"Bagaimana kondisinya?"
"Ayahmu masih belum sadar. Dokter sedang memeriksanya. Menurut dokter, benturannya tidak terlalu keras. Semoga saja tidak ada cedera serius. Saat ini ibumu sedang menemaninya."
Rick tampak lega mendengar perkataan Jonan. "Bagaimana denganmu? Kau akan menundanya?"
"Nah, aku tetap akan melakukannya pagi ini. Lagipula ini hanya membutuhkan tanda tangan."
Jonan tidak bersuara. "Jo? Kau masih disana?"
"Ya. Kau sudah bertemu dengannya, Rick?"
Richard spontan menggeleng. Sadar Jonan tidak bisa melihatnya, Rick berujar, "Nope."
"Hei, ibumu baru saja keluar. Kau ingin bicara dengannya?"
"Kurasa aku harus segera turun," kata Richard sambil menatap jam tangannya.
"Fine. Felly masih di kantor polisi untuk mengurus administrasi. Mobil ayahmu sudah dibawa kesana. Setelah memastikan kondisi orang tuamu, mungkin aku akan segera menyusul Felly. I'll call you later."
"Thanks, Jo."
Richard menatap pantulan dirinya sekali lagi melalui cermin besar di kamarnya. Jauh dalam hatinya, Richard merasakan keengganan. Tentu saja bagi pria sejenis dirinya, menikah mungkin tidak pernah terpikir dalam rencana hidupnya.
'Masih belum terlambat untuk pergi', kata sebuah suara di kepalanya.
'Lalu bagaimana dengan Keith Holdings? Kau akan melihatnya runtuh secepat kau berkedip', kata suara lain.
Damn it!
Richard menghela napas, berusaha menenangkan gejolak pikirannya.
Now or never.
Richard langsung bertatapan dengan Charlie setibanya di ruangan di lantai satu tempat 'pernikahannya' akan dilangsungkan.
"Bagaimana orang tuamu?"
Yepp. Tidak ada sapa atau ucapan sederhana sekedar basa-basi atau semacamnya. Benar-benar pria berhati dingin. Yah, setidaknya Richard tidak perlu mengatakan apapun.
"Mereka sudah ditangani dokter."
"Kau ingin menundanya hingga siang nanti?"
Benarkah Charlie yang bicara? Rasanya hampir tidak mungkin dia tiba-tiba menjadi murah hati karena calon besannya tiba-tiba mengalami kecelakaan mobil.
"Tidak perlu. Sebaiknya segera kuselesaikan agar aku bisa segera ke rumah sakit."
Charlie mengangguk. "Good. Seperti yang kuharapkan."
Brengsek. Pria tua ini benar-benar tidak peduli dengan orang lain. Kenapa Tuhan menciptakan seseorang seperti itu? Oke, aku bukan manusia baik. Tapi aku masih memiliki sedikit rasa kemanusiaan.
"Dimana aku harus tanda tangan?"
Kedua alis Charlie bertaut. "Kau tidak ingin menunggu mempelaimu dulu? Istriku sudah memberitahunya untuk segera turun."
Cih!
"Kupikir kita sepakat bahwa pernikahan ini hanya sebatas dokumen?" cibir Richard.
Charlie mendengus. "Fine. Berikan dokumennya," kata Charlie pada seorang pria di dekat Richard. Pria itu menyodorkan sebuah dokumen. Dengan hati berdebar, sepasang mata gelapnya bergerak cepat berusaha menemukan sebuah nama.
Halina Dixon.
Itu dia.
Diam-diam Richard menghembuskan nafas lega karena bukan Adelia Dixon nama yang tercantum disana. Tanpa berpikir, Richard menggerakkan penanya dan beberapa detik kemudian dokumen itu sudah menympan tanda tangannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Me, Without Love
RomanceMature Content Read at your own risk Sepuluh tahun lalu, Halina Dixon, gadis cantik penurut pujaan banyak pria, dipaksa menghadapi mimpi terburuk bagi kaum wanita. Dia dilecehkan dan diperkosa oleh pria yang dalam tiga bulan akan menjadi kakak iparn...