MALAM yang TERTUNDA (15)
💖💖💖
Awalnya, kupikir, cinta itu saat merasakan debar di dada ketika bersamanya. Merasakan kerinduan yang mendalam walau hanya sehari saja tak jumpa. Merasa tak rela saat dia bercanda dengan wanita di luar sana. Atau hal-hal sederhana lainnya yang membuat hati berbunga.
Nyatanya, perasaan itu bisa dirasakan siapa saja. Bisa dibilang, hanya kekaguman semata.
Berbeda dengan cinta.
Cinta yang sesungguhnya itu ketika kita kecewa dan terluka karenanya, tapi sama sekali tak mampu membencinya.
Ya, aku mencintainya. Teramat dalam malah. Tak peduli, jika cintaku tak terbalaskan. Tak peduli, jika di hatinya hanya ada wanita lain.
Aku mencintainya. Tak peduli, meski dia menerimaku karena keterpaksaan atau bahkan karena kasihan.
Aku mencintainya. Maka kubiarkan dia tetap dengan hatinya yang mencintai wanita lain. Dan aku tetap dengan hatiku yang mencintainya.
Sakit? Ya, tentu saja. Tapi jika memaksa hatinya untuk mencintaiku, kurasa itu justru akan jauh lebih menyakitkan. Karena semua itu, hanya akan berakhir sia-sia. Persoalan hati, bukankah tidak bisa dipaksakan?
Aku mencintainya. Itu cukup. Dengan atau tanpa balasan. Biarlah semua mengalir apa adanya. Karena bagiku, cinta itu bukan memikirkan kebahagiaan hati sendiri, tapi lebih memikirkan kebahagiaan hati orang yang dicintai.
Air mataku berderai menatap wajah yang terlelap di sampingku. Wajah yang selama bertahun-tahun kubayangkan dalam penantian. Seperti apa, rupa lelaki yang akan menemani tidurku, menghiasi hari-hariku.
Ketika sekarang Allah telah mempertemukan dan memperlihatkan, haruskah aku mengeluh dan marah karena tak sesuai yang kuinginkan?
Lelaki yang Allah takdirkan untukku ini adalah lelaki yang terbaik, aku yakin itu. Bukankah dia yang sejak kemarin menemaniku periksa ke dokter kandungan. Membuatkanku makanan sehat atau membelikan sesuatu yang kuinginkan. Menyuapi dan merayu agar aku mau makan walau beberapa suap saja. Mengelus punggung dan memeluk ketika aku lemas karena memuntahkan semua makanan.
Dia lelaki baik. Sangat baik malah. Lelaki bertanggung jawab. Lalu apa yang kurang? Apa yang aku tangisi sekarang?
Hanya persoalan hati dan cinta. Aku tersenyum miris.
Sekarang, kuikhlaskan baktiku padanya. Tetap melakukan tugas dan kewajiban seorang istri pada semestinya. Urusan cinta, kuserahkan semua pada Sang Pemilik Hati. Yang Maha membolak-balikkan hati manusia.
Kepalaku terangkat lalu mendekat ke wajah Mas Aksa. Mengecup pelan pipinya lalu berbisik lirih, "Aku mencintamu, Mas."
***
Aroma roti selai strawberry, pisang, susu cokelat, menguar saat kupanggang. Sambil menunggu, aku menyiapkan segelas susu cokelat untuk Mas Aksa. Aku sendiri, memilih membuat teh hangat saja.
"Sarapan sudah siap!" seruku pada Mas Aksa yang baru saja pulang dari sholat Subuh seperti biasa di mushola terdekat.
"Lho, kan aku udah bilang, Dek. Nanti biar aku aja yang bikin." Mas Aksa melangkah mendekat ke meja makan.
"Cuma bikin sarapan roti aja. Bukan ngangkat galon kok."
Mas Aksa tertawa. Mengusap rambutku lalu duduk di kursi meja makan. "Tadi aku ada tanya-tanya sama warga di mushola."
"Apa?" Dahiku mengernyit.
"Orang yang bisa bantu-bantu bersih-bersih rumah."
"Hm? Buat apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MALAM yang TERTUNDA
Ficción GeneralCerita tentang Inaya, gadis yang baru saja menyandang status istri dari dr. Aksa Arjuna. Romance, Drama, Komedi, Action. Baca saja selengkapnya, part satu pasti langsug jatuh cinta😘
