Chapter 31

25 13 1
                                    

"Ce-cemburu?"

Felly mengangguk. "Kurasa kau mulai menyukai suamimu."

Aku? Menyukai Rick?

"Sepertinya kau keliru. Aku bahkan hampir tidak pernah berbicang dengannya selama tinggal bersama."

"Sungguh?" tanya Felly tidak percaya. "Kapan terakhir kali kalian berbicara berduaan?"

"Sudah kubilang aku dan Rick tidak pernah berbicara berdua..an." Ingatan tentang bagaimana tubuh Rick yang hampir telanjang bersentuhan dengan tubuhnya sendiri saat kejadian di dapur beberapa waktu lalu kembali menyeruak, seakan mengejak Halina yang gagal membohongi diri sendiri.

"Aaaaaah," kata Felly sambil tersenyum licik. "Jadi memang pernah ada sesuatu?" lanjut Felly sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya.

"B-bukan begitu."

"Fine. Kalau kau memang yakin aku keliru, mari kita buktikan!"

"Hah?"

"Mulai hari ini aku akan membuatmu menyadarinya. Terus saja menyangkal. Pada akhirnya kau akan tahu bahwa aku benar," kata Felly sambil tersenyum.

Halina tidak mengatakan apapun lagi. Dia hanya terdiam mengikuti Felly kembali ke kamar Jonan.

Apa benar begitu? Well, dulu aku juga merasakan hal seperti ini saat bertatapan dengan Anthonio. Bukankah ini hanya gugup biasa?

'Apa kau selalu gugup saat bertemu pria?' tanya suara dalam kepalanya.

Tidak. Tentu saja tidak. Hanya Anthonio, dulu. Dan sekarang? Rick. Tapi itu bukan berarti aku menyukainya.

'Kau bilang pada Nat bahwa kau menyukai Darren.'

Tidak, tidak. Apa yang kurasakan pada Anthonio berbeda dengan apa yang kukira kurasakan untuk Darren.

'That's it!'

"Kau tidak apa-apa, Halina?" suara Felly menyadarkannya pada kenyataan.

"Oh, yah. Aku... tidak apa-apa."

"Menurutmu mereka sudah menyelesaikan perdebatan tolol tadi?"

Saat itulah Halina sadar mereka sudah dekat dengan kamar Jonan. Panik, Halina berdoa pada Tuhan, memohon supaya Rick sudah pergi dari sana.

"Syukurlah kau kembali," kata Jonan segera setelah pintu terbuka. "Aku tidak ingin kau meninggalkanku berdua saja dengannya. Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu yang akan kau sesali?"

Dan doa Halina tentu saja tidak terkabul.

Felly berdecak. "Memangnya apa yang akan dia lakukan? He can kiss you for all I care!"

"Felly!" teriak Jonan horor. Felly hanya tertawa. "Dokter sudah memeriksamu?"

Karena Jonan yang mendadak sibuk memulai 'silent treatment' atas candaan Felly tidak merespon, Rick berinisiatif menjawab. "Dokter sudah kemari. Dia boleh pulang."

"Oh ya? Kapan?" tanya Felly ceria.

"Sekarang," jawab Rick singkat.

"Baiklah, aku akan mengurus administrasinya dulu," kata Felly semangat.

"Aku akan membuatmu menyesal kalau kau sampai melewati pintu itu, Felly!" kata Jonan. Hilang sudah sikap kekanak-kanakannya. Untuk kedua kalinya, Halina melihat sisi serius seorang Jonan. Tapi Halina tidak lagi terkejut seperti saat pertama kali melihatnya, yaitu saat Jonan mengancam Charlie di ruangan Rick beberapa minggu lalu. Halina menghembuskan napasnya. Waktu adalah permainan hidup yang bisa sama mengerikannya dengan takdir. Rasanya seperti sudah beberapa bulan lamanya, padahal hanya berselang beberapa minggu. Halina terkadang masih merinding membayangkan seperti apa hidupnya jika Jonan dan Rick tidak muncul di hari pernikahannya dengan Darren kala itu.

Me, Without LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang