8

531 17 2
                                    

Fani bukanlah anak yang super duper pandai atau punya kemampuan otak lebih di atas rata rata. Bukan. Fani hanyalah seorang gadis biasa yang kadang nge-leg alias lola mikir,ceroboh juga pelupa.

Fani menyadari hal itu. Itu yang membuat Fani berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai bagus dari hasil kerja kerasnya, yaitu dengan cara belajar.

Itu yang membuat teman-teman Fani menyukainya. Mereka sering menyebut Fani si anak titisan para ilmuwan, so? Fani sangat tekun dalam hal pelajaran meskipun ram otaknya pas pasan. Padahal jika di bandingkan dengan El, Fani masih sangat jauh tertinggal. Karena Fani tau El punya kemampuan IQ tinggi. Mangkanya El yang tadinya kelas IPS mendadak di pindahkan ke kelas IPA.

__________________________

Fan?
P
P
Apa?

Liat dung?

ENGGAK!

Beb ih
* Emoticon mual *

Engga Efrans guanteng-_

Cie di sbt gnteng hhi
* Emoticon ngakak *

-_-

Besok gue ke meja lo.
_________________________________

[Itu chat dari Efrans ya]

Fani tak habis fikir apa maksud Efrans seperti itu,jujur saja dengan tingkah Efrans yang selalu membuatnya gila, Fani selalu berfikir apa ia harus baper akan semua yang Efrans lakukan padanya.

Seperti nya tidak. Karena Fani sangat tau bagaimana sifat Efrans kepada cewe. Dia gak pernah mau mainin perasaan cewe tapi dia juga sangat sulit untuk menyukai cewe. Dia selalu bersifat dingin,tidak peduli dan dia sangat anti jika anggota badannya tersentuh oleh cewe baik itu sengaja ataupun tidak.

Entahlah. Tapi mengapa kepada Fani Efrans malah seperti sebaliknya.

****
Seperti biasanya Fani sudah stand by di halte. Saat Fani baru saja duduk,tiba tiba Dafa menghampirinya dan mengajaknya untuk bareng berangkat ke sekolah bersamanya.

Fani sangat merasa tidak enak jika harus menolak kembali ajakan dari Dafa. Namun Fani juga tidak mau jika Dafa harus menyimpang terlebih dulu untuk mengantarkan Fani ke sekolah.

Akhirnya Dafa berhasil membujuk Fani. Fani bersedia di antaranya ke sekolah. Ya walaupun itu sangat sangat membuat Fani merasa tidak enak. Dafa selalu enggan untuk Fani bayar.

Sesampainya Fani di depan gerbang Fani segera turun dari motor Dafa. Dan Dafa langsung berpamitan untuk pergi dan segera putar balik menuju arah sekolahannya.

Ternyata di situ ada Efrans yang sedang membeli bubur mang Sobri yang letaknya tepat sekali di samping gerbang.

"Cie di anterin pacar" ujar Efrans dengan tatapan sinisnya.

"Ye apaan sih? Sirik mulu deh jadi orang" Fani menjawab pertanyaan Efrans lalu Fani pun bergegas untuk pergi menuju kelasnya.

Ternyata baru hanya ada satu tas ransel dan itu milik Efrans. Padahal jam segini biasanya sudah ramai di kelas. El pun tidak biasanya berangkat siang.

Fani duduk sambil mengambil handphonenya di dalam tas dan segera menghubungi El yang masih saja belum sampai di kelas.

"Fan geser dong" Efrans yang tiba tiba saja datang dengan sekotak buburnya dan meminta Fani untuk geser dari tempat duduknya.

"Ih apaan! Tempat duduk gue ini " Fani memprotes Efrans yang mengganggu kenikmatan nya.

"Tinggal geser ke kursi si El apa susahnya sih?" Efrans lagi lagi memaksa Fani untuk pindah. Fani pun pasrah dan langsung pindah ke kursi di sampingnya.

"Ngapain si lo di sini? Kursi lo juga kosong!" Fani mencerca Efrans yang mengganggunya.

"Ya karena kosong gue jadi ke sini jadi biar ada temennya" Efrans mengeles.

