b a g i a n 9

5.7K 561 32
                                        

Setelah berpelukan di ambang pintu waktu itu, hubungan mereka bukannya tambah dekat tapi malah makin jauh. Zion sudah dua minggu ini melakukan banyak cara untuk menjauh dari Flavia bagaimana pun caranya. Entah itu menyibukan diri dengan basket sampai tak sempat ke gudang belakang, ikut rapat OSIS, pulang cepat dengan alasan yang dibuat-buat dan masih banyak lagi. Flavia tak mau jauh-jauh dari Zion makanya kini ia sedang berlari kecil menghampiri Zion yang sedang berjalan di koridor sendirian.

"Kak Zion!" tubuh Flavia berhenti di depan Zion, menatap Zion kesal, "kenapa sih? Cerita dong sama aku!"

"Pulang sana."

"Anterin," balas Flavia, "aku maunya dianter pulang sama Kakak."

"Gue mau rapat OSIS, pulang sama Vicky."

"Nggak mau," tolak Flavia, "aku tunggu Kakak aja deh. Ya? Aku mau pulang sama Kakak."

Tak ada jawaban dari Zion, ia melewati tubuh Flavia begitu saja, meninggalkan Flavia di belakangnya. Hanya cara ini yang bisa membuat Flavia perlahan menjauh darinya. Zion tak mau Flavia menjadi korban yang selanjutnya.

Zion juga sudah menyuruh Vicky untuk menjemput dan mengantar Flavia setiap hari selama 2 minggu ini. Walaupun sedikit tidak terima karna Flavia diantar oleh laki-laki lain, tapi ini satu-satunya cara agar Flavia aman. Flavia juga sering menolak ajakan pulang bersama dari Vicky.

Karna perempuan itu tau, Zion yang menyuruh Vicky. Hal itu membuat Zion harus mengikuti angkutan umum yang Flavia naiki dan pulang setelah Flavia masuk ke dalam rumah, seperti biasanya.

Di sisi lain, Flavia yang melihat punggung Zion menjauh hanya biasa berdecak kesal. Sudah 2 hari Flavia melakukan percobaan untuk sama sekali tidak melihat wajah Zion. Tapi percobaan itu selalu gagal karna tubuhnya merespon lain, tubuhnya buru-buru menghampiri Zion ketika melihat laki-laki itu melintasi koridor.

Dengan tas yang berada di punggungnya, Flavia berjalan lambat menuju gudang belakang ingin menghampiri Vicky. Namun saat melintasi perpustakaan, lengannya ditarik dari dalam, membuat tubuh Flavia hampir terjungkal bila tidak ada tembok di belakangnya.

"Lo lagi, lo lagi! Bosen tau!" Flavia mendengus melihat wajah Gladys yang terlihat mengerikan. Walaupun selalu mengerikan, tapi kali ini lebih mengerikan.

Jujurj, Flavia sangat takut bila berurusan dengan Gladys, ibarat film IT, Gladys bisa diibaratkan sebagai Penywise, tanpa balon pastinya. Kali ini, perempuan itu mengeluarkan silet dari saku bajunya membuat Flavia membulatkan matanya lebar.

"Mau apa lo?!" pekik Flavia panik.

Gladys menarik paksa tangan kanan Flavia, menaruh silet itu di sana. "Pake ini, potong urat nadi lo sendiri."

"Hah? Ngapain? Lo kira gue gila kayak lo? Nggak mau!"

Gladys menggeram, dibilangi gila oleh adik kelasnya sendiri, membuat harga dirinya seperti terinjak-injak. Gladys menutup tangan kanan Flavia menggunakan tangan kanannya, setelah menaruh silet itu di sana yang akhirnya membuat telapak tangan Flavia teriris oleh benda tajam itu. Flavia langsung berteriak histeris ketika darah keluar dari sana, rasa perih menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuhnya.

Tangan kiri Gladys, ia gunakan untuk menutup mulut Flavia. Flavia memejamkan matanya erat ketika silet itu semakin menusuk ke telapak tangannya. Air mata Flavia mengalir di pipinya, matanya masih menatap telapak tangannya dengan darah yang menetes ke lantai perpustakaan. Tubuh Flavia meronta, tapi tubuh Gladys yang lebih besar bisa menahan tubuhnya lebih kuat.

Dari luar perpustakaan, ada Aurel yang melintas, mencari keberadaan Flavia yang setaunya melintas ke arah sini. Mendengar teriakan yang tertahan di dalam perpustakaan, Aurel langsung mengintip dan mendapati Gladys sedang mengenggam tangan Flavia, dengan darah yang tak henti-hentinya menetes.

-ZCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang