"Kau yakin ini semua sudah cukup, Halina?"
"Actually, ini sudah lebih dari cukup, Felly," Halina menjawab sambal mengamati lagi koper berisi pakaian dari Felly.
"Aku masih merasa sebaiknya kau membeli semua perlengkapanmu sekarang. Kau tahu, selagi kau masih bisa bergerak. Beberapa minggu lagi kau tidak akan bisa melakukannya ketika hari persalinanmu sudah semakin dekat."
"Aku berencana membeli sebagian diantaranya secara online."
"Bagaimana dengan pakaianmu?"
"Kurasa yang kau bawakan untukku sudah cukup, Felly," jawab Halina ramah meskipun dalam hatinya dia heran kenapa Felly memiliki beberapa pakaian big size.
"Maaf karena pakaian-pakaian itu bukan barang baru."
Halina menggeleng cepat. "Aku tidak perlu yang baru. Aku hanya membutuhkannya sebentar."
Lagipula terlalu banyak barang akan menyusahkanku nanti saat harus pindah.
Halina menyembunyikan rasa sedihnya.
"Baiklah. Telepon aku kalau ada hal lain yang kau butuhkan."
Halina tersenyum dan mengangguk.
Sampai kau melahirkan.
Benar, hanya sampai melahirkan. Halina berusaha mengingatkan dirinya bahwa rasa aman dan tenang dalam hidupnya saat ini hanya sementara.
Sudah dua minggu berlalu sejak Rick membawanya kemari. dan Halina masih tetap bersyukur seakan baru kemarin dia nyaris dipaksa berjalan di altar untuk menjadi Mrs. Sullivan.
Felly selalu menemaninya, entah untuk berbelanja atau sekedar sebagai teman berbincang. Dan Jonan? Pria itu selalu menyapa bayinya lebih dulu setiap kali mereka bertemu.
Paman Jonan mungkin satu-satunya pria yang tampak antusias dengan kelahiranmu, kata Halina dalam hati sambil membelai lembut kandungannya. Sayang sekali malam ini Jonan tidak bisa bergabung dalam acara belanja Halina dan Felly.
Pintu apartemen itu terbuka setelah Halina menginput serangkaian kode akses yang diberikan oleh Rick. Halina terkejut menyadari bahwa dia sudah terlalu lama pergi. Sudah lewat pukul sepuluh malam dan dia baru menyesalinya saat rasa letih mulai menyergapnya. Halina melangkah perlahan sambil membawa serta koper yang tadi diberikan oleh Felly. Halina tidak tahu apakah Rick sudah pulang atau belum. Selama dua minggu ini mereka jarang berinteraksi dan hanya bertemu sesekali saat Halina harus mengambil minuman di dapur. Atau saat Felly dan Jonan datang.
"Aah! Rick!"
Suara lenguhan seorang wanita membuat Halina membeku di depan pintu kamar Rick. Dia tidak bermaksud menguping, tapi suara-suara dibalik pintu berwarna gelap itu terdengar cukup jelas. Suara-suara yang membuatnya merasa dejavu. Suara-suara yang didengarnya saat menonton Liana dan Daddy-nya di dapur.
Wajah Halina tiba-tiba memerah. Tidak ingin malu lebih lama lagi, Halina bergegas masuk ke kamarnya.
Dengan hati berdebar karena takut ketahuan, Halina duduk dan menenangkan diri dengan minum segelas air.
Siapa wanita itu? Apa wanita itu wanita berambut coklat yang kemarin? Atau wanita berambut merah yang sebelumnya?
Atau Miranda?
Mengingat Miranda membuat rasa malu yang dia rasakan beberapa saat lalu menghilang. Entah sudah berapa kali Halina dibuat geram oleh sikap Miranda. Wanita itu sering datang secara tiba-tiba. Seringkali ketika malam dan dia akan pergi keesokan harinya. Halina hanya pernah bertemu satu kali dengan Miranda secara tidak sengaja saat dia keluar dari dapur. Begitulah bagaimana Halina bisa bertemu dengan si rambut coklat dan si rambut merah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Me, Without Love
RomanceMature Content Read at your own risk Sepuluh tahun lalu, Halina Dixon, gadis cantik penurut pujaan banyak pria, dipaksa menghadapi mimpi terburuk bagi kaum wanita. Dia dilecehkan dan diperkosa oleh pria yang dalam tiga bulan akan menjadi kakak iparn...