"Yu Fan pulang,keburu ujan nih" Goldan langsung menyalakan motornya.
"Guys gue pulang duluan yah" Fani berpamitan kepada semua orang yang masih berada di teras rumah Adel.
"Ati ati Fan,Dan"
Jauh jarak yang di tempuh dari rumah Adel menuju rumah Fani. Apalagi jalanan di dekat rumah adel sering sekali macet karena letak rumahnya yang dekat sekali dengan pusat perbelanjaan besar.
"Sorry Fan,gue gak kasih lo helm" Goldan membuka pembicaraan pertama. Fani hanya diam dan tersenyum ke arah kaca spion motor Goldan.
"Sorry juga gue lancang ngajak lo pulang di depan Efrans. Tapi tenang ntar gue jelasin ko ke si Efrans" ucapnya kembali.
Fani mendehemkan suaranya,"gak papa Ned. Gue yang harusnya makasih ama lo,lo udah mau anterin gue" ujar Fani dengan suara yang serak seperti ingin menangis.
"Suara lo...?" Tanya Goldan yang di penuhu tanda tanya."Lo mau nangis ya?" Tanyanya kembali.
"Eh enggak. Gue emang lagi batuk jadi kaya gini" elak Fani agar Goldan tidak mengintrogasi nya lebih panjang lagi.
"Oh" ucap Goldan singkat
'kenapa gue selalu pengen nangis kalo kaya gini'
'apa sih salah gue Nay ke elo? Gue tau lo suka sama Efrans! Tapi lo gak bisa kaya gini. Lo tau gue suka sama dia Nay lo tau'
'Tapi kalo lo emang suka,gue bisa ngalah demi lo. Gue coba ngikhlasin orang yang selama ini gue kejar membiarkan ia lepas kembali.'
'Demi seorang sahabat,apasih yang nggak'
Fani mengoceh dalam hati tentang kejadian tadi. Rasanya ia tak percaya harus bersaing dengan sahabatnya sendiri. Cemburu? Jelas itu yang sedang Fani rasakan. Tapi protespun Fani sadar,ia bukanlah orang spesial di dalam hidup Efrans.
"Woy"
"Heh"
"Mak lampir?"
"Ni cewe telinganya mempet deh"
"HEH"
"FANI KARINA IRZA!!!!"Seruan terakhir Goldan menyadarkan Fani dari lamunannya. Dan ia baru menyadari bahwa rintikan air hujan mulai membasahinya.
"Goldan!!! Hujan!!!" Ucap Fani dengan suara keras.
"Iya conge! Gue udah menggil manggil lo dari tadi tapi lo nya nggak nyaut!" Goldan mengencangkan suaranya agar terdengar jelas oleh Fani karena hujan yang semakin lebat.
"Terus gemana dong?"
"Ya lo maunya gemana? Mau berteduh apa ujan ujanan?"
"Hah?"
"Mau berhenti apa ujan ujanan?"
"Hah apaan si?"
Seketika itu Goldan langsung memberhentikan motornya ke pinggir trotoar jalan. Goldan langsung turun membuka helmnya dan menatap kesal wajah Fani.
"Lo mau berteduh apa mau ujan ujanan budeg!!!" Goldan sedikit membentak Fani dengan suara keras. Namun karena dalam keadaan hujan seperti ini membuat Fani berfikir itu hanyalah suara Goldan biasa yang di keraskan sedikit.
Fani hanya senyum mringis."Oh...udah tanggung basah,ujan ujanan aja" jawab Fani enteng.
Jawaban Fani itu cukup membuat Goldan geram. Dan Goldan pun hanya menunjukkan deretan giginya kepada Fani.
"Ngapa lo? Menggigil?" Tanya Fani sinis.
"Tau ah" Goldan langsung menyalakan motornya dan kembali melajukan motor matic nya ini.
Jarak rumah Fani masih jauh,apalagi ia harus merasaman macetnya jalanan ibu kota. Rasanya ia ingin berlari dari kemacetan yang sudah tidak aneh ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
jealous
Teen FictionPria berdarah dingin sedingin es balok,dan ia pria cuek se jagat raya. Pria ter anti terhadap wanita dengan sifatnya yang sedikit posesif dan pencemburu, efrans. Mengapa efrans bisa menyukai wanita yang satu ini. Karena wanita yang satu ini menurut...