Setelah melihat kejadian tadi, Aurel langsung berlari menuju UKS, tempat Flavia berada sekarang. Saat hendak mengambil tas Flavia di kelas tadi, Aurel melihat kelas William yang dikerumuni oleh banyak orang. Perasaannya memang sudah yakin bahwa Zion tak akan tinggal diam setelah mendengar kabar itu nanti. Dan benar saja, di depan kelas yang pintunya terbuka lebar, di dalam sudah ada Zion dan teman-temannya.
Aurel duduk di kursi depan Flavia. Sementara Flavia yang melihat raut wajah Aurel berubah langsung mengernyit. "Kenapa Rel? Kak Beling dikeluarin dari sekolah?"
"Ini lebih parah."
Sementara di sisi lain, Zion duduk di depan kepala sekolah, di sampingnya sudah ada Laura yang berkali-kali menenangkan Zion. Bahkan Zion menelfon Laura untuk menjadi walinya karna ia takut Abangnya akan ikut-ikutan menghajarnya. Zion menjelaskan semuanya dengan nada yang tenang, bahkan makian dari orang tua William tidak berhasil membuatnya kembali emosi.
Hingga setengah jam lamanya, keputusan telah diambil. Dari masalah William dan Beling, dinyatakan William yang sepenuhnya salah. Dan dari masalah Willian dan Zion, William juga dinyatakan bersalah. Tapi bukan berarti Zion dan Beling aman-aman saja, mereka berdua juga tetap dihukum.
Zion diskors selama 2 hari dan Beling sendiri 5 hari. Setelah itu, mereka berdua keluar dari ruangan kepala sekolah. Zion memeluk Laura erat, mengucapkan terima kasih lalu menyuruh perempuan itu pulang dan berhati-hati.
Langkah Zion terhenti di depan pintu UKS, ia menghembuskan nafasnya lalu membuka pintu itu. Matanya langsung bertemu dengan Flavia yang sedang duduk di ranjang dengan air mata yang mengalir di pipinya. Flavia turun dari ranjang, berlari menghampiri Zion, memeluk laki-laki itu erat.
Aurel sendiri yang sedari tadi menahan Flavia agar tidak menyusul ke ruangan kepala sekolah, keluar dari UKS, menutup pintu dengan lembut.
Flavia mengeluarkan semua air matanya di pelukan Zion. Zion sendiri hanya bisa membalas pelukan itu, mengusap kepala Flavia lembut, menenangkan perempuannya. "It's okay," ucap Zion lembut, "maaf ya gue nggak langsung kesini tadi."
Detik selanjutnya, Flavia melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Zion yang terluka di bagian ujung bibirnya. "Kakak berantem? Kakak mukulin dia?"
"Iya."
"Kenapa harus berantem? Padahal aku nggak pa-pa. Tamparan Kak William nggak keras, dia juga nggak sengaja."
"Sengaja atau nggak, gue akan tetep mukulin dia kalo dia sentuh lo."
"Nggak harus berantem!" ucap Flavia, "gimana kalo Kakak dipecat dari OSIS? Gimana kalo Kakak dikeluarin dari sekolah?"
"Itu urusan gue. Lagian siapa cowok yang diem aja setelah tau pacarnya ditampar cowok lain?" ucap Zion pelan. Flavia tak menjawab, ia mengambil tas Flavia yang berada di kursi, "ayo gue anter pulang."
"Kak Zion kan yang nganterin?" tanyanya dengan suara serak.
"Iya."
Sesampainya di rumah Flavia, Flavia mati-matian menahan tubuh Zion untuk memasuki rumahnya. Tapi, sekali lagi, Zion laki-laki dan pasti tenaganya lebih besar daripada Flavia. Tidak mungkin Zion lari dari tanggung jawabnya dan memilih untuk berlindung di balik punggung Flavia. Zion akan menerima semua akibat dari perbuatannya.
"Siang Tante—"
Belum sempat Zion menyelesaikan kalimatnya, Sari sudah membentak Zion saat melihat kondisi Putrinya. "Kamu lagi! Ada apa lagi sekarang? Setiap Flavia diantar sama kamu, pasti selalu kenapa-napa!"
Pundak Zion langsung turun, ia menundukkan sedikit kepalanya, merasa sangat bersalah. Ucapan Sari tadi ada benarnya. Flavia selalu kenapa-napa setiap bersamanya. "Maaf Tante. Ini yang terakhir, saya janji."
KAMU SEDANG MEMBACA
-Z
Fiksi RemajaFlavia suka semua hal yang dingin. Es krim, es batu, kutub utara, hujan, dan juga Zion. ABP series III ; -𝗭 ©2020 by hip-po.