Tanpa bisa mencegah Efrans, Fani hanya mampu terdiam dan matanya terus tertuju kepada layar handphone nya yang sedang menunggu kabar dari sahabatnya ini.

"Mau gak lo?" Efrans menawarkan bubur yang sedang di makannya. Fani pun hanya menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak mau.

"Tumben lo berangkat pagi" Fani menanyakan kejanggalan yang terdapat pada diri Efrans.

Efrans yang sedang makan pun menghentikan kunyahannya dan berbalik badan menatap wajah Fani. Efrans menghela nafas sekejap dan menjawab pernyataan fani.

"Yaelah Fan Fan. Gue berangkat pagi salah! Siang juga salah! Emang yah gue di mata lo gak pernah ada benernya" Efrans menggelengkan kepalanya dan melanjutkan makanannya.

Fani yang sedari tadi menatap mata Efrans pun hanya mampu tersenyum menceng mendengar jawaban yang keluar dari mulut Efrans.

'emang yah anak ini jago banget bikin gue baper' Fani membatin.

Saat Efrans akan menghabiskan sesendok terakhir buburnya. Ternyata El tiba tiba menjerit histeris dari pintu seperti sedang melihat artis Korea.

"Aaaaaaa tidaaaaaaaak.....cie berduaan" El mencubit pipi Fani sampai agak memerah.

"Udah ah Fan buburnya mau gue buang. Males udah gak nafsu ada si El mah" Efrans langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan kotak bubur bekas yang baru selesai ia makan.

"Cie langsung pindah" El terus saja meledek Efrans. Dan tanpa keberatan Efrans sangat santai menikmati ledekan dari El.

Fani hanya heran dengan sikap Efrans yang baru baru ini sering mendekati nya. Biasanya Efrans jika di ledek seperti itu dia akan marah dan segera menutup rapat bibir orang yang meledeknya. Namun ini tidak?. Entahlah hanya Alloh yang tau maksud dari seorang Efrans.

Fani langsung membawa kotak bekas makan Efrans untuk di buang ke luar. Namun saat melewati meja Efrans, Fani sangat sayang melihat satu sendok bubur itu akan terbuang sia sia.

Tanpa pikir panjang Fani langsung mengambil​ sendok yang berisi bubur itu dan memanggil Efrans.

"Pan aaaa coba" ucap Fani yang akan menyuapkan sesendok bubur terakhir itu kepada Efrans.

Efrans pun tanpa keberadaan langsung membukakan mulutnya dan menerima sesendok bubur terakhir miliknya itu.

El langsung tertawa dan bersorak "cie cie" kembali untuk mereka berdua.

Fani yang tak menghiraukan nya pun langsung membuang sampah ke luar dan kembali dengan wajah yang biasa saja.

Tapi dalam hati Fani ia sangatlah malu,ia harus melakukan hal yang tak pernah ia lakukan sekalipun kepada sahabatnya. Hanya baru Efrans seorang yang merasakan suapan yang di berikan dari seorang Fani.

Entahlah rasanya Fani bener bener kembali membuka hatinya untuk Efrans. Setelah sekian lama ia menutup hatinya rapat rapat.

****

Efrans kembali menuju meja Fani dan El. Sembari membawa buku pelajaran bahasa Inggris. Fani sudah tau kemana arah Efrans akan berhenti.

Efrans yang segera mengusir El untuk duduk di belakang pun akhirnya di turuti oleh El. Fani masih saja terdiam melihat Efrans yang sudah ada di sampingnya.

Keinginan yang sangat kuat untuk tidak memberikan contekan kepada Efrans pun gagal dengan cepat. Fani tak kuasa menyembunyikan bukunya dari Efrans. Dan akhirnya Efrans sukses mencontek kerjaan Fani. Dengan catatan tidak boleh di beritahukan kepada siapapun termasuk geng nya.

Y/n: aduh gemana kalo kalian yang ada di posis Fani? Apakah kalian akan tetap diam dan angkuh untuk tidak memberikan contekan Kepada orang yang kalian suka? Tq lah udah mau baca. Semoga suka ya ^^

jealousTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang