasha libur kerja untuk menjagamu malam ini."

"No, Mommy. Jangan minta Natasha untuk libur. Bukan hal mudah baginya mendapatkan pekerjaan disana. Please..."

"Atau mungkin sebaiknya kau rawat inap saja. Mommy akan menelepon dokter Howard untuk menyiapkan kamar VIP untukmu. Di rumah sakit akan ada dokter dan perawat yang menjagamu, sayang. Mommy juga akan lebih tenang daripada saat tahu kau sendirian dirumah ini hanya dengan beberapa supir."

"Aku tidak apa-paa, Mom. Mungkin setelah tidur nyenyak aku akan baik-baik saja. Tapi jika tidak, akan akan menelepon paman Howard."

"Fine. Kami hanya pergi selama seminggu. Kau bisa menyusul setelah membaik."

Halina memaksakan diri tersenyum membalas kalimat ibunya meski dalam hatinya terasa pilu. Adelia yang selalu merasa lebih baik darinya dalam banyak hal sering menimbulkan masalah bagi orangtuanya. Itulah salah satu alasan Halina menjadi anak penurut dan berusaha mandiri, karena dia tidak ingin menambah beban pikiran bagi orangtuanya. Sayangnya, sikap Halina ini justru membuat orangtuanya berpikir bahwa Halina adalah gadis yang mampu mengatasi segalanya sendiri dan tidak akan menimbulkan masalah. Halina juga tidak pernah menuntut macam-macam. Dia tidak pernah meminta hadiah meskipun Adelia selalu mendapatkan barang apapun yang diinginkan kakaknya itu sebagai hadiah ulang tahun. Halina sendiri hanya memamerkan senyumnya saat menerima hadiah apapun yang diberikan padanya.

Seperti sekarang. Disaat ketika yang diinginkannya adalah agar Mommy tinggal dirumah menemaninya, alih-alih mengatakannya Halina justru hanya tersenyum tanpa mengucapkan apa-apa. Dan seperti yang selalu terjadi, orangtuanya akan selalu mengabulkan apapun permintaan Adelia yang cantik.

Adelia menginginkan mobil sport sebagai hadiah saat ulang tahunnya yang keenambelas tahun, maka Mommy langsung mengajaknya memilih mobil mana yang dia mau. Hell, saat itu Adelia bahkan belum bisa menyetir.

Atau saat Adelia tertangkap sedang one night stand bersama pria yang asal usulnya tidak jelas dan terindikasi terlibat jaringan mafia, Daddy langsung menyiapkan team pengacara dan menyuap media serta memastikan tidak ada satupun saksi yang bicara.

Orangtuanya juga tidak terbiasa berpikir dua kali sebelum menerbangkan Adelia ke Jepang hanya karena gadis itu bilang ingin melihat bunga sakura.

Dan hari ini orangtuanya akan terbang ke Paris bersama keluarga Smith karena Adelia menginginkan gaun pengantinnya dibuat oleh desainer kenamaan yang ada di Paris.

Bukannya membatalkan penerbangan karena Halina sakit, Mommy justru meminta Natasha untuk libur kerja agar ada yang menemaninya. Betapa ironisnya.

Seandainya Sofia berada disini, wanita paruh baya itu pasti tidak akan meninggalkan kamarnya. Dalam beberapa hal, Halina terkadang merasa mendapatkan sosok ibu justru dari Sofia. Dan Natasha? Well, jika ada alat untuk mengukur persaudaraan, maka hasil timbangan Natasha pasti lebih besar daripada Adelia. Jauh lebih besar.

Halina menatap kepergian Mercedes orangtuanya dari balik jendela kamarnya yang tertutup. Senyumnya sudah hilang berganti kesedihan.

Dering telepon membuat Halina berpaling. Nama Natasha terpampang di layar smartphone-nya.

Me, Without LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang