"Aku mau 3 cup!"
"Dua cup aja Mba," ucap Zion sembari mengeluarkan uang dari dompetnya.
Flavia berdecak, Zion tidak pernah mendengarnya. Setelah pesanan siap, Flavia duduk di salah satu meja, berhadapan dengan Zion. Laki-laki ini sudah mengganti baju basketnya dengan kaos hitam polos tapi tidak dengan celana basketnya. Flavia tak berhenti tersenyum sembari menghabiskan es krimnya.
Selesai makan Es krim, mereka berdua langsung pulang. Zion benar-benar menemani Flavia untuk makan es krim saja. Flavia turun dari motor lalu melambaikan tangannya.
"Makasih banyak Kak, Flavia seneng deh bisa makan es krim sama Kakak.
"Sama-sama," Zion menyalakan motornya, "pamit ya."
"Hati-hati!"
"Masuk duluan."
Mendengar itu, Flavia langsung berlari kecil masuk ke dalam rumahnya. Di depan pintu, ia melambaikan tangannya pada Zion yang baru melajukan motornya saat Flavia sudah aman di dalam rumah. Flavia tersenyum lebar, hari ini Zion manis sekali. Semua yang Flavia inginkan Zion kabulkan seolah hari ini adalah hari ulang tahunnya padahal bukan.
Pukul 2 malam, Flavia masih terjaga. Ia membuka buku sketsanya, di sana sudah banyak gambar yang Flavia buat. Tapi yang paling banyak adalah gambar Zion dengan satu raut wajah yang tak pernah berubah, datar. Kali ini tangan Flavia kembali bergerak menggoreskan pensil di atas buku sketsanya, menggambar Zion, lagi. Tapi kali ini dengan ekspresi yang berbeda yaitu tersenyum tipis. Saat menggambar pun, Flavia tidak bisa membayangkan raut wajah Zion saat tersenyum.
Flavia memainkan ponselnya, mengetikkan sesuatu yang mewakili perasaannya malam ini. Walaupun sedikit ragu, Flavia tetap mengirimkan apa yang ia tulis tadi pada kontak yang bernama Calon Pacar❤️❤️❤️.
Flavia: miss you Kakak.
Flavia: :(
Tak ada balasan, membuat Flavia menghembuskan nafasnya kasar. Ia membaringkan tubuhnya sembari berusaha menutup matanya. Tepat saat Flavia sudah berada di alam mimpi, ponselnya berdenting.
Calon Pacar❤️❤️❤️: more.
Namun sedetik kemudian, pesan itu kembali ditarik.
• • •
Flavia berjalan menyusuri koridor, kali ini ia menunduk bukan karna hari ini adalah hari yang buruk, tapi karna ia sedang melihat beberapa lembar sketsa yang ia selesaikan tadi saat melihat Zion sedang bermain basket di lapangan. Flavia jadi tidak bisa berhenti tersenyum.
Hingga ada orang yang menabraknya dengan sengaja, membuat kertasnya terjatuh dan menginjak kertas itu. Flavia memekik dan berjongkok, mengumpulkan semua kertasnya yang terjatuh. Namun saat baru saja ingin berdiri, tubuhnya sudah didorong. Flavia menatap tajam perempuan di hadapannya.
"Jauh-jauh dari Zion atau gue hancurin hidup lo!"
Flavia berdecak. Ternyata keberadaan perempuan gila yang selalu ia baca di novel-novel benar adanya. Bila di novel yang ia baca, sang pangeran selalu datang dan melindungi, kali ini tidak. Zion sama sekali tidak datang. Jadi, Flavia harus menanganinya sendiri.
Setelah mengumpulkan semua kertasnya yang terjatuh, Flavia bangkit dari posisinya, ia menatap perempuan di hadapannya dengan name tag Gladys ini. Flavia mengernyit tipis, perasaan ia sama sekali tidak mengenali perempuan ini. Bahkan ia juga tak pernah melihat Zion berbincang ataupun jalan berdua dengannya. Flavia mengangkat sedikit kepalanya, Flavia tersenyum miring.
KAMU SEDANG MEMBACA
-Z
Fiksi RemajaFlavia suka semua hal yang dingin. Es krim, es batu, kutub utara, hujan, dan juga Zion. ABP series III ; -𝗭 ©2020 by hip-po.
