19. I lost him

66 4 45
                                        

Langitku, pergi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Langitku, pergi.

—🌛🌛🌛—

Aku bertemu Deri sekitar jam sepuluh di dekat penjara, disana ada lapangan untuk anak-anak komplek bermain bola kalau sore. Tapi kalau malam keadaannya sepi, tapi masih terang. Pos satpam sudah tutup, tapi lapangannya terbuka umum.

Ntah kenapa aku janjian disini dengan Deri, dia bilang ingin mengobrol sesuatu. Aku memantapkan diriku saat ingin menemuinya, aku punya firasat buruk.

Aku berdiri dihadapannya sekarang, dia memasukkan tangannya kedalam kantong hoodienya, karna malam itu dingin. Tapi tanganku sedari tadi hanya mengepal, aku takut.

Dia tidak bicara sedari tadi, padahal aku sudah ada di depannya, "Kangen." Ucapku, jujur, aku sangat merindukannya, setiap hari.

"Iya aku juga." Ucapnya kaku.

"Baguslah, ga rindu sendiri." Ucapku sambil tersenyum kecil, berusaha mencairkan suasana malam itu.

"Iya ga rindu sendiri."

"Iya der."

"Iya kan."

"Peluk boleh?"

"Iya boleh."

Aku memeluknya, "Astaga aku kangen banget." Ucapku sambil memejamkan mata. Apakah benar, seorang yang sedang kupeluk adalah deriku? Aku berharap benar.

"Iya aku juga." Dia balik memelukku. Tidak ada kehangatan dalam pelukan malam itu. Yang ada malah semakin beku.

"Masa?"

"Iya."

"Kamu kenapa? Sakit?"

"Ga kenapa-napa, sehat."

"Kirain."

"Ga sakit."

"Kaya beda aja."

"Beda gimana?"

"Perasaan aku aja."

"Perasaan gimana? Jelasin dulu."

"Engga der, perasaan aku aja."

"Kenapa mikir gitu?"

"Takut." Ucapku tiba-tiba. Hanya itu yang terlintas dalam fikiranku. Dari kemarin.

"Takut apa? Aku nanya apa di jawab apa."

"Takut kehilangan kamu."

"Kamu bisa sayang, tapi jangan berlebihan kaya gini. Gabaik Nis." Berlebihan katanya? Bagaimana tidak berlebihan kalau selama bersamanya aku selalu diterbangkan, dan dia bilang berlebihan saat aku takut kehilangannya?

Kufikir dia juga takut kehilanganku, mungkin aku salah, aku yang terlalu berlebihan katanya. Menyebalkan.

"Iya maaf." Ucapku sambil melepaskan pelukan itu. Pelukan paling dingin yang pernah dia berikan.

[END] My Home. Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang