Hari ini Flavia sangat amat senang. Bukan tanpa alasan. Kemarin malam saat Zion mengantarnya pulang, Zion sempat menahannya dan dengan ragu mengajaknya untuk nonton bersama. Flavia sendiri terkejut mendengar hal itu keluar dari mulut Zion. Pastinya, Flavia tidak menolak.
Karna Zion ada keperluan sebentar, jadi Zion menyuruh El menjemputnya. Flavia duduk di kursi tunggu sembari tersenyum senang menatap dua tiket nonton yang sudah berada di tangannya setelah ia cetak menjadi tiket fisik ini. Flavia memesan es coklat untuk menemaninya menunggu Zion agar ia tak bosan nantinya. El langsung pulang begitu Flavia menyuruhnya untuk pulang tadi. Abisan kalau tidak, mungkin El akan berada disini bersamanya sampai sekarang.
Di sisi lain, Zion yang baru saja pulang dari rumah barunya, langsung menancapkan gasnya menuju salah satu Mall terbesar di sana. Zion berlari kecil menuju tempat nonton yang berada di sana. Dari pintu kaca, Zion bisa melihat Flavia sudah menunggu sembari memainkan ponselnya.
Senyum Zion merekah, melihat Flavia sangat cantik mengenakan balutan gaun berwarna putih itu. Namun senyumnya langsung luntur ketika melihat seseorang yang sangat amat ia kenali. Gladys. Zion membulatkan matanya, bisa kacau bila perempuan gila itu melihat Flavia berada di sana.
Seperti tau apa yang Zion rasakan, Flavia menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya, hingga Gladys melewati Flavia dan duduk di 2 kursi belakang Flavia. Buru-buru Zion menelfon El.
"Kenapa Yon? Flavia udah sejam yang lalu di sana."
"Lo balik lagi," ucap Zion, "bawa Flavia pulang sekarang."
"Loh? Kenapa? Bukannya—"
Sambungan terputus. Zion sama sekali tidak berani menghubungi Flavia, takut Gladys menyadari keberadaannya di sana. Jantung Zion berdebar kencang melihat Gladys yang berada tak jauh dari Flavia-nya.
Tak lama setelah itu, El datang dan langsung menghampiri Flavia, pergi dari sana tanpa membuat siapa pun curiga. Sepanjang mereka berjalan menuju parkiran, Flavia selalu menanyakan hal yang sama.m tapi lagi-lagi El tidak menjawab. Di mobil, Flavia menatap El meminta penjelasan.
"Kenapa lagi Kak? Kenapa Kak Zion nggak dateng?"
El hanya diam, membuat Flavia semakin bingung. "Kak Zion cuma mainin gue ya?"
"Nggak gitu Vi. Lo nggak boleh bilang kayak gitu," El berusaha menepis pikiran buruk Flavia tentang Zion.
"Trus kenapa?! Dia terlalu misterius, setiap teka-tekinya, gue sama sekali nggak bisa nyelesaiin."
"Zion itu rumit Vi," hanya itu yang bisa keluar dari mulut El, "lo tau itu kan?"
Air mata Flavia mulai menetes. "Iya Kak gue tau, tapi seenggaknya biarin gue nyelesaiin teka-tekinya dia. Di sama sekali nggak ngasih gue kesempatan."
Selanjutnya, El kembali diam. Ia memberikan waktu pada Flavia untuk menelan semua kejadian hari ini. Bahkan ia sendiri pun tak tau kenapa Zion memintanya untuk kembali menjemput Flavia setelah mereka tinggal masuk ke dalam bioskop untuk film yang dimulai sepuluh menit lagi. El tau, Flavia pasti marah tapi ia sendiri pun juga tak tau harus menjelaskan apa pada perempuan itu.
Mobil El berhenti tepat di depan rumah Flavia. Saat Flavia masih berusaha menghapus air mata yang mengalir di pipinya sebelum turun dari mobil, El sudah lebih dulu keluar dari sana. Tak lama kemudian, pintu mobil kembali di tutup setelah El kembali masuk.
"Makasih ya Ka—" ucapan Flavia terpotong saat ia berbalik dan bukan El yang ia dapati.
"Flavia," panggilnya pelan membuat Flavia menatapnya tidak suka, "maaf ya kita nggak jadi nonton."
KAMU SEDANG MEMBACA
-Z
Teen FictionFlavia suka semua hal yang dingin. Es krim, es batu, kutub utara, hujan, dan juga Zion. ABP series III ; -𝗭 ©2020 by hip-po.
